fanfictions

Just Like Now [Part 2: final]

Tittle :  Just Like Now [Chapter 2: final]

`Main Cast :

–          Choi Min Rin

–          Cho Jinho/Jino

Author : Nashelf

Genre : Angst/Romance

Rating : G

Length : Twoshot

Chapter: Chapter 1 | Chapter 2: final

“Waktu hidupmu telah habis.”

Aku terdiam ditempat. Darahku seakan-akan membeku seketika. Tanganku bergetar hebat. Waktu hidupku habis? Ba—Bagaimana mungkin? Apa aku membuat kesalahan?

“Ba—Bagaimana bisa?” Aku menggigit bibir bawahku berusaha agar suaraku tidak terdengar bergetar.

“Kau telah mengeluh berkali-kali dan lagi, kau meminum minuman yang di sodorkan Jinho—“

“TAPI AKUKAN TETAP MEMINUMNYA TANPA MARAH SAMA SEKALI?!” potongku cepat.

“Aku belum selesai berbicara Ahgassi.

Aku terdiam ditempat. Aku menarik nafasku panjang-panjang berusaha mengisi paru-paruku yang sekarang terasa sesak. Dan kalau boleh aku simpulkan, inilah keadaan seseorang yang akan mati—sakaratul maut. Ia tersenyum menampilkan lesung pipinya yang menggoda tersebut.

“Tetapi kau meminumnya dengan perasaan kesal dan berusaha tersenyum, tanpa kau sadari itu telah membuat nyawamu berkurang sebanyak kau diizinkan untuk hidup.”

“Aku mohon, izinkan aku hidup sehari lagi, ada yang ingin ku berikan kepada Jino untuk yang terakhir kalinya..”

Aku bersujud dibawah kakinya memohon agar dia mau menghidupkanku lagi. Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa bahagia untuk yang terakhir kalinya. Hanya ini satu-satunya cara agar aku dapat melihat senyum Jino untuk yang terakhir kalinya. Malaikat tanpa sayap itu menatapku hangat dan tersenyum lembut.

Cho Jino POV

Aku menutup seluruh mukaku dengan bantal. Aku tidak bisa tidur. Entah merasa aku merasakan sesuatu yang kosong. Sesuatu yang kosong yang tak akan pernah kembali lagi. Sesuatu yang kosong yang sekarang terasa didalam hatiku. Apakah terjadi sesuatu dengan Minrin? dia baik-baik saja, kan?

Aku menggapai handphoneku dan menekan nomor yang telah berada diluar kepalaku. Saat hendak menekan tombol berwarna hijau, sebuah panggilan dari seseorang yang hendakku panggil menelfonku—Choi Minrin.

Yoboseyo?”

Jino-ssi,” sahut suara diujung sana dan suaranya—bergetar?

“Iya? Siapa ini?”

“Aku—aku eonnienya Minrin..”

“Oh, waeyo Noona?”

Bisakah kau ke rumah Minrin sekarang?”

“Apakah terjadi sesuatu pada Minrin?”

Di—dia.. meninggal…”

*

Aku berlari sekencang mungkin meninggalkan rumahku yang jauh disana. Berlari secepat mungkin hingga sampai di rumah Minrin. Aku masih belum mempercayai semua ini. Bagaimana bisa, tadi sebelum aku sampai dirumahku aku masih sibuk bercanda tawa dengan Minrin dan begitu aku sampai rumah dia sudah meninggal? Jangan-jangan penyebab pucatnya itu adalah?

Aku menggelengkan kepalaku tanda aku menyerah untuk berfikir. Lebih baik aku segera sampai dirumah Minrin dan bertanya kepada Sooyoung-Noona. Ditengah perjalanan tiba-tiba hujan deras mulai mengguyur Kota Seoul.

“Kenapa harus hujan sih!” rutukku sambil terus berlari.

Akhirnya aku telah sampai didepan rumah Minrin. Sooyoung-Noona langsung berlari menghampiriku. Matanya sembap. Aku menatapnya bingung.

“Jinho-ya…” Suaranya bergetar.

Noona, bagaimana bisa Minrin meninggal?”

“Aku juga tidak tau, saat aku sampai dikamarnya ia sedang duduk di meja belajarnya, aku kira ia sedang tidur tapi.. saat aku dekati te..ternyata.. ternyata ia.. ia…”

Ia malah menangis terisak-isak di dadaku. Aku jadi semakin bingung dengan keadaan ini. Bagaimana bisa ia tiba-tiba mati begitu? Pasti ada yang salah.

“Dimana Minrin sekarang?”

“Dia dikamarnya, sekarang kami sedang mempersiapkan pemakamannya. Jinho-ya, kau jaga dia disamping mayatnya ya.. Noona tidak sanggup lagi…”

Aku tersenyum kecil dan mengangguk. Ia langsung berlari meninggalkanku. Setelah merasa ia sudah menjauh aku mulai melangkah masuk ke dalam kamar Minrin. Begitu aku sampai di kamar Minrin, aku merasakan suasana dingin, bukan hangat seperti biasanya. Dan aku juga merasakan perasaan lain. Sesuatu yang kosong didalam hatiku.

Aku duduk dipinggir kasurnya dan menggenggam tangannya lembut. “Rin-ah..”

Tak ada sahutan. Matanya terpejam. Ia hanya diam.

“Bodoh!”

Aku menelungkupkan kepalaku dilengannya. Aku menggigit bibir bawahku berusaha agar tak ada setetespun air mata yang mengalir dari mataku. Tiba-tiba jendela yang berada dikamar Minrin terbuka. Angin kencang pun langsung masuk ke dalam kamar Minrin.

Aku berbalik dan mataku disambut dengan cahaya putih yang terang. Mungkin lebih tepat dikatakan terlalu silau. Aku mengernyitkan mataku kesilauan mencoba memperjelas sosok bayangan putih yang ada didepanku.

“Siapa disana?” tanyaku.

Annyeong Jino, kau sudah melupakanku?”

Suara tersebut? Bukankah itu suara Minrin? Ta—tapi, diakan sudah… Aku menggelengkan kepalaku tanda aku tidak mengerti.

“Bohong! Minrin kan… Minrin kan—” Aku menatapnya berharap ia mengerti apa yang akan aku katakan.

“Kenapa? Kau tidak percaya aku Minrin karena kau sedang menggenggam tangan Minrin?”

Aku menatap tangan Minrin yang tenggelam didalam genggamanku. Ini memang Minrin, dia nyata. Aku mengangguk kecil. Ia tersenyum lembut ke arahku dan aku tau. Itu senyuman Minrin. Senyuman yang benar-benar aku sayangi.

“Aku memohon kepada malaikat bodoh itu supaya aku dapat bertemu dirimu yang terakhir kalinya.”

“Untuk apa? Kenapa kau tidak meminta untuk tetap tinggal hidup disini bersamaku saja? Kenapa kau tidak memintanya agar menghidupkanmu kembali? Kenapa, eo?!” Tanpa terasa air mata mulai membasahi mataku.

“A—aku tidak bisa meminta hal yang sama sebanyak dua kali.”

Aku tercengang mendengar kata-katanya. “Dua kali?”

Ne, dua kali. Sehari setelah aku mengalami kecelakaan tersebut.”

“Kecelakaan? yang mana?”

Ia tersenyum, mulut kecilnya mulai menjelaskan apa yang sedang terjadi. Ingatanku langsung melayang ke hari-hari tersebut.

:: Flashback—Minrin POV ::

Malam itu. Semua terjadi begitu cepat. Saat aku baru saja pulang dari rumah Jino, aku merasakan tidak akan ada yang terjadi terhadapku. Namun kenyataan berkata lain. Sebuah mobil melaju kencang dari arah kiri. Dan sebelum aku sempat menghindar, mobil tersebut sudah menabrakku, membuatku kehilangan kesadaraku.

Aku tersadar. Aku mengernyitkan mataku. Cahaya putih mulai menyerap ke dalam kedua mataku. Satu penilaianku, silau. Saat mataku mulai dapat menerima cahaya yang ada dihadapanku, aku mulai menyadari ada sesosok orang  berparas tampan, bertubuh tegap, dan sedang menatapku hangat.

Annyeong, Choi Minrin,” ia menyapaku hangat.

“Bagaimana kau bisa tau namaku?”

“Aku tau segalanya,” jawabnya yang semakin membuatku bingung. “Perkenalkan aku Park Jungsoo, kau boleh memanggilku Jungsoo saja. Aku adalah malaikat pengabul permintaan.”

Aku menatapnya heran, zaman teknologi seperti ini masih ada malaikat pengabul permintaan? Aneh. “Malaikat pengabul permintaan? Kalau kau memang malaikat lantas, dimana sayapmu? Setahu ku dibuku-buku dongeng malaikat pasti mempunyai sayap.”

“Tidak denganku. Sekarang katakan apa yang paling kau inginkan saat ini? Minimal satu maksimal dua.”

Aku berfikir. Minimal satu maksimal dua? Apa yang harus ku minta kepadanya? Menurutku saat ini permintaanku terlalu banyak. Tiba-tiba pikiranku melayang ke orang yang benar-benar mencuri seluruh pikiranku. Aku tersenyum mantap.

“Aku ingin bersama Jino, memiliki seorang Cho Jinho seutuhnya.”

“Hanya itu? Tidak ada yang lain lagi?”

“Aku rasa hanya itu.”

“Apa kau tidak ingin meminta agar dihidupkan kembali?”

Aku terdiam ditempat. Apa? Dihidupkan kembali? Memang kenapa aku harus dihidupkan kembali? Aku kan masih hidup. IIya, kan?

“Dihidupkan kembali?” tanyaku takut-takut.

Ne, kau kan sudah mati, Ahgassi.”

“APA?! Bohong!”

“Apakah malaikat pernah berbohong?”

“Tapi—” aku mulai kehabisan kata-kata.

Orang yang berkata dirinya malaikat itu tersenyum hangat ke arahku. Seperti mencoba menenangkanku yang sedang kebingungan.

“Cukup kau katakan apa permohonan mu.”

“Baiklah kalau aku memang sudah mati, aku mohon untuk dihidupkan kembali dan dapat memiliki Jinho seutuhnya.”

“Tapi ada syaratnya.”

Mwo? Aish, repot sekali! Katakan dan akan ku turuti agar aku bisa hidup kembali dan bersama Jinho!” protesku kesal.

Dia malaikat asli atau malaikat palsu sih? Malaikat kan berhati baik, tidak sombong, kenapa malaikat yang ada dihadapanku ini begitu PERHITUNGAN?!

“Selama kau hidup didunia keduamu ini, kau tidak boleh marah apapun yang terjadi kau harus tersenyum jika tidak nyawamu akan kembali aku cabut, dan jika kau mengeluh waktu hidupmu terpaksa aku kurangi satu jam, arasseo?”

Aku mendesah amat-sangat-kesal. “Ya, sekarang cepat hidupkan aku!”

:: end of Flashback—end Minrin POV ::

“dan sejak saat itulah aku menjalani hidup keduaku,” ia tersenyum begitu ceritanya selesai.

Aku terdiam ditempatku tidak dapat bergerak sedikitpun. Jadi, selama sebulan ini Minrin hidup menjalani hidup keduanya? Kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya?

“Lalu, kenapa sekarang kau—“

“Meninggal?”

Aku mengangguk, tak sanggup untuk mengatakan hal yang benar-benar tidak mau ku katakan. Ia tersenyum dan berjalan ke arahku. Ia berjongkok di hadapanku. Wajahnya tepat didepan mataku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain menatapnya sedih.

“Karena aku sudah terlalu banyak mengeluh, dan cheonsa babo itu memberikan syarat yang membuatku sedikit tersiksa.”

“Syarat apa?”

Ya! kau tidak mendengar ceritaku tadi, ya?!“ ia memukul kepalaku keras.

“Aish, aku sedang bingung! Jangan kau pukul kepalaku, aku malah semakin bingung!”

“Rasakan! Itulah akibatnya membuatku marah selama aku masih hidup!”

Aku terdiam. Jangan bilang dia meninggal hanya karna ia tidak tahan mendengar semua omelanku. Ku mohon jangan katakan bahwa ini sama saja aku yang membunuhnya.

“A—apakah, apakah aku yang menyebabkan semua ini?“ tanyaku takut.

“Maksudmu?”

“S—Syarat agar kau hidup, apakah aku yang membuatnya habis hingga akhirnya, kau

“Berat diakui tapi, iya.”

Aku langsung membeku mendengarnya. Jadi aku benar-benar ‘membunuh’nya? Kakiku langsung melemas seketika. Aku tidak bisa menyangka semua ini.

Gwaenchana. Kau tidak perlu merasa bersalah, toh kau tidak pernah tau tentang semua ini, bukan?”

Aku hanya mengangguk. Lidahku sudah kelu dan tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Aku bahkan merasa lidahku putus. Semua ini karena aku, karena diriku. Dia meninggal karenaku. Aku merasakan sebuah air mata yang dingin membasahi pipiku. Itu bukan air mata Minrin, itu air mataku sendiri.

Ya! Mengapa kau menangis?

Mianhae, semua gara-gara aku…”

“Ini bukan salahmu…”

“Ini salahku!”

Ia memukul-mukul pipiku dan menghadapkan mukaku agar menatapnya. Aku tidak sanggup lagi. Air mataku mulai merebah membasahi pipiku. Bagaimana mungkin aku membunuh orang yang benar-benar aku cintai?

“Dengar sebelum cheonsa babo itu membawaku pergi,  aku tidak pernah menyalahkanmu, pesanku kau tidak boleh melakukan hal tersebut kepada orang lain, aku harap hanya aku yang pernah merasakan omelan-omelan pedasmu. Mengerti?”

Aku mengangguk lemas tidak tau apa lagi yang harus ku lakukan.  Ia tersenyum lebar seperti puas akan jawabanku. Aku tidak yakin akan hal tersebut, aku tetap percaya aku akan terus-terusan melakukan hal ini. Tiba-tiba terdengar derap langkah mendekat ke arah kamar Minrin.

“Aku rasa aku harus pergi sekarang.”

“Min—”

“Ingat ya, jangan biarkan orang lain merasakan penderitaan yang aku rasakan!”

“Minrin—”

“Sayangi mereka dengan tulus dan jangan sakiti hati mereka, nanti kau bisa kehilangan lagi.”

“Minrin-ya” Air mataku terus membasahi pipiku.

“Aku senang sempat menjadi milikmu walau hanya sebentar.”

Ya, jangan pergi…”

“Aku senang sempat menjadi milikmu walau kau tidak pernah menunjukkan bahwa sebenarnya kau senang memilikiku.”

Ia menarik nafas panjang-panjang seperti berusaha mati-matian menahan air matanya.

“Dan aku senang, sempat memberikan seluruh hatiku hanya untukmu walau sekalipun kau tidak mau menerimanya.”

Aku menggigit bibir bawahku, menahan air mata yang akan jatuh lebih banyak lagi. “Biarkan aku memperbaiki apa yang telah aku lakukan, aku mohon…”

“Sayangnya cheonsa babo itu tidak pernah mengizinkan, goodbye Jinho, kita pasti akan bertemu lagi di lain tempat.”

Setelah Minrin mengucapkan kata-kata tersebut, Sooyoung-Noona masuk ke dalam kamar bersamaan dengan menghilangnya bayangan Minrin dari hadapanku. Bayangan tersebut tersenyum kepadaku untuk terakhir kalinya. Dan senyuman itu akan menjadi senyuman yang paling ku rindukan didunia ini.

*

Pemakaman Minrin

Semua sudah selesai. Sekarang hanya tersisa aku dan Sooyoung-Noona. Eomma Minrin tidak sanggup menghadiri pemakaman ini. Ia terlalu sedih. Aku menatap nisan yang bertuliskan namanya, Choi Minrin. Nama seorang yeoja yang benar-benar aku sia-siakan dalam hidupku.

“Jino-ah?”

Aku mendongak ke atas menatap Sooyoung-Noona yang sedang mencoba tersenyum manis ke arahku. “Iya, Noona?”

“Kau pulang saja. Noona tidak tega, kau sudah menjaga Minrin sekarang kau sudah bebas.”

Aku menggeleng, aku mengigit bibir bawahku berharap tidak menumpahkan air mataku dihadapan noona kesayanganku ini. Tidak ada lagi air mata untuknya. Ia tidak boleh menangis lagi.

Gwaenchana, Noona pulang saja. Kasian eomma dirumah sendirian.”

Ia tersenyum manis dan mengusap-ngusap kepalaku lembut. “Baiklah, hati-hati ya, noona pulang dulu, Jino-ah.”

“Iya, Noona. Hati-hati.”

Aku tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalaku. Beberapa menit kemudian ia sudah menghilang dari hadapanku. Mataku mulai beralih ke nisan disampingku. Aku tersenyum kecil.

“Oy.”

Tak ada jawaban. Dasar bodoh! Ya jelas tidak akan ada jawaban! Dia sudah jadi malaikat disana. Cheonsa yang cantik. Dan pasti banyak juga malaikat yang suka dengannya.

“Hey, kalau ada malaikat yang menggodamu katakan kau sudah punya aku, mengerti?” tuntutku.

Hening

“Dan katakan pada mereka kalau, walaupun aku di bumi dan kau di atas sana kita masih bisa berhubungan satu sama lain, melalui cinta kita.”

Masih hening

“Kita akan selalu bersama selamanya, tak akan pernah terpisah jarak dan waktu.” Air mataku merebah turun.

Tak ada jawaban. Masih sama, hening.

“Tolong bantu aku… Bantu aku melupakanmu…,” ucapku tertahan.

Angin bertiup kencang. Dan daun-daun bergesekan seperti kedua sejoli yang sedang berbisik-bisik bersama. Entah hanya halusinasi atau apa, aku mendengar suara seseorang berbisik.

“Tenanglah…. Lambat laun kau akan menemukan penggantiku.”

Aku tersenyum lemah dan mengangguk kepada suara-yang-tidak-dapat-di-sebut-suara tersebut. “Iya, aku akan berusaha, jadi tolong bantulah aku.”

*

Setahun kemudian

Aku menatap gedung universitas yang ada di hadapanku. Kali ini, aku sudah bertambah dewasa umurku telah panjang dan akhirnya tingkat pendidikankupun semakin tinggi. Aku menghela nafas panjang dan mencoba tersenyum lemah.

Inha University. Universitas ini mengingatkanku pada seseorang yang pada saat kami duduk dibangku SMA membuat ikrar bersama-sama agar sama-sama melanjutkan kuliah di tempat yang sma, Inha University. Namun apa daya, aku telah membuatnya pergi jauh sebelum ia berhasil lulus dari bangku SMA-nya.

Aku menggelengkan kepalaku dan melangkah gontai menuju ruang tes. Aku belum sepenuhnya lulus, masih ada satu tes lagi. Tapi, lulus atau tidaknya tidak bergantung oleh tes ini, karna ini hanya pengetesan seberapa mampukah kita masuk kedalam Inha.

“Argh, bagaimana ini! Tadi malam aku belum belajar!! Dan lagi, apa itu rumus itu, aduh!! Aku tidak akan lulus dandan Eomma serta Appa pasti akan marah denganku! Aish.”

Aku menoleh ke sumber suara. Suara itu mengingatkanku pada seseorang. Begitu aku melihat siapa orang itu. Aku merasa diriku berpaku ditempat. Orang itu benar-benar mirip dengan Minrin. Hanya saja, minrin lebih pendek sedangkan yang ini sedikit lebih tinggi.

Aku berjalan mendekat ke arahnya. “Ada yang bisa saya bantu?”

Ia terlonjak kaget sebelum membalas, “ah, oh, gwaenchana, apa aku mengganggumu? Mianhanda.”

Benar-benar mirip. Suara, tingkah laku. Ia dan Minrin sama. Benar-benar mengingatkanku akan Minrin. Stop! Kau tidak boleh mengingat-ingatnya lagi, kau sudah berjanji akan melupakannya.

“Hey, kau baik-baik saja? Ah, siapa namamu? “ ia menggerak-gerakkan tangannya didepan mataku membuatku terlonjak kaget.

“Cho Jinho imnida.

“Jinho? Nama yang aneh, ah! Agar mempermudah aku panggil Jino saja ya?”

Jino. Itu panggilan yang diciptakan Minrin untukku. Aku hanya menggangguk kecil. Sepertinya aku menemukan Minrin yang lain.

“Namamu siapa?” tanyaku berusaha agar tidak terlalu menyebutnya sebagai ‘Minrin yang lain’.

Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arahku.

“Jung Minrin.”

*

The End.

End geje? Hahaha, please comment, please, please, pleaseeee>__<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s