fanfictions

I Will Get You

sebelumnya salam kenal chingu, Kim Haeeun imnida. aku seratus persen Haehyuk/EunHae Shipper. aku cuma mau membagi tulisan abal ini dan mengotori blok-mu dengan tulisan gaje ini. semoga dengan oneshoot ini kita bisa saling mengenal. gomawo. dan mian selama ini aku belum komen fic-fic bagus karyamu. setelah ini, aku akan rajin komen fic-mu. gomawo

Sudah beberapa tahun lamanya  Hyukjae menekuni bisnis yang telah membesarkan namanya, pemuda imut yang tersohor hampir satu SM Academy. Namanya begitu familiar diantara ribuan siswa yang berada dalam lingkungan satu Academy. Bukan karena ketampanannya ataupun kepintarannya, pemuda yang gemar dance ini mengharukan namanya dengan gelar yang dia sandang yaitu ‘Prince of Yadong’. Kalian tentu heran kenapa dia dijuluki dengan nama itu. Entahlah, Hyukjae yang dulunya manis berubah dalam sekejab menjadi  pusat majalah xxx satu sekolah.

Namun apakah yang terjadi jika teman masa lalunya datang dan berjanji akan menggiringnya ke hadapan pihak sekolah? Dan bagaimana nasib Hyukjae ketika pemuda yang biasa meyadongi orang itu malah diyadongi oleh teman masa lalunya itu?

I Will Get You

Pagi tersenyum menampakkan pesonanya yang penuh dengan keindahan, hiruk pikuk di kawasan SM Academy bahkan sudah terlihat dengan jelas melalui mata. Ketika pagar besi berwarna putih dibuka, ribuan siswa menyeruak masuk menuju gedung sekolah. Walaupun musim dingin sudah menyelimuti wilayah Seol, nampaknya para siswa masih tetap semangat untuk menjalani aktifitasnya.  Kini di taman sekolah, tempat dimana biasanya sebuah kisah terjalin. Dengan latar hamparan bunga yang membentuk sinkronisasi warna yang menakjubkan, dengan tetesan-tetesan embun yang berkumpul terjatuh begitu saja dan kilauan Sang Surya yang berdiri gagah menyantuni dunia dengan cahayanya.

Hyukjae atau Eunhyuk, pemuda manis itu berada di sana. Pemuda dengan senyum secerah matahari yang melengkapi keindahan pagi yang sempurna. Dia duduk bersama temannya sambil membuka bungkusan besar .

“Bagaimana Min, kau mendapatkannya?”Eunhyuk membuka matanya lebar-lebar.

“Tentu saja, apa yang tidak bisa didapatkan oleh Sim Changmin.”Changmin membuka bungkusan itu dan langsung memamerkannya pada teman seprofesinya itu. Eunhyuk tersenyum, menampakkan gummy smile-nya tidak sabar, tangannya sudah terjulur ingin meraih sesuatu di tangan Changmin.

“Bagaimana kau mendapatkannya, bukankah itu edisi special. Aku mau lihat!”

“Tentu saja ini edisi special, edisi khusus yang aku ambil dari penerbitnya langsung. Kau kan tahu aku memiliki banyak koneksi untuk mendapatkan barang seberharga ini.”Pemuda jangkung itu tersenyum syetan. Dia melempar majalah xxx itu di pangkuan Eunhyuk yang dari tadi sudah mengeluarkan Monkey eyes nojutsu-nya. Dan dalam hitungan detik, lembaran-lembaran nista itu telah terbuka lebar. Eunhyuk membukanya dengan perlahan seakan-akan menghayati apa yang dia lihat. Namun tiba-tiba dia tertegun, dia langsung menutup majalah dan memandang Changmin dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Min, aku tidak bisa membawa majalah ini ke rumah, bagaimana ini?”wajahnya panik bahkan tetes-tetes keringat sudah meluncur dari pelipisnya, dia menggigit bibir bawahnya.

“Kenapa, bukankah kau sering membawa majalah itu ke rumah. Apakah kau ketahuan oleh Heechul Ahjuman?”Min mengerutkan dahi.

“Bukan itu, umma ku tidak pernah memeriksa kamarku. Ini lebih parah, dia pasti akan menemukannya jika aku menyimpannya di kamarku.”Eunhyuk mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

“Dia siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan dia, pemuda yang menghancurkan bisnis kita dan pemuda yang menjadi pusat perhatian para guru sekarang. Pemuda yang baru beberapa minggu masuk sekolah ini dan sudah menjadi komite kedisiplinan. ”

“Maksudmu Donghae, teman masa kecilmu itu?”Changmin bertanya  dan mendapat anggukan dari Eunhyuk. Berbagai spekulasi langsung menyeruak di pikiran Changmin ketika Eunhyuk menganggukkan kepala. Dengan senyuman evil andalannya dia langsung menyenggol lengan pemuda yang lebih rendah darinya, “Bagaimana bisa dia menemukan majalah ini dikamarmu?”

“Dia mantan temanku, ingat mantan.” Eunhyuk berkata mantap dan memberi penekanan pada kata mantan, “Kau tidak tahu Min, dia yang seorang komite kedisiplinan melakukan apa padaku. Dia yang selalu mengadakan inspeksi menjaring majalah kita dan dia yang paling benci dengan majalah xxx melakukan sesuatu terhadapku. Dia masuk ke kamarku Min dan yang lebih parahnya aku mendapati dirinya memelukku ketika aku sedang tidur. Dia memiliki kunci duplikat kamarku. Andwe …..” Eunhyuk mengerjabkan matanya berkali-kali, dia membayangkan kejadian tadi pagi yang membuatnya menjerit kencang hingga kedua orang tuanya masuk kedalam kamar pribadinya. Namun, yang lebih membuat syok ketika dia melihat ekspresi pasangan Hanchul yang malahan tersenyum lembut ke arah Donghae. Eunhyuk semakin tidak bisa menerima  ketika dia tahu bahwa Heechul umma yang memberikan kunci duplikat kamarnya pada Donghae.

Changmin malah tersenyum, otak liarnya sudah membayangkan adegan tujuhbelas tahun ke atas antara Donghae dan Eunhyuk. Dia terkikik geli, membayangkan bagaimana Eunhyuk menjadi seorang uke. Bagaimana si Monyet liar itu harus tunduk oleh seorang pria.

“Kenapa tertawa?”Eunhyuk memanyunkan bibirnya.

“Tidak ada apa-apa, bukankah dia bilang akan membawamu ke kepala sekolah cepat atau lambat. Kenapa dia malah melakukan hal itu dan di sekolah sepertinya dia tidak peduli sama sekali padamu.”Changmin mencoba menepis bayangan adegan NC Eunhae/HaeHyuk Couple dari pikirannya.

“Ya, disekolah memang seperti itu. Dia mengejar kita dan mencari bukti tentang majalah-majalah xxx yang kita jual. Dia bahkan berjanji akan mengirim kita ke hadapan kepala sekolah. Bukankah kau ingat bagaimana ekspresi Donghae ketika melihat kita bertransaksi majalah xxx dan meyadongi para Yeoja di sekolah. Tapi, yang aku tidak percaya setelah bunyi bel berbunyi sang komite sekolah malah meyadongiku. Bagaimana Min?”

“Entahlah Hyuk, kita lihat saja nanti. Dan ingat, jaga baik-baik majalah itu.”Changmin melirik ke arah Eunhyuk yang terlihat kacau. Bola matanya yang bulat masih sama melekat pada sosok Hyukjae walaupun dia dalam keadaan sefrustasi ini, “Aku ke kelas dulu, istirahat aku menunggumu di tempat biasa. Jangan terlalu dipikirkan, nikmati saja majalah itu.”

Dan hanya ada suara desahan Eunhyuk yang terdengar setelah kepergian Changmin. Pemuda pecinta strawberry itu memasukkan majalah kedalam tas kemudian beranjak menuju kelasnya, menuju tempat dimana dia harus bertemu dengan pria menyebalkan itu. Demi Tuhan bahkan Eunhyuk sendiri bingung dengan sikap Donghae kepadanya, Donghae yang kekanak-kanakan dulu kini berubah menjadi Donghae yang tidak ia kenal. Lima tahun sudah dia berpisah dengan pemuda itu dan kini mereka bertemu dalam situasi yang rumit, dimana Donghae menjadi seorang Komite kedisiplinan dan dirinya sebagai seseorang yang perlu didisiplinkan.

Entahlah….ini terlalu rumit, situasi yang tidak pernah bisa dicerna seorang Hyukjae

…………………

……………………

“Hyukie, umma-mu menitipkan bekal ini padamu.”suara Donghae membuat Eunhyuk menoleh. Dia baru saja membenturkan keningnya dengan meja berkali-kali. Dia mengangkat sebentar kemudian menjatuhkan kepalanya sekali lagi, seperti itu hingga suara Donghae menginterupsi kegiatan-nya. Eunhyuk tidak bersuara, hanya memandang Donghae malas kemudian membenturkan kembali kepalanya. Donghae yang merasa diabaikan langsung meletakkan bekal makanan di meja Eunhyuk kemudian kembali ke tempat duduknya.

Eunhyuk tersenyum melihat ekspresi Donghae, nampaknya dia sangat senang melihat pemuda itu kesal. Merasa sudah mendapat tenaga lagi, Hyuk mengambil majalah di tas. Diam-diam dia membuka perlembar majalah yang diberikan raja yadong Sim Changmin. Dia bahkan tidak tahu jika Hae mengamati apa yang dilakukannya. Hingga beberapa menit pemuda itu menutup buku karena kedatangan guru bahasanya.

Satu jam sudah guru bahasa itu mengoceh tidak karuan dan membuat Hyuk menguap lebar. Dia bahkan sempat tertidur untuk mengurangi kebosanan. Dan pada akhirnya bel istirahat berkumandang membuat Hyuk mengucek-ngucek matanya. Dia tersenyum hendak keluar, namun rencananya diurungkan ketika melihat beberapa orang masuk ke kelasnya bersama Donghae.

Hyuk menatap Hae bingung, bukankah tadi dia masih berada di dalam kelas. Berbagai spekulasi mulai merasuki hati Hyuk, apalagi ketika dia mulai mengenali orang-orang yang masuk ke dalam kelasnya. Tidak salah lagi, komite kedisiplinan mulai mengadakan inspeksi dadakan. Apalagi ada guru yang mendampingi mereka.

“Aish, apa yang harus aku lakukan.”gumam Hyuk pelan.

Pintu kelas segera ditutup dan guru pendamping mengoceh tidak jelas di kelas. Hyuk sama sekali tidak meperdulikannya, berkali-kali dia menatap tas berwarna hitam yang tergeletak di bangkunya. Ini bukan soal tas tetapi apa yang ada di dalam tas. Hyuk semakin menegang ketika para komite mulai menggeledah tas para murid.

Dan setelah itu, pandangannya bertemu dengan Donghae.

Hae yang berdiri angkuh di depan kelas, rambut hitamnya berkibar akibat sentuhan sang bayu. Senyum sinis terpampang di wajahnya. Demi Tuhan, Hyuk sangat membenci pemuda itu. Dengan segala keangkuhan yang menipu semuanya. Topeng yang dia kenakan di sekolah benar-benar membuat Hyuk muak, sangat muak hingga membuatnya ingin segera menghancurkannya.

Dan ketika Hae berjalan ke arah mejanya, dengan senyuman palsu yang tersungging di bibirnya, senyum yang sanggup meluluhkan yeoja yang menatapnya, tapi tidak untuk Hyuk. Dan dalam sekian detik, ketika pemuda itu sampai di depan meja Hyuk, Donghae mulai mengeluarkan suaranya dengan nada mengintimidasi.

“Keluarkan apa yang ada di tasmu.”

“…….”Hyuk tidak bersuara.

“Atau aku yang akan melakukannya.”

Hyuk memalingkan wajahnya membuat Donghae langsung mengambil tas hitam yang tergeletak di meja. Dengan teliti Hae memeriksa tas hitam itu, mencoba menemukan hal-hal telarang milik Hyukie. Buku matematika, kebudayaan Korea, bahasa sudah dilewatinya dan terakhir matanya melirik ke arah majalah bersampul merah yang cukup membuat darah Hae berdesir. Pelan, Hae mengambil majalah itu, mengamati sampul yang sudah menggambarkan apa yang tertera di dalamnya.

“Hyuk, apa ini?”

“Kau tidak tahu itu majalah.”Hyuk mendesah.

“Setelah ini temui kepala sekolah dan majalah ini kami sita.”

Hae melangkah pergi menuju depan kelas kemudian keluar bersama dengan teman-temannya. Hyuk mengacak-ngacak rambutnya, dia hempaskan tubuhnya di kursi. Frustasi, marah dan kecewa bercampur menjadi satu membelenggu hati seorang Eunhyuk. Dia frustasi dengan keadaan seperti ini, dia marah pada hae yang merebut semua yang dia sukai dan rasa kecewa yang dia rasakan, entahlah untuk apa dia merasa kecewa.

Dan setelah itu Hyuk keluar kelas menuju ruang kepala sekolah. Sekitar tigapuluh menit Hyuk harus mendapat ceramahan dari guru BK dan kepala sekolah. Tidak ada satu katapun yang masuk begitu saja di hati Hyuk. Hanya perasaan benci yang membuncah pada sosok Hae. Ya… Hae sudah menepati janjinya untuk menggiring Hyuk ke kepala sekolah dan pada akhirnya sebuah surat peringatan masuk ke kantong Hyuk.

Hyuk keluar dari ruangan kepala sekolah, perasaannya benar-benar tidak bisa dikatakan baik sekarang. Baru saja membuka pintu ruangan dia mendapati Hae berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di tembok. Hyuk melirik Hae, kemudian melangkah pergi tanpa mempedulikan kehadiran Hae.

“Hyukie.”panggil Hae, namun tidak ada respon dari pemuda itu.

Hyuk tetap berjalan meninggalkan sosok Hae. Merasa tidak tahan, Hae melangkah mensejajarkan dirinya dengan Hyuk.

“Kenapa kau masih membawa majalah seperti itu Hyukie?”

“Kau puas Hae, terimakasih telah menepati janjimu.”Hyuk melirik ke arah  Hae. Dia mempercepat langkahnya berusaha meninggalkan sosok Hae.

“Aku belum selesai bicara.”

“Tutup mulutmu dan jangan ikuti aku.”teriak Hyuk.

Hae terdiam setelah itu. Dia sama sekali tidak membalas apa yang Hyuk ucapkan. Hening…, hanya suara langkah kaki yang terdengar, suara langkah kaki Hyuk yang semakin Jauh. Jauh hingga tidak terlihat lagi dan hanya desahan nafas yang tertinggal. Meninggalkan kekecewaan yang membuncah, mencengkeram erat jantungnya.

XXOOXX

Emosi ini semakin memuncak, tidak bisa lagi dikompromi. Meski hati mencoba menahannya, namun sebuah perasaan tidak enak terus saja bergelayut manja di hatinya. Dia membutuhkan sesuatu sebagai pelampiasannya, pelampiasan yang sanggup membuatnya lepas dari masalah ini. Dia tidak dapat mengontrol apa yang dia pikirkan. Dia hanya dapat merasakan. Sesal. Marah. Otaknya  menginginkan sesuatu yang segar dan sedikit menjaili adik kelas mungkin akan memberikan sedikit amunisi untuk mengurangi emosi yang ada.

Yah mungkin  itu yang dilakukan, mengganggu orang lain dan melampiaskan kekesalan yang menggerogoti hati.

Menggoda, air mata dan tinggalkan.

Huh…terlalu kejam menulis tiga hal tersebut, namun dia ingin melakukannya. Benar-benar ingin, bukan karena kesenangan belaka yang biasa dilakukan bersama Changmin, tetapi sebuah pelampiasan.

Dia menyeringai ketika mendapati seorang yeoja baru keluar dari toilet, dia ingin bermain sedikit seperti yang biasa dia lakukan bersama Changmin.  Memang bermaian, tanpa rasa apapun. Hanya ingin melihat ketakutan yang terpancar di mata gadis itu. Apakah Hyuk terlihat sekejam itu, tidak sama sekali tidak. Salahkan saja Donghae, karena akar permasalahan ini semua adalah pemuda itu. Eunhyuk menyalahkan Donghae atas apa yang telah terjadi. Sudahlah sepertinya Hyuk tidak ingin lagi memikirkan sosok itu. Dia mendekati yeoja yang kebingungan menatap Eunhyuk.

“Ada apa Sunbae?”

“Hanya ingin bermain-main,”

“Maksud Sunbae apa?”

Eunhyuk menyeringai, dia membelai pipi yeoja di depannya. Dia tidak akan melakukan lebih, menakuti seorang Yeojja yang sendirian di depan pintu toilet akan menjadi sesuatu yang menyenagkan bagi seorang Hyukjae. Dia melihat gadis itu menunduk takut ketika dia mulai meniup daun telinganya.  Eunhyuk menyelusuri lekukan wajah di depannya dengan bebas, dia sama sekali tidak peduli dengan wajah gadis yang mulai menangis itu. Dia menikati ekspresi ketakutan itu, ini hanya permainan bagi Hyuk, membuat seorang gadis menangis sudah biasa dilakoni oleh seorang Hyukjae dan Changmin.

“Sunbae apa yang kau lakukan?”suara yeoja itu bergetar.

“Bukankah aku sudah bilang padamu.”lagi-lagi seringai itu muncul.

Yeoja itu menunduk, dia terlalu takut. Pelan, Hyuk mengangkat dagunya, mendekatkan wajahnya ke gadis itu, mendekat dan….

Sebuah tangan menarik rambutnya hingga dia mundur beberapa langkah.

Hyuk menoleh dan mendapati wajah donghae tepat disampingnya , seakan-akan dia dapat merasakan hembusan nafas pemuda itu. Ya pemuda itulah yang menggagalkan aksinya, tapi ada sesuatu yang berbeda dengan diri Hae sekarang. Matanya merah, seperti menahan amarah yang memuncak. Giginya bergemelatuk bahkan dia sama sekali tidak menatap langsung ke arah Hyuk.

“Pergilah.”ucap Donghae kepada Yeoja itu

“Gomawo, Donghae-sunbae.”

Gadis itu segera berlari meninggalkan mereka. Sebelum dia menghilang ke balik pintu, dia menoleh sejenak dan akhirnya gadis itu sama sekali hilang dari pandangn mereka.

Hyuk  langsung menepis tangan Hae dari rambutnya.

“Kenapa kau selalu mencampuri urusanku.”teriaknya.

“Kau keterlaluan Hyuk.”

“Apa urusanmu.”Hyuk sudah sangat membenci Hae. Dia mendesah menatap Hae yang hanya menutup matanya.

“Ikut aku.”Hae mencengkeram tangan Hyuk, dia menarik tangan Hyuk membuat pergelangan tangannya berwarna merah. Dia menyeret Hyuk, membuatnya mengikuti langkah Donghae yang terlalu cepat. Hyuk lelah dengan keadaan ini, dia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Hae.

“Lepaskan Hae.”

Namun tidak ada suara dari pemuda yang mencengkeram tangannya erat itu. Hanya suara langkah kaki dan detakan jantung yang semakin membuncah. Entah mengapa Hyuk merasa takut sekarang, takut dengan keadaan Hae yang berbeda dari biasanya.

Dan ketika berada di belakang sekolah Hae berhenti, dia sama sekali tidak melepas tangan Hyuk.

“Apa yang kau lakukan?”Tanya Eunhyuk ketika cengkraman tangan Donghae semakin kuat. Dia mencoba melepaskan diri. Berkali-kali dia memaki pemuda yang menyerednya secara kasar, namun sepertinya hal itu tidak berpengaruh terhadap pemuda itu. Donghae malah mempererat cengkeramanny, dia mendesak tubuh Eunhyuk ke dinding dengan tubuhnya sendiri. Walaupun Eunhyuk tidak melihat matanya, namun dia dapat merasakan kemarahan Donghae, “Lepaskan aku!”

“Kenapa kau melakukannya Hyuk? Kau tau, itu sama saja menyakitiku.”suaranya parau, bahkan Eunhyuk merasakan hembusan nafas donghae.

“Lepaskan aku, menjauhlah dariku.”Eunhyuk mencoba mendorong tubuh Donghae.

“Tidak bisa.”Hae menyeringai.

Hyuk menelan ludah sekarang, dia bisa melihat tatapan mata Donghae yang begitu tajam. Seperti tatapannya pada gadis itu, tapi berbeda. Entah apa arti dari semuanya dan apa yang membuat Hae menatap Hyuk  seperti itu. Ada luka, ada kepediahan dan kecemburuan. Tidak…, Hyuk mencoba membuang jauh-jauh pikiran itu.

“Hae, lepaskan aku!”lagi-lagi hanya itu yang bisa dia ucapkan.

“Kau tahu Hyuk, bagaimana perasaan Yeoja yang kau permainkan tadi. Kau tidak tahukan!”

“Apa pedulimu?”

“Aku sangat peduli, dia terluka Hyuk dan aku sangat kecewa.”ucapnya parau.

“Aku sama sekali tidak peduli.”

“Akan kubiarkan kau merasakan apa yang dia rasakan.”

Dan detik itu pula semuanya terjadi

Eunhyuk tidak mampu bergerak, tubuhnya semakin terdesak ke tembok. Bagian belakang kepalanya terdesak keras membuat dirinya sudah tidak mampu lagi untuk melawan. Dia mencoba memberontak, tapi suaranya teredam begitu saja di dalam mulutnya. Tangan Donghae semakin erat mencengkeram tangannya. Sapuan itu semakin dalam, membuat Hyuk tidak mampu melawan dominasi pemuda itu.

Untuk bernafas saja dia tidak sanggup, sesak bahkan paru-parunya tercekat akibat perlakuan Donghae. Dia ingin mengakhiri semuanya, membebaskan dirinya dari belenggu ini. Waktu berlalu begitu saja, membiarkan hal ini terus terjadi. Bahkan rasa perih menyelimuti Hyukjae, dia tahu dia terluka dan dia tahu bau anyir yang masuk ke indera penciumannya adalah darahnya. Sudah cukup, semuanya sudah melampaui batas.

Tidak tahukah engkau Donghae, Kau telah menyakiti pemuda itu. Ya, pemuda itu terluka sekarang.

Merasa lelah, akhirnya Hae melepaskan tangan Hyuk. Merasa ada kesempatan Hyuk langsung mendorong tubuh Hae hingga mundur beberapa langkah. Hyuk menghirup udara, memberi pasokan pada paru-parunya.

“Kau brengsek!”

Tanpa pikir panjang lagi, Hyuk  melayangkan tinjunya pada Donghae hingga pemuda itu tersungkur di lantai. Kebenciannya benar-benar sudah memuncak, dia tidak mampu menahannya lagi. Dia mengutuk sikap pemuda yang dianggapnya sudah merendahkan harga dirinya.

Donghae menyeka darah yang keluar dari bibirnya, baru saja dia merasakan manisnya darah Hyuk kini dia kembali merasakan anyir darah miliknya sendiri. Sungguh berbeda.

“Aku membencimu Hae.” tiba-tiba air mata Hyuk menetes.

XXOOXX

Eunhyuk membuka pintu rumah dengan kasar, perasaannya tidak enak sekarang             . Berkali-kali dia mengusap luka di bibirnya, perih seperti apa yang dia rasakan. Dia mempercepat langkah berharap orang tuanya tidak mempergoki kepulangan yang kelewat awal ini. Yah.., setelah insiden itu, Hyuk langsung menyambar tasnya dan pulang sebelum jadwal selesai.   Baru saja melewati undakan tangga pertama, seorang pemuda cantik memergoki hyuk dengan tatapan penuh tanda Tanya.

“Hyukie sayang, kau sudah pulang?”

Eunhyuk mendesah, dia sudah hafal suara siapa itu. Heechul, umma-nya yang kelewat cerewet. Dan dia yakin pasti umma-nya akan menanyakan hal-hal yang tidak ingin dia jelaskan. Padahal Heechul seorang pria tapi dia lebih bawel dibandingkan perempuan sekalipun. Hyuk mengalihkan wajahnya untuk menutupi lukanya.

“Ada rapat mendadak Umma, sekolah membubarkan kami.”jawabnya bohong.

“Baguslah kalau begitu. Kau bisa membantu umma menyiapkan makanan untuk menyambut keluarga Kim. Kita belum mengadakan penyambutan untuk mereka, padahal mereka sudah beberapa minggu kembali ke Seol. Aku sudah lama tidak mengobrol dengan Leeteuk.”suara Umma-nya membuat Hyuk semakin kesal, apalagi dia menyebut keluarga pemuda yang telah merampas miliknya.

“Aku ke kamar dulu ya Umma.”posisinya masih di tangga, dia belum beranjak karena hafal betul watak umma-nya yang tidak akan membiarkan seorangpun pergi tanpa izinnya.

“Jangan lupa nanti malam Donghae juga akan datang.”

“Mwo…..”

Dan refleks Hyuk memandang Umma-nya tidak percaya. Dia lupa harus menyembunyikan luka itu, Hyuk sangat terkejut. Dia bersumpah tidak akan menemui Hae setelah ini. Ini terlalu menyakitkan, bahkan mendengar nama orang yang telah merendahkannya sanggup membuanya tidak menyadari apa yang dia lakukan.

Heenim mengerutkan dahi ketika dia melihat luka di bibir anaknya. Perlahan dia menaiki tangga, mensejajarkan tubuhnya dengan anaknya.

“Kenapa bibirmu?”

“Sudahlah Umma, jangan membahasnya.”Hyuk menepis tangan Heechul yang mulai menyentuh luka di bibirnya, pelan dia melangkah mundur tidak mau mendapatkan tatapan mematikan dari umma-nya. Bukankah kalian paham bagaimana tatapan sang iblis itu?

“Hyuk, kau harus cerita pada umma.”Heechul melotot.

“Apa Umma akan percaya denganku kalau aku bercerita ada ikan yang menyerang bibirku.”

“Ikan….?”

Hyuk mendesah melihat ekspresi umma-nya, dia melangkah meninggalkan Heechul yang menganga sambil membayangkan ikan sejenis arwana yang menyerang bibir anaknya.

“Dan tolong Umma, katakan pada ikan yang telah menyerangku jika aku sangat membencinya.”Hyuk meraih pintu kamar dan membukanya, sebelum menutup dia menengok ke arah Heechul dan mulai berbicara lagi, “ Dan satu lagi, aku tidak akan ikut makan malam jika ikan itu datang kemari.”

Dan setelah itu hanya ada bunyi pintu yang tertutup dengan keras.

XXOOXX

Goresan goresan abstark berwarna jingga telah hilang dari kanvas alam, membuat sang bulan menyingkirkan raja siang dari peraduannya. Dengan lenggak lenggok pesonanya, sang bulan memancarkan cahaya putih yang menjangkau seluruh kekuasaannya.

Meski malam telah menggantikan siang, namun kilasan-kilasan apa yang telah terjadi tidak bisa dia lupakan. Bagaimana dengan kasarnya dia memperlakukan seseorang yang seharusnya dia lindungi. Donghae merasa bersalah kali ini, dia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan jika bertemu dengan Hyuk. Semuanya berjalan begitu saja dan apa yang dilakukannya memanglah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Seperti inilah hasilnya, Hyuk semakin membenci Hae. Bahkan Hyuk tidak keluar dari kamarnya untuk sekedar menyapa dan beramah tamah pada kedua orang tua Hae.

Ya…Donghae sekarang ada di rumah Eunhyuk bersama keluarganya. Mereka mendapat undangan dari keluarga Hyuk, namun yang membuat Hae resah adalah tidak keluarnya Hyuk untuk menemuinya. Hanya ada Heechul Ahjuman dan Hankyung Ahjushi.

“Mana Hyukie?”Leeteuk, umma Donghae bertanya sambil melahap nasi goreng Beijing ala Hankyung, tentu bukan rahasia umum lagi jika memang Hankyung-lah yang mengurusi dapur selama ini.

“Dia di kamar, entahlah dari tadi dia berperilaku aneh setelah pulang dari sekolah.”Heechul meneguk segelas air putih.

Donghae yang sedang mengiris daging tertegun, dia meletakkan garpu dan pisau potongnya.

“Remaja memang seperti itu, Donghae juga sering seperti itu jika dia merasa lelah.”Leeteuk tersenyum menatap anaknya.

“Tapi Hyuk benar-benar aneh, masa dia mengatakan jika ada ikan yang menyerang bibirnya.”

“Ikan???”Leeteuk dan Kangin saling berpandangan, dia melirik ke arah Donghae yang menundukkan kepalanya. Sepertinya pasangan suami istri itu sudah dapat menangkap apa yang terjadi dengan putra sahabatnya itu, yang jelas itu berhubungan dengan anak mereka.

“Terus dia juga bilang tidak akan ikut makan malam jika ikan itu datang kemari, coba apa maksudnya?”

“Hyukie bilang seperti itu?”Hankyung menatap istrinya dan dibalas anggukan kepala olehnya.

Leeteuk dan Kangin mendesah, dia menatap ke arah anaknya lagi. Donghae hanya terdiam, mengepalkan tangannya dengan kuat. Yah…mungkin ini saatnya dia melakukan hal yang dilakukan oleh seorang dewasa. Dia harus berani mengatakannya. Ketika Donghae mendongakkan kepalanya menatap kedua orang tua Hyuk, sebuah tangan  menepuk pundaknya. Hae menoleh dan mendapati umma-nya tersenyum memberi dukungan.

“Hae, tolong jelaskan apa yang terjadi antara kau dan Hyukie,”Leeteuk bersuara membuat pasangan Hankyung mengerutkan dahi tidak paham dengan apa yang terjadi. Apakah Donghae mengetahui ikan yang menyerang Hyuk? Mungkin itulah yang dipikirkan oleh Hanchul couple, “Aku tahu, kau dan Hyuk pasti ada masalah. Ikan yang Hyuk maksud adalah kau kan!”

“Jadi ikan yang Hyukie maksud Hae,”Heechul membelalak tidak percaya.

“Kalian tidak berkelahi kan!”lanjut Leeteuk.

“Tidak, bukan seperti itu?”akhirnya Donghae bersuara.

“Lantas kenapa wajahmu lebam dan Hyukie terluka,”Leeteuk mencoba berbicara lembut, “Tolong jelaskan kenapa sampai Hyukie membencimu.”

Donghae menghela nafas, sebenarnya dia tidak ingin semua tahu tentang apa yang sudah terjadi dengan dirinya dan Hyuk. Dan Hae berani bersumpah, jika seandainya keluarga Hyuk sampai membencinya dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Namun bagaimana lagi, semuanya telah terjadi dan penjelasan serta tindakanlah yang sanggup menyelesaikan ini semua. Belum pernah dia merasakan perasaan segugup ini, perasaan yang sama seperti ketika dia akan melamar seorang gadis di hadapan kedua orang tua gadis itu. Perasaan ini begitu menyiksanya, perasaan yang mendesak hati nurani untuk meluapkan apa yang ingin dia tuang. Namun, butuh nyali besar untuk menggerakkan mulutnya.

“Hyukie……,”Donghae menghela nafas lagi.

“Hyukie kenapa?”Kedua pasangan suami istri itu menatap donghae.

“Hyukie memukulku.”

“Mwoooo,”mereka membelalak tidak percaya, bahkan Hankyung sudah menjatuhkan garpu yang dia pegang. Bagaimana mungkin seorang Hyukie yang manis memukul Hae..

“Tapi itu karena kesalahanku, aku yang melakukannya duluan.”Hae menunduk, kemudian dia menatap mereka lagi. Perasaan gelisah timbul tenggelam di benak Hae. Heechul yang sudah penasaran langsung duduk mendekati Hae, “Aku melakukan sesuatu padanya, jadi wajar saja jika Hyukie memukulku.”

“Kau melakukan apa Hae, kau memukul Hyukie.”Leeteuk menepuk pundak Hae.

“Tidak, aku tidak memukulnya.”

“Lantas…,”Kangin dan Hankyung yang sudah penasaran tingkat angkut berkata serempak.

Hae menatap mereka semua, mencari sedikit kelembutan dari mata orang tua itu. Mungkin ini semua akan mengubah persepsi mereka terhadap Hae. Hae takut  jika mereka membencinya dan bahkan tidak mengizinkan untuk menemui Hyukie lagi. Ya…, ini salahnya seutuhnya. Dia yang tidak bisa mengendalikan semuanya, dia yang terlalu emosi dan dia yang tidak bisa menghilangkan perasaan itu. Pelan dia mulai membuka mulutnya, mencari kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.

“Aku mencium Hyukie.”

Dan detik pula Heechul dan Leeteuk menganga tidak percaya. Bahkan Kangin dan Hankyung langsung menyandarkan tubuh mereka ke kursi dengan memijit pelipis masing-masing. Heenim menatap Hae menuntut penjelasan, bagaimanapun dia adalah umma Hyuk. Dia tidak ingin Hyuk terluka.

“Hae kita perlu bicara.”suara Heechul berkumandang membuat Hae mengalihkan pandangannya pada sosok umma Hyuk. Ada sedikit perasaan takut yang menggerogoti pikiran Hae.

“Aku harus ke toilet sebentar.”Leeteuk tersenyum, dia melirik ke arah Kangin.

“Hankyung, aku akan menceritakan padamu pengalaman-pengalamanku menjadi seorang polisi. Ayo ke halaman belakang.”Kangin merangkul Hankyung paham dengan situasi yang terjadi. Sementara Hankyung yang masih mematung langsung menatap istrinya, dia hanya bisa mengandalkan istrinya untuk menyelesaikan semuanya dengan Hae. Dan setelah itu, ketiganya pergi menyisakan Donghae dan Heechul.

Hanya ada suara desahan yang keluar dari mulut Hae, entah sudah beberapa kali, namun cara itu terbukti ampuh mengurangi ketegangan yang dirasakannya. Berdua bersama umma Hyuk membuatnya benar-benar tidak bisa berfikir jernih. Seandainya dia bisa pergi, dia ingin pergi saja. Tapi Hae bukanlah seorang pengecut, dia seorang pria yang akan menyelesaikan masalah yang telah dia perbuat.

“Jangan gugup seperti itu?”suara Heehul membuat Hae mengangkat wajahnya.

Donghae tersenyum mencoba mengurangi ketegangan yang dia rasakan.

“Kau tau Hae. Ketika kau dan Hyukie kecil, Kalian sangat imut sekali. Bahkan wajah imut kalian masih terbayang sampai sekarang. Aku tidak menyangka bahwa kalian sudah dewasa, semuanya berubah.”Heechul menepuk pundak Hae memberi sedikit dukungan, “Kalian sudah dewasa, jadi selesaikanlah masalahmu dengan Hyukie.”

“Dia membenciku.”Hae berseru.

“Kata siapa?”

“Hyukie yang mengatakan sendiri padaku.”Hae membenarkan posisi duduknya.

“Kau percaya dengan anak itu. Kau tau sendirikan kalau anak itu memang sering berbicara tanpa dipikir terlebih dahulu. Selesaikanlah urusanmu dengannya, aku juga tidak mau anak bodoh itu terluka.”Heechul tertawa.

“Mian jika aku melukainya, kau boleh membenciku.”

“Aku membencimu jika kau tidak menyelesaikan masalahmu dengan Hyuk, temui Hyuk sekarang.”

“Dia pasti tidak mau menemuiku sekarang.”

“Jika dia tidak mau, paksa dia agar mau menemuimu. Bukankah aku sudah memberikan kunci duplikat kamar Hyuk. Gunakan dengan baik kunci itu.”

“Gomawo.”

“Sudahlah, aku tidak mau orang lain yang menjadi menantuku. Jadi cepat bertindak Hae.”

Dan setelah ucapan Heechul, Donghae langsung beranjak meninggalkan Heechul yang tersenyum.

XXOOXX

Gelap…..

Ketika pemuda itu membuka kamar itu, tidak ada cahaya lampu yang menerangi, hanya sedikit cahaya bulan yang masuk melalui celah kaca. Pelan dia berjalan, mencoba mengatur nafas yang sudah hampir tercekat ketika melihat punggung pemuda yang pernah disentuhnya itu. Dia melihat pemuda itu, berbalut selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Rambutnya yang berwarna pirang tampak gelap akibat tidak ada penerangan.

Semakin dekat langkahnya, semakin detak jantungnya berirama. Hae tidak bisa berfikir sekarang, membiarkan apa yang terjadi nanti mengalir begitu saja. Entahlah ini terlalu sulit, ini sama saja membuat dirimu jatuh ke dalam sebuah perasaan yang tidak menentu.

Dia mengatur nafasnya, berharap rasa gugup musnah ditelan dinginnya sang malam. Berharap bahwa setiap apa yang dia lakukan berjalan sesuai harapannya. Hae tahu ini adalah sesuatu yang sulit, membujuk Hyuk yang memang terlalu sensitive. Dia mengenal Hyuk dan selalu memperhatikan Hyuk, tidak peduli jika lima tahun sudah mereka tidak bersama lagi. Dia masih ingat bagaimana Hyuk kecil menangis ketika dia pindah karena pekerjaan appa-nya. Dan kini semuanya berubah, Hyuk berubah dan keadaan memang sudah berubah.

Biarlah, dia biarkan semuanya mengalir begitu saja. Hanya pasrah dan mengikuti setiap apa yang akan terjadi. Entah itu adalah sesuatu yang baik maupun tidak. Karena Hae tahu bahwa setiap apa yang terjadi akan selalu bermuara pada sosok Hyukjae.

Langkah semakin pelan, membuat suara tapak kaki akibat gesekan sepatu dengan lantai.

“Hyukkie…,”Hae mulai berbicara.

Dia mulai mendekati tubuh berbalut selimut itu.

“Jangan mendekat brengsek, pergilah!”umpatan langsung keluar dari mulut Hyuk.

Hae tertegun, dia tahu Hyuk marah kepadanya. Tapi, bukan Lee donghae namanya jika dia tidak mampu mengontrol semuanya. Hae melihat tubuh Hyuk bergetar, sebegitu marahkah Hyuk padanya. Dia tahu dia memang sudah keterlaluan, tapi dia ingin memperbaiki semuanya, memperbaiki sesuatu yang seharusnya tidak kusut seperti ini. Namun dia juga tidak berharap banyak jika Hyuk tidak memaafkannya.

“Walaupun kau tidak mau mendengarkanku, tapi aku mau minta maaf padamu.”Hae berdiri memandang tubuh Hyuk yang berbaring membelakanginya.

“Kau minta maaf setelah apa yang kau lakukan padaku, mengganggu hidupku dan merebut ciuman pertamaku hanya untuk main-main.”Hyuk menyingkirkan selimutnya, dia turun dari atas ranjang menatap Hae dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Lantas apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya. Kau boleh memukulku lagi.”

“Memang itu yang akan aku lakukan.”

“Buggg.”

Hyuk kembali memukul Hae. Hae tersungkur di lantai, dia membiarkan Hyuk memukul dirinya. Dia rela jika Hyuk melakukan itu. Pelan Hyuk berjalan, menunduk meraih kerah baju Hae. Dia kembali menghujani Hae dengan pukulannya . Berkali-kali, hingga darah segar menetes dari bibir Hae.

“Kenapa kau tidak membalas pukulanku Hae.” entah sudah berapa banyak pukulan yang Hyuk lakukan.  Namun Hae tidak bergeming, membiarkan wajah mulusnya harus berubah warna.

“Apa kau sudah puas sekarang, Hyuk? Jangan berhenti jika kau masih belum puas.”

“Kau brengsek Hae.”Hyuk mengeratkan tangannya mencengkeram kerah Hae. Dia menundukkan wajahnya, membuat rambutnya menutupi sebagian matanya. Dia bisa melihat jelas wajah Hae yang sudah tidak berbentuk lagi, tersungkur dengan lebam dan darah anyir yang mengalir melalui sela-sela bibirnya, “Kenapa kau melakukan ini semua?”

Hae menatap mata hyuk  yang tepat di depannya.

“Aku menyukaimu.”Hae menarik tangan Hyuk, membuat tubuh Hyuk menimpa Hae. Hyuk mencoba bangkit, namun cengkeraman Hae terlalu kuat hingga dia tidak mampu sekedar untuk menggerakkan badannya.

“Kau berbohong, lepaskan aku.”

“Kenapa kau begitu membenciku Hyuk?”Hae menatap Hyuk, membuat Hyuk membuang wajahnya., “Kemana senyummu ketika aku kembali ke Seol, kau bahkan tidak menyambut kedatanganku.Kau sama sekali tidak memperdulikan kedatanganku. Kau tahu bagaimana perasaanku ketika kau lebih meperdulikan majalah-majalah tidak berguna itu dibandingkan denganku. Bahkan aku harus melihatmu dekat dengan seorang Sim Changmin.”

“Aku membencimu Hae, jadi lepaskan aku.”Hyuk memberontak, tapi semakin Hyuk berusaha maka semakin erat tangan itu mencengkeram tubuhnya.

“Tidak akan, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu.”suara Hae menggelitik indera pendengaran Hyuk membuat Hyuk menatap tajam pemuda itu, “Kenapa kau membenciku Hyuk, apa alasanmu begitu membenciku.”

“Kau ingin tahu kenapa aku membencimu Hae. Aku benci semuanya tentangmu, dengan seenaknya kau pergi meninggalkanku. Aku membencimu, kau yang merusak hidupku waktu itu. meninggalkanku sendiri, kau tahu Hae aku ingin sekali menghapus semua tentangmu.”

“Tapi aku kembali Hyuk.”

“Ya, kau kebali untuk menghancurkan hidupku kan. Menjadi seorang komite kedisiplinan dan mengusik hidupku. Sebenarnya apa maumu?”

“Kau tidak tahu hyuk, bagaimana kecewanya aku ketika kau tidak menganggap keberadaanku, dengan cara ini mungkin kau mampu melihatku lagi.”

“Bohong, kau ingin melihatku jatuhkan dan kau juga telah merendahkanku Hae.”

“Apa yang aku lakukan?”

“Bagaimana dengan ciuman menjijikan itu, kau bahkan melakukannya untuk mempermainkanku kan!”teriak Hyuk.

“Hyuk, aku melakukannya karena aku tidak rela kau menyentuh orang lain selain aku. Aku menyukaimu dan aku tidak bisa menahannya. Aku marah dan aku tidak bisa menahan perasaan cemburu yang meluap begitu saja. Kau tahu Hyuk, ada perasaan sakit yang muncul ketika aku melihatmu bersama orang lain. ”

“Bohong…,”

“Kenapa kau selalu mengatakan kalau aku berbohong, kapan aku pernah berbohong padamu.”

“siapa yang berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu.”

“Tapi aku kembali.”

“Setidaknya itu sudah membuktikan jika kau pernah berbohong padaku.”

“Kau sungguh keras kepala.”

Hae akhirnya melepaskan cengkeramannya, membuat Hyuk langsung mengubah posisinya itu. Dengan napas terengah-engah hyuk terbaring di samping Hae, dia terlalu lelah untuk berdebat dengan Hae. Atau hatinya melunak setelah melihat luka yang dia timbulkan di wajah Hae. Keduanya terdiam, membiarkan hawa dingin menjadi nada pengiring suasana. Hae, melirik ke arah Hyuk sambil memperhatikan wajah pemuda yang entah sejak kapan disukainya itu. Dia tidak peduli dengan rasa sakit yang tertinggal menggerogoti tubuhnya.

“Hyukkie, apakah kau masih membenciku.”Hae mengatur nafas, dadanya naik turun seiring dengan hembusan nafasnya.

“Entahlah Hae. Aku tidak tahu apakah aku harus percaya padamu.”Hyuk menerawang melihat langit-langit dalam kegelapan. Hening, hanya ada suara desahan  nafas lelah. Keduanya memejamkan mata menikmati suasana yang tercipta.

“Percayalah padaku, aku mencintaimu Hyuk. Meski kau sama sekali tidak percaya, aku akan membuatmu percaya padaku.”Hae  menoleh ke arah Hyuk, namun pemuda itu hanya menerawang kegelapan.

“Mencintaiku, apa yang akan kau lakukan untuk membuatku percaya padamu.”

“Ini yang akan aku lakukan.”Hae menarik kembali tangan Hyuk, membuat tubuh pemuda itu dekat. Semuanya tahu apa yang dilakukan Hae. Dan kembali lagi sebuah momen berlalu untuk kedua kalinya, dimana kini Hyuk mulai memejamkan matanya. Mencoba merasakan apa yang dilakukan Hae. Tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi emosi dan tidak ada lagi perasaan ingin mendominasi. Membiarkan hal itu mengalir begitu saja, lembut dan penuh makna. Karena hal inilah yang seharusnya terjadi, tidak ada luka sama sekali.

Ketika hembusan nafas mereka bertemu, mereka merasakan ketulusan yang nyata. Tidak ada perasaan lelah, hanya membiarkan semuanya semakin dalam. Meski pasokan udara menuntut, mereka rela menahan kebutuhan hanya untuk sang kekasih. Dengan cinta, memberi dan merasakan adalah sebuah hal yang patut untuk dibina. Semuanya terus berjalan dan mengalir tidak peduli cahaya bulan yang semakin menunduk malu atas apa yang mereka lakukan.

Akhirnya, ketika waktu harus memaksa mereka untuk berhenti dan sesak luar biasa yang memaksa mereka untuk segera melepaskan diri semuanya berakhir. Dengan warna merah yang menjalar di kedua pipi mereka dan dengan tercekatnya paru-paru mereka semuanya usai, menyisakan hawa dingin sebagai instrument kisah mereka, menyisakan detakan jam dinding sebagai melodi yang mengalun di hati dan menyisakan sebuah tarikan senyuman sebagai bukti ketulusan mereka.

Inilah moment yang akan mengantarkan mereka ke dalam suatu hubungan yang lebih. Dimana kepercayaan akan menjadi pondasi , di bawah payung kesetiaan dan cinta sebagai kebutuhan primer.

XXOOXX

Kedua pasangan suami istri berdiri tepat di depan kamar Hyuk, mereka menajamkan telinga mencoba mencuri dengar apa yang terjadi di dalam. Bahkan Heechul menaiki kursi untuk mengintip apa yang dilakukan sepasang pemuda itu. Walaupun mereka berusaha, tapi hasilnya nihil. Mereka sama sekali tidak bisa melihat apa yang terjadi. Suara mereka terlalu pelan bahkan kegelapan seolah-olah menjadi selimut tebal yang menutupi semuanya.

“Kau mendengar sesuatu.”Kangin menepuk pundak istrinya Leeteuk.

“Aku tidak mendengar apapun, apa yang mereka lakukan.”Leeteuk menatap ketiga namja itu.

Hankyung menarik Leeteuk, menggantikan pasisi untuk mengintip pasangan ikan dan monyet itu. Dia benar-benar khawatir sekarang, dia tidak akan membiarkan putranya disentuh oleh siapapun juga.

“Aku harus mendobrak pintu ini.”Hankyung mengepalkan tangannya.

“Jangan sayang, biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka.”Heenim melotot.

“Tapi, ikan itu sudah mencium Hyukkie. Apa yang akan ikan itu lakukan bila berada di kamar hyukkie.”protes Hankyung.

“Ya, China oleng. Jangan panggil anakku ikan, lagipula aku yakin Hyukkie mau saja bersama anakku yang ganteng itu dan aku percaya Hyukkie akan bahagia jika mendapat seme seperti anakku”Kangin yang merasa tersinggung mendorong Hankyung.

“Apa yang kau katakan, dasar Racoon. Tidak mungkin anakku menjadi seorang uke.”Hankyung balik mendorong Kangin.

“Bukankah sudah terbukti, anakku yang dominan.”

“Itu belum pasti, aku percaya Hyukkie yang menjadi seme.”

“Atas dasar apa kau mengatakan itu, anakmu tidak ada bentuk seme sama sekali. Mana ada seme yang menyukai susu strawberry.”Kangin tertawa merendahkan.

“Begitukah, terus mana ada seme yang hobi menangis.”Balas Hankyung.

“Hyukkie  juga hobi menangiskan. Dan apakah ada seorang seme yang menyukai kembang gula.”Kangin mengejek. Dia menyeringai setelah melihat Hankyung mendesah kalah.

“Baiklah, kita lihat nanti. Siapa yang di atas dan siapa yang di bawah.”

“Hahaha, yang pasti anakku tidak akan pernah berada di bawah.”

“Ayo kita buktikan.”

Leeteuk dan Heechul hanya menggelengkan kepala melihat aksi suami mereka. Ini kekanak-kanakan, tidakkah mereka sadar mereka sudah memiliki putra. Dan perdebatan itu terus berlanjut sampai suara decitan pintu terdengar jelas di telingan mereka, Suara itu membua mereka  terdiam. Hanya ada suara desahan nafas yang tertahan di tenggorokan dua seme itu. Pada akhirnya kepala Donghae menyembul dari ruangan.

“Apa yang kalian lakukan?”Hae mendesah.

“Hae katakan pada appa, kau yang di atas kan!”Kangin langsung bersuara membuat Hankyung menatap tidak percaya terhadap apa yang dikatakan.

“Tidak mungkin, kau pasti yang di bawah kan!”Hankyung menarik kerah Hae.

“Sebenarnya ada apa ini.”Hae menatap mereka bingung, Leeteuk dan Heechul hanya mengangkat bahunya tidak mau tahu dengan polah suami-suami mereka.

“Ayo katakan saja pada kami, kau pasti paham dengan apa yang kami ucapkan.”

“Oh soal itu, aku yakin sih. Tapi untuk memastikannya tunggu saja di sini, setelah itu aku akan mengatakannya pada kalian.”

Brakkkkk

Pintu tertutup begitu saja. Mereka berempat masih mencerna dengan apa yang diucapkan Hae. Hanya bisa memandang pintu yang sudah tertutup rapat, mengerjabkan matanya berkali-kali sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Beberapa detik  tidak ada respon yang terjadi. Mereka mulai mencerna setiap kata yang diucapkan Hae.  Mereka menganga lebar.

Satu detik…

Dua detik….

Tiga detik…

“Andweeeeeee,”

Dan suara lolongan dua pasangan suami istri itu terdengar memecah keheningan malam.

0000end000

6 thoughts on “I Will Get You

  1. hahh~ *nafas lega..
    akuuur juga akhirnyaaaaa….
    suka..sukaa..
    ngakak pas bagian akhir..
    hhhaaaa~..
    jadi yang yadong sapa??
    hhoo…

    eh iya chukae yah author…
    \(>.<)/

  2. Yeyyyyy!! Berakhir dengan bahagia^^

    Bingung nih mo comment apa??
    Soalnya ada yg lagi dikerjain *sok sibuk* XP

    Chukkahaeyooo!! Bagi yang menang..
    Suwerr, ceritanya keren :))))

  3. ini ff yang menang ya?? #soktau
    chukahaeyo ya~~~😀 *tebar kolor hyuk*😄

    yadongers~~ ><
    hyuk jahat ih mukul hae~
    tan kacian haenyaa atittt #mendadakcadel😄
    keren ceritanya~😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s