fanfictions

Your Eyes

Annyeong ^^ ini FF aku persembahkan buat onnie aku tercinta /plak yang sedang berulang tahun tanggal 11 Desember kemaren, miane baru dipost habis kemaren inet lola bangeeet-____- Saengil Chukhaeyo onnie😀

Main Cast :
– Fara Nabila as Lee Hara
– Kim Ryeowook
– Lee Sungmin as Hara’s elder brother

Genre : Sad Romance / Het / Tragedy
Rating : G
Length : Oneshoot
Part : 1 [1/1]
Disclaimer : Lee Hara as herself , Kim Ryeowook and Lee Sungmin as himself

***

Lee Hara POV

Prank!!

Aku memunguti pecahan piring yang dilempar olehnya. Aku menghela nafas. Aku harus bersabar, demi dirinya yang sedang duduk diatas kursi roda. Dirinya yang tidak dapat melihat indahnya dunia. Semua demi dirinya aku harus bersabar.
“ aku tidak butuh makan, pergi kau ! “
Aku tersenyum manis walau yakin ia tak akan dapat melihatku. Gelap. Hanya itu yang menjadi temannya selama ini. Namun aku berusaha menghilangkan fikiran-fikiran buruk itu dalam fikirannya. Fikiran seorang namja yang berhasil menucuri seluruh hatiku, Kim Ryeowook.
“ Ryeowook-ssi, makanlah, kalau tidak makan kau bisa sakit… “ bujukku
“ lebih baik aku sakit dan mati daripada aku tidak akan bisa jalan dan melihat seperti ini, kau pergi sekarang aku tidak mau diriku yang payah dan tidak berguna ini dikasihani olehmu “
“ aku tidak mengasihanimu… aku hanya ingin menunjukkan kesetiaanku sebagai sahabatmu… “
Memang aku dan dia bersahabat sejak dulu dan aku tau.., dulu dia tidak begini. Dulu dia amat baik terhadapku. Namun setelah kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya dan nyaris merenggut nyawanya, merenggut kakinya, merenggut matanya dan merenggut kebahagiaannya telah membuatnya menjadi seperti ini.
“ jangan berpura-pura setia kawan denganku, lebih baik kau pergi jika tidak mau kau bernasib sama denganku “
“ aku tidak peduli, jika aku bernasib sama sepertimu dapat membuatmu bahagia aku akan dengan senang hati melakukannya “
Ia terdiam. Entah aku juga tidak tau. Kenapa dia ? apa aku ada salah bicara. Ia menundukkan kepalanya. Aku tak dapat melihat raut mukanya saat ini. Ia kenapa sih ?
“ Hara-ssi… jangan sampai kau benasib sama denganku… “
Aku menggenggam tangannya, “ Ryeowook-ssi, apa keinginanmu saat ini ? apa sebenarnya ? jika itu tercapai apakah kau akan bahagia seperti dulu lagi ? “
“ aku ingin melihat. Hanya itu, dan aku akan sangat bersyukur jika sudah dapat melihat lagi… “
“ wae ? “
“ aku hanya ingin melihat sesuatu yang benar-benar ingin ku lihat sewaktu aku tersadar dari kecelakaan tragis itu, aku merindukan sesuatu itu… aku berusaha keras agar gambaran tentang sesuatu itu tidak terhapus dari ingatanku, namun aku merasa sia-sia.. sedikit demi sedikit aku sudah melupakan sesuatu itu… “ sebulir air mata jatuh dan mengenai punggung tanganku.
“ kau benar-benar ingin melihat lagi ? “
Ia mengangguk kecil, “ walau aku tidak yakin, aku tetap ingin melihat lagi “
“ akan kucarikan pendonor mata yang cocok untukmu “

***

Sudah berminggu-minggu aku berkeliling rumah sakit untuk mencari pendonor mata yang baik untuk Ryeowook. Namun sia-sia. Semua nihil. Namun aku tidak pantang menyerah, aku terus mencari. Aku ingin melihat senyum Ryeowook lagi. Aku harus berusaha keras, demi senyum Ryeowook. Senyum yang aku rindukan…
“ huaaah !! Susah sekali !! “ teriakku kesal.
“ Hara-ah… “
Aku menoleh dan mendapati Sungmin, oppaku, sedang menatapku khawatir. Aku menatapnya bingung.
“ waeyo oppa ? “
Ia duduk disampingku, “ kau terlihat sangat lelah akhir-akhir ini, dan sangat sibuk.. apa yang kau lakukan sebenarnya ? “
“ mencari senyuman, senyuman yang indah, senyuman yang aku rindukan.. “
“ sudah ketemu ? “
Aku menggeleng, “ belum ada yang pas “
Ia tersenyum ke arahku. Senyuman yang membuatku semangat lagi. Namun bukan ini senyuman yang aku cari selama berminggu-minggu ini. Senyuman mereka berbeda. Aku menghembuskan nafasku, memejamkan kedua mataku dan tersenyum. Aku tidak boleh menyerah!
“ kalau ada yang bisa oppa bantu katakan ya… “
“ keurae oppa! Akan ku katakan “
Aku berdiri, “ oppa, aku pergi dulu, aku harus mencari senyuman itu lagi, annyeong “
“ Hara-ah, Hwaiting !! “
Aku tersenyum kecil dan melangkah menjauh dari rumahku tersebut. Ya, Hwaiting….

Author POV

Berhari-hari Hara masih mencari dan mencari. Akhirnya ia jarang memikirkan kondisi dirinya sendiri. Dilain tempat, Ryeowook merasa kesepian tak ada Hara yang berada disampingnya lagi. Hara terlalu sibuk mencari pendonor yang tepat untuk Ryeowook sampai-sampai lupa untuk merawat Ryeowook lagi.
Kim Ryeowook POV

Kemana Hara ? kemana dia ? dimana dia ? kenapa ia tidak merawatku lagi ?! aku memang kasar dengannya, tapi itu bukan berarti aku tak ingin dia pergi dari hidupku. Aku kasar karna aku tak ingin dia bernasib sama sepertiku, aku takut ia akan celaka karna ku..

” aku tidak mengasihanimu… aku hanya ingin menunjukkan kesetiaanku sebagai sahabatmu… “

Kesetiaanku sebagai sahabatmu? Kalau iya kemana dirimu saat aku butuh kamu Hara ? aku kesepian kau tidak pernah merawatku lagi.. aku merindukan suaramu, aku merindukan nasihatmu, aku merindukan sentuhan lembut tanganmu, aku merindukan wajahmu, aku merindukanmu Hara….
Berminggu-minggu yang lalu aku sudah cukup bersabar, dan aku rasa ini terakhir kalinya aku bersabar. Sudah ku putuskan, ia telah menjauhiku selayaknya teman-temanku yang lain. Yang hanya ada di sampingku kala aku sedang senang.

Tok tok tok….

Aku mendorong kursi rodaku ke arah pintu. Sebenarnya kalau bukan Hara yang mengajariku mungkin aku tidak akan bisa membuka pintu rumahku sendirian. Aih, aku memikirkan Hara lagi…
Aku membuka pintu, “ ye ? nuguseyo ? “
“ aku, Lee Sungmin, masih ingat ? “
Aku mengangguk. Lee Sungmin adalah kakak laki-laki Hara. Aku mengajaknya masuk kedalam rumahku. Ia mengikutiku dari belakang.
“ waeyo hyung ? “
“ ada kabar baik untukmu, dari Hara.. “
Aku mendengus sebal, “ kabar baik ? dari Hara ? kenapa tidak dia yang menyampaikannya langsung padaku ? “
“ dia tidak bisa datang saat ini, dia masih ada urusan.. dia juga minta maaf tidak dapat menjagamu selama kurang lebih sebulan ini.. dia banyak urusan “
“ urusan apa yang lebih penting dari sahabatnya ? tidak ada ! “
“ ia sedang mencari senyuman, senyuman yang ia rindukan selama ini “
Aku terdiam mendengarnya. Bukannya yang mencari senyuman itu aku ya ? aku selama ini mencari senyuman dalam kegelapan. Senyuman yang menerangkan jalanku. Senyum Hara. Hanya itu yang dapat menerangkan kegelapanku selama ini.
“ baiklah terlepas dari itu semua, apa yang membuat hyung datang kemari ? “
“ maafkan adikku ya Ryeowook-ssi.. ia bukannya tidak ingin mengunjungimu, ia sedang ada urusan.. dia benar-benar sibuk.. aku mohon kau jangan marah dengannya, dia tidak hanya tidak peduli denganmu dia juga tidak peduli dengan dirinya sendiri, dia jarang makan dan… “
“ sudahlah hyung , tidak apa-apa , jadi ? apa yang mau hyung katakan ? “ aku memotongnya
“ ada hadiah dari Hara, dia menemukan pendonor yang tepat untukmu… “
“ MWO ?! “ teriakku tanpa sadar
“ ye, kau sudah bisa dioprasi lusa… bagaimana ? kau mau ? “
Senyumku mengembang lebar. Tanpa ragu-ragu aku langsung mengangguk. Akhirnya, setelah sekian lama, aku dapat melihat lagi, aku dapat melihat betapa indahnya dunia, dan melihat indahnya senyuman yang terukir diwajah Hara…

***

“ kau siap ? “ tanya seorang dokter
Aku sedang berada di ruang oprasi. Berkat usaha Hara aku dapat melihat lagi. Namun selama dua hari ini aku tak pernah mendengar kabar tentangnya lagi, ia seolah hilang entah kemana. Padahal aku berharap Hara berada disisiku saat aku sedang diruang oprasi…
“ ye, lakukanlah sekarang “

2 bulan kemudian~

Aku sudah dapat melihat lagi. Aku dapat melihat. Sejak kejadian dua bulan yang lalu aku dapat melihat. Walau aku masih belum bisa berjalan sempurna aku tetap bahagia. Saat ini aku sedang menjalani terapi penyembuhan agar aku bisa jalan.
Namun sampai sekarang yang tidak dapat membuatku bahagia adalah, Hara. Hara tiba-tiba menghilang dari kehidupanku. Saat aku bertanya Sungmin hyung dia hanya mengedikkan bahu. Sebenarnya kemana dia ? sudah dua bulan ia menghilang dari hidupku.
Aku mendesahkan nafasku kesal, sebenarnya kemana dia ?? hhh…, Hara-ya… bogoshippo….

>malamnya<

Aku bosan. Aku langkahkan kakiku entah kemana. Aku tak ingin dirumah. Kadang aku berfikir lebih baik aku pindah saja daripada tetap tinggal dirumah yang penuh dengan kenangan. Kenanganku bersama Hara. Ku ambil jaket yang tersampir rapi di kursi dan mulai melangkahkan kakiku keluar rumahku.
Aku melangkahkan kakiku entah kemana, aku bosan. Saat hendak menyebrang jalan aku seperti melihat seseorang yang aku kenal. Seorang yeoja. Yeoja manis berambut panjang berwarna hitam kecoklatan sedang berdiri dipinggir jalan menggunakan kaca mata hitam. Tunggu, bukankah… bukankah itu Hara ?
Ia terlihat sedang bercakap dengan seorang namja muda disampingnya. Entah Hara bertanya apa yang jelas namja itu menunjuk ke arah jalanan yang sedang padat ini. Seulas senyum jahil seperti sedang ingin mengerjai seseorang. Aku punya firasat buruk.
Tiba-tiba Hara membungkuk berkali-kali kepada namja tersebut dan mulai berjalan menyebrang jalanan tanpa melihat kiri dan kanan. Tunggu! Kenapa aku merasa ada keganjilan ya ?
Astaga!
“ Hara-ssi !!! cepat pergi dari situ !!! masih belum boleh menyebrang !!! cepat kemba…. “
Brak!

Sebelum kalimatku selesai tubuh Hara sudah terpental entah kemana. Sebuah truk dari arah kanan melaju dengan sangat cepat dan menabrak tubuh Hara. Aku langsung berlari ke arah Hara yang sedang tergeletak berlumuran darah.
“ Hara-ya !!! Hara-ya !!! “ ku guncang-guncangkan badannya, tidak ada sahuan
“ ambulans !!! panggilkan ambulans !! siapapun tolong !!! “
Air mataku mengalir setetes demi setetes. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi? Kenapa? Seharusnya Hara tau tadi itu lampu masih berwarna merah ! kenapa ia menyebrang ?!
“ Hara-ya… jangan pergi… “ ku dekap erat badannya yang lemah tersebut
“ a..apakah… ka..u… Ryeo..wook… ? “
Aku menatapnya. Tangannya memegang pipiku dan meraba semua daerah yang ada diwajahku. Aku menatapnya heran.
“ ini, aku… kau sudah lupa akan wajahku ? “
Ia tersenyum lemah, “ ak…u.. ti..dak lup..a… ha..hanya… hh…, ha..hanya… tak terli..hat.. gelap… “
“ mwo ?! “
“ co..ba.. tersenyum… a..aku.. ingin… ka..kau.. tersenyum… “
Aku menggigit bibirku dan berusaha tersenyum tulus seperti yang ia inginkan. Ia meraba sudut-sudut bibirku dan tersenyum. Sebulir air mata turun dari pipinya yang putih dan berlumuran darah tersebut.
“ akhir..nya… a..aku.. berhasil.. menemukan…senyuman itu… “
Itulah kata terakhir yang dapat aku dengar dari mulut kecilnya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkanku, untuk selamanya.

***
Pemakaman Hara…

Aku memandang nisan yang bertuliskan namanya. Nama seorang yeoja yang amat aku cintai, amat aku sayangi dan sekarang telah meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku menarik nafasku panjang-panjang mengisi udara ke paru-paruku yang terasa sesak.
“ uljima… “ pintaku kepada diriku sendiri.
Pemakaman telah usai dan sekarang hanya tersisa aku dan Sungmin hyung. Ia mendekat ke arahku dan menyodorkan secarik amplop putih. Aku menatapnya dan Sungmin hyung hanya mengangguk. Ku ambil surat yang disodorkan ke arahku tersebut.
“ apa ini hyung ? “
“ surat dari Hara, dua bulan yang lalu, sehari sebelum aku memberitahumu tentang pendonor mata yang tepat untukmu “
“ a…apa ? “
Aku shock. Ini surat dari Hara dua bulan yang lalu, dan aku baru menerimanya sekarang ? setelah Hara tiada ? apa gunanya aku membaca surat ini ?!
“ Hara berpesan padaku agar menyerahkan surat ini jika dia sudah tidak ada, dan…. Kau tau, ia sudah tidak ada sekarang jadi aku menyerahkan titipan terakhir dari adik yang paling aku sayangi tersebut. Meonjeo galkeyo Ryeowook-ssi “
Ia berlalu dari hadapanku. Aku masih tercengang dengan kata-katanya. Ku dudukkan diriku di samping makam Hara dan mulai kubuka perlahan-lahan surat yang ada ditanganku saat ini.

Dear,
Sahabat baikku, Kim Ryeowook

Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah pergi untuk selamanya, pergi meninggalkanmu dan tak akan pernah kembali lagi
Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tenang di alam sana dan tak akan pernah mengganggumu lagi
Dan aku yakin sekali, saat kau membaca surat ini kau sudah bisa membaca dan berjalan layaknya apa yang aku lakukan dulu,
Benarkan ?
Sebenarnya aku tidak tau apa yang harus ku tulis disurat ini, aku tidak bisa menulis surat, apa kau masih ingat? Ah… aku yakin kau sudah lupa, itu sudah lama sekali, jauh sekali saat kita masih kecil
Apakah kau ingat masa kecil kita? Mengingat masa kecil kita kadang membuatku tertawa sendiri, kau tau mengapa? Mungkin terdengar konyol tapi aku lebih senang melihatmu di masa kecil daripada dirimu yang saat ini,
Dirimu yang dulu selalu tersenyum dan tertawa tanpa beban, sedangkan yang sekarang ? kau selalu saja murung dan tidak pernah tertawa seluruh persoalan hidup kau jadikan beban…
Apalagi setelah kecelakaan itu terjadi, kecelakaan yang telah merenggut nyawa orang tuamu dan mata serta kakimu. Kau tau tidak betapa senangnya aku setelah aku mendengar bahwa kau selamat? Percaya atau tidak aku langsung menjalankan mobil Sungmin oppa hanya untuk bertemu denganmu…
Tapi kau tau apa balasannya ? kau membentakku dan berkata seolah-olah aku ingin mengejekmu. Hatiku sakit saat mendengar itu semua, perih, hati ini seakan-akan hancur berkeping-keping, kau tau?
Tapi aku tak akan pernah dendam denganmu, aku tau kau sedang dalam masa terpurukmu maka kau melampiaskan kepadaku, aku tidak apa-apa selama kau senang dan akan tersenyum lagi, aku juga akan bahagia…
Berhari-hari aku terus memikirkan cara agar aku dapat melihat senyumanmu lagi, aku terus berfikir dan berfikir, namun aku menyerah, akhirnya aku bertanya padamu dan kau sudah bisa menebakkan apa jawabannya?
Melihat
Kau ingin sekali melihat. Entah apa yang ingin kau lihat tapi aku tau kau ingin sekali bisa melihat sesuatu itu…
Akhirnya kuputuskan mulai hari itu mencari pendonor yang baik untuk matamu. Berbagai rumah sakit ku datangi dan hasilnya nihil sama sekali tak ada pendonor yang cocok. Berhari-hari dan berminggu-minggu ku gunakan untuk mencari pendonor yang pas untuk matamu. Tapi tetap saja nihil, tidak ada yang cocok denganmu.
Aku frustasi. Semalaman ku gunakan untuk memikirkan apalagi yang harus kulakukan agar kau dapat melihat lagi. Aku putus asa, tidak ada yang dapat kulakukan. Tapi saat menatap pantulan diriku dicermin, aku baru sadar akan sesuatu.
Mataku
Ya, mataku
Aku bisa mendonorkan kedua mataku untukmu. Seperti yang aku katakan dulu, aku akan melakukan apa saja agar kau dapat bahagia lagi. Aku segera bersiap keluar dan kau tau apa kata dokter ? kata dokter akulah pendonor yang cocok ! aku amat senang mendengar kau dapat melihat indahnya dunia, dan akhirnya aku dapat melihat kembali senyuman itu. Senyuman yang hilang dari wajahmu.
Sehari sebelum kau oprasi adalah waktu pengambilan kornea mataku, aku berusaha untuk menulis surat ini… aku tersenyum. Aku sama sekali tidak sedih telah memberikan kedua kornea mataku untukmu, agar kau dapat tersenyum lagi. Tersenyum seperti dulu saat masih kecil.
Mungkin saat kau telah membaca surat ini, aku telah tidak dapat melihat lagi. Aku tidak akan dapat melihat apa-apa lagi. Tapi ketika membayangkanmu, membayangkanmu saat tersenyum aku masih merasa aku dapat melihat. Melihat betapa indahnya dunia ini.
Aku rasa surat ini terlalu panjang, sudah ya Ryeowook-ssi…
Terakhir, jagalah mataku seperti saat aku menjagamu. Gunakanlah mataku sebagai mana aku menggunakannya dulu. Dan aku harap, tersenyumlah selalu seperti saat kita kecil dulu, kau tersenyum dan tertawa menikmati indahnya dunia ini…
Suatu saat nanti, jika kita bertemu lagi, aku ingin melihat senyumanmu.. berjanjilah padaku jika kita bertemu lagi kau akan tersenyum tulus kepadaku…

Saranghaeyo yongwonhi, nae Chinguya…
Lee Hara

Aku tak dapat membendung air mataku lagi. Jadi… yang mendonorkanku mata adalah HARA ?! mata yang aku gunakan selama dua bulan ini adalah mata Hara ? pantas saja Hara menyebrang jalan tidak melihat kanan dan kiri ia tidak akan bisa melihatnya !! makanya ia bertanya kepada seseorang, dan ternyata orang yang ia tanyai adalah orang yang salah…
Ya tuhan,
Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. Kutatap nisan disampingku. Nisan yang tertera nama yeoja yang paling aku sayangi di dunia ini. Seorang sahabatku, sahabat pengisi hatiku. Air mataku terjatuh lagi.
“ gomawo Hara… gomawo kau mau melakukan apa saja untukku… aku berjanji aku akan menjaga kedua mata ini seperti kau menjagaku dulu, aku akan menggunakan mata ini sebagaimana kau menggunakannya dulu, aku akan tersenyum apapun yang terjadi dalam hidupku… dan aku berjanji, ketika kita bertemu nanti aku akan memberikan senyumanku yang paling tulus ke arahmu.. yaksokhaeyo… “
Ku masukkan surat Hara ke dalam amplop dan ku genggam erat-erat. Aku mengadah ke langit dan aku melihat siluet Hara sedang tersenyum manis ke arahku.
“ Hara-ya… gomawo… “
Aku berjalan berlalu meninggalkan makam Hara, meninggalkan semua penderitaan, dan yang terpenting, aku meninggalkan pemakaman dengan senyum mengembang diwajahku…..

***

END !!
Comment please , don’t be a silent readers !!

2 thoughts on “Your Eyes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s