fanfictions

Christmas Wishes

Title : Christmas Wishes

Main Cast :

–          Lee Hyukjae

–          Lee Donghae

And another support cast.

Main Pairing : HaeHyuk

Author : Nashelf

Genre : Romance / AU / Yaoi

Rating : G

Length : One-shots

***

Seoul, 24th Des: 20.32 KST

Donghae’s POV

Jingle bell, jingle bell~

Lagu-lagu natal teralun dengan merdu dari radio yang dinyalakan oleh appaku dari ruang keluarga. Eomma sedang memasak di dapur, appa sedang membantuku membuat pohon natal di ruang keluarga. Dan… wala! Pohon natal kami akhirnya jadi!

Aku berlari menuju eommaku tidak sabar memberikan kabar menggembirakan ini, “ eomma! Sudah jadi! Pohon natalnya sudah jadi! “

aigo, kau sudah berumur 15 tahun tapi sikapmu tidak berubah-ubah, Hae-ya, “ eomma mengusap lembut puncak kepalaku, “ seharusnya kau bersikap lebih dewasa lagi, jagiya

“ tapi tidak seru! Itu berarti Hae Hae sudah tua!! Hae Hae mau jadi anak-anak selamanya! “

Eomma mencubit hidungku pelan, “ seingat eomma, kau paling tidak suka jika ada seseorang yang memanggilmu Hae Hae, katakan pada eomma apa keinginanmu kali ini “

Aku tersenyum lebar ke arah eommaku. Ia memang yang paling mengerti akan diriku. Aku menarik tangan eomma dan membawanya duduk bersamaku dan appa di ruang keluarga.

“ aku ingin melakukan sesuatu, eomma dan appa harus berjanji menurutinya! “

Eomma dan appa memandangku bergantian sebelum mengangguk, “ selama itu perbuatan baik tentu eomma dan appa akan menurutinya, sayang “

“ kemarin Hae jalan-jalan ke gereja di pinggir jalan sana, dan Hae banyak bertemu orang-orang tidak mampu… Hae ingin menolong mereka kemarin tapi Hae sama sekali tidak punya uang.. Hae… ingin menolong mereka, eomma, appa… “

Eomma dan appa saling menatap untuk beberapa detik seolah-olah berbicara tanpa kata-kata. Aku menatap mereka takut-takut. Yeah, ini permintaan terbesar yang pernah aku pinta kepada kedua orang tuaku dan aku harap mereka mau mengabulkannya.

aigo, anak eomma berhati mulia sekali, “ eomma menarikku agar aku duduk di pangkuannya, “ tentu saja kami mengizinkan kau menolong mereka Donghae-ya, kemasi barang-barang yang ingin kau berikan pada mereka atau kalau kau mau kau bisa mengajak mereka kemari dan makan bersama dengan kami sekeluarga “

“ semuanya? “

Appa mengangguk, “ semua sebanyak Donghae mau “

***

Aku merapatkan jaketku sembari mengenakan sepatu favoriteku. Cuaca di luar sangat dingin, hujan mulai turun menghiasi seoul. Fikiranku mulai berkeliaran menuju orang-orang—yang sebagian besar anak-anak—yang berada di dekat gereja tersebut.

Aku yang berada di dalam rumah saja kedinginan, apalagi mereka yang hanya beralaskan tanah, tak beratap dan berbaju tipis.

Dengan fikiran itu aku segera menyelesaikan acara ikat-mengikat sepatuku, “ eomma, appa, aku berangkat dulu! Annyeong! “

Ne! hati-hati dijalan, sayang. Menurut perkiraan cuaca hari ini akan terjadi badai salju! “

Ne! “

Aku segera berlari kepintu depan. Tampak suasana jalanan sangat sepi dan lampu-lampu sekitar rumah menyala dengan terangnya. Suara tawa dan musik-musikpun bisa terdengar dari jarak puluhan kilonya. Benar-benar suasana natal yang aku harapkan.

Kakiku mulai melangkah perlahan demi perlahan menuju gereja. Selama perjalanan aku mendendangkan lagu-lagu natal yang masuk kedalam daftar lagu favoriteku. Dan disinilah aku sekarang. Berdiri di hadapan gereja tua yang menampung beberapa orang miskin di dalamnya. Tidak benar-benar menampung sih, karena orang-orang tersebut masih tidak terurus dengan benar.

Ketika aku hendak melangkah masuk, sebuah suara menghentikan langkah kakiku. Ternyata tidak jauh dariku, ada seorang anak laki-laki—yang aku perkirakan berumur sama seperti diriku—tengah berdo’a dengan khusyuknya. Suasana gereja yang tenang mampu membuatku mendengar do’a anak lelaki tersebut. Perlahan-lahan—karena aku tidak ingin mengganggunya, aku mendekati anak tersebut dan ikut berdo’a bersamanya disampingnya.

“ Aku ingin malam natal ini dapat aku lalui bersama appa dan eomma seperti dua tahun yang lalu, disaat appa belum jatuh bangkrut dan eomma yang bermain di belakang appa. Semoga aku bisa merasakan indahnya malam natal ini, Tuhan—“

“ AMIEN, “ ucapku tanpa sadar

Anak lelaki tersebut membuka kedua mata yang ia pejamkan sedari tadi dan menatapku tidak suka. Ugh! Apa yang harus ku lakukan sekarang? Minta maaf? Aniyo, lebih baik aku mendatanginya saja.

“ emmh, annyeong, Donghae-imnida! “

Hyukjae’s POV

Aku berjalan secepat mungkin, memaksa kedua kakiku agar membawaku keluar dari neraka-dunia tersebut secepat yang aku mampu. Ya, walaupun aku masih tinggal di dunia, aku telah merasakan bagaimana panasnya neraka tersebut.

Rumahku sendiri.

Aku segera menuju gereja tempat dimana aku dan kakekku bermain dulu, disaat aku berumur 7 tahun. Sudah 3 tahun berlalu sejak kematian kakekku dan sejak itu, kehidupanku berubah. Setahun setelah kematian kakekku, perusahaan appa bangkrut dan eomma berselingkuh di balik appa.

Tidak ada senyuman di kehidupanku sejak hari itu. Bahkan aku tidak tau apa arti diriku berada di keluarga tersebut. Aku tidak lagi seperti aku yang berada di lingkaran keluarga itu 3 tahun yang lalu. Aku bukanlah aku yang sama setelah kematian kakekku tersebut.

Aku menghentikan langkahku begitu aku telah tiba di pintu gereja. Aku ingin masuk, tapi siapa aku? aku hanyalah orang-orang penuh dosa yang tidak diperizinkan untuk masuk menginjakkan kakiku di tempat sesuci ini, sesuci gereja. Aku memejamkan kedua mataku, ku tadahkan tanganku ke atas, berharap Tuhan masih mau menerima do’aku walaupun aku bukanlah orang yang suci seperti sedia kala.

“ Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa yang pernah hamba perbuat. Dihari yang suci ini, hamba ingin memohon kepadaMu ampunan yang sebesar-besarnya. Ampunilah dosa yang telah di perbuat kedua orang tua hamba, Ya Tuhan. “

Aku menarik nafas panjang-panjang begitu merasakan air mata terbendung di ujung mataku, “ Aku ingin malam natal ini dapat aku lalui bersama appa dan eomma seperti dua tahun yang lalu, disaat appa belum jatuh bangkrut dan eomma yang bermain di belakang appa. Semoga aku bisa merasakan indahnya malam natal ini, Tuhan—“

“ AMIEN “

Aku segera membuka mataku begitu mendengar ada seseorang yang tengah ikut berdo’a bersamaku. Dan benar, disampingku terdapat seorang anak lelaki—yang sepertinya berumuran sama denganku, tengah ikut berdo’a bersamaku. Aku menatapnya geram, apa yang ia mau dariku? Mencemooh diriku seperti apa yang di lakukan oleh anak tetangga disekitar rumahku?

Aku bukanlah seseorang yang tidak mau percaya dengan orang lain. Tentu, aku mau. Hanya saja pengalaman demi pengalaman membuatku belajar. Belajar bahwa aku bukanlah seseorang yang bisa dipandang sebagai mana aku dipandang dulu. Pengalaman membuatku membangun dinding pembatas diantara aku dan lingkunganku.

“ emmh, annyeong, Donghae-imnida! “

Ia menyodorkan tangan kanannya ke arahku. Haruskah aku menjawabnya? Dari dalam hati nuraniku, ya, aku ingin sekali menjabat tangan hangat tersebut. Tetapi logikaku memaksa, bahwa aku harus tau siapa diriku sesungguhnya. Kami terdiam untuk beberapa menit lamanya. Aku hanya diam memandangi tangannya dan ia hanya terdiam menatapku apakah diriku mau menjabat tangannya atau tidak—itu yang ada di fikiranku.

“ ugh, “ akhirnya ia menarik kembali tangannya, “ apa yang kau lakukan disini? Bukankah ini malam natal? Malam dimana seharusnya anak-anak seumuran kita berada di dalam rumah? “

“ aku tidak punya rumah, “ jawabku berusaha sedingin mungkin.

Ia menatapku kaget, “ Mwo? Kau tidak punya rumah? Lalu, selama ini kau tinggal dimana?! Mengapa kau tidak punya rumah? Kau tidak tinggal di gereja ini, kan? Aku belum melihatmu sebelumnya “

“ neraka. “

Anak itu menaikkan sebelah alisnya bingung, sebelum ia mengucapkan sepatah katapun aku membalik badanku dan meninggalkan dirinya. Bodoh, untuk apa aku membalas perkataannya? Seharusnya aku meninggalkan saja dirinya seperti apa yang sering ku lakukan terhadap orang-orang yang ada di sekitarku, kan?

Tanpa sadar, tanganku tergerak dengan sendirinya menuju ke kedua lenganku. Mengusapnya perlahan, membuatnya hangat. Malam ini udara Seoul amat dingin. Lebih dingin dari perkiraanku. Aku berusaha merapatkan pakaianku namun mustahil, pakaianku terlalu tipis untuk menghangatkan tubuhku. Aku memejamkan mataku berusaha membayangkan bahwa ada dua perapian berada disekelilingku.

Dan benar, aku merasakan dingin yang menusuk tulang-belulangku tersebut menghilang begitu saja. Apa cerita gadis si korek api itu benar-benar ada? Namun fikiranku terpotong begitu merasakan tangan seseorang menggenggam tangan kiriku dan memasukkannya kedalam saku pakaiannya.

“ kalau kau kedinginan, seharusnya kau katakan padaku “

Aku membuka kedua mataku dan menatap anak lelaki itu dengan tajam, “ apa pedulimu? Aku tidak mengenalmu, kau tidak mengenalku. Tidak seharusnya aku mengatakan apa yang aku rasakan padamu, benarkan? “

Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan tanganku dari genggamannya namun ia semakin menggenggamku dengan erat. Bahkan aku baru menyadari bahwa ada sebuah jaket tersempir dengan indahnya di bahuku. Bukankah itu jaket miliknya?

“ ini jaketmu? “

Ia mengangguk sembari tersenyum lebar, “ Ne, kau kedinginan tadi jadi aku serahkan saja jaketku padamu. Tapi kau tetap saja dingin, “

“ aku tidak butuh, lepaskan tanganku sehingga aku bisa mengembalikan jaketmu “

“ tapi aku tidak ingin kau melepaskan jaketku jadi aku tidak akan melepaskan genggaman tanganku, mengerti? “ ia menghentikan jalannya membuatku berhenti berjalan pula, “ siapa namamu? “

“ pedulikah dirimu? “

“ tentu saja! kau tau, aku tidak punya teman selama aku tinggal disini dan kau adalah orang pertama yang menjadi temanku! “

“ aku bukan temanmu, lepaskan tanganku!! “

Ia malah menautkan jari jemarinya dengan tanganku, “ tidak akan sebelum aku tau namamu! Beritau aku namamu “

“ Hyukjae, puas?! Sekarang lepaskan tanganku!! “

Ia tersenyum lebar sebelum melepaskan tangannya dari tanganku. Dengan segera aku menarik tanganku keluar dari kantong bajunya. Ya! Kami berdua laki-laki, kami tidak saling kenal, kami orang asing tapi kami berdua berjalan selayaknya orang pacaran! Ugh, itu menjijikkan!

“ jadi, kau mau kemana sekarang Hyukkie? “

Hyukkie? Hanya kakek yang pernah memanggilku dengan Hyukkie…

Aku membuang mukaku ke arah lain berharap ia tidak melihat wajah sedihku, “ jangan memanggilku Hyukkie! Aku tidak suka ada orang memanggilku Hyukkie, dan lagi bukan urusanmu aku akan tinggal dimana “

“ tidak perduli, aku akan memanggilmu Hyukkie! Seorang sahabat berhak mendapatkan panggilan khusus antar sesama sahabat, dan seorang sahabat harus tau dimana sahabatnya tinggal. Jadi, dimana kau tinggal selama ini Hyukkie? “

Sahabat? Ia sudah menganggapku seorang sahabat? Aish, jangan percaya Hyukjae! Ia pasti sama seperti yang lainnya. Tidakkah kau ingat?

“ kau tidak perlu tau, kau tidak pulang? Aku rasa semua orang tengah sibuk dengan keluarganya, ini malam natal, kan? Seharusnya kau berada di keluargamu, menyanyi, berdansa, tertawa, bercanda-gurau bersama. Bukan menemani orang sepertiku “

“ kalau begitu, kau mau kerumahku? Seharusnya seorang sahabat merayakan natal bersama-sama! Kau maukan, Hyukkie? “

“ HENTIKAN!! “ aku menatapnya jengah, “ aku tau kau punya rumah! Aku tau kau punya keluarga yang hebat! Aku tau kau pasti hanya mempermainkanku sama seperti yang lainnya! Kau boleh memperlakukanku apapun yang kau inginkan tapi bisakah kau berhenti memanggilku Hyukkie?! Aku muak mendengar nama itu! “

“ mengapa? Nama itu pas denganmu.. “

Aku mengepalkan kedua tanganku jengah. Tanpa membalas perkataannya, aku melepaskan jaket yang ia berikan dan meletakannya di telapak tangannya. Ia menatapku heran. Keherannya aku jamin bertambah begitu melihat air mata yang entah mengapa turun dari kedua mataku.

“ terima kasih jaketnya, permisi “

Aku segera berlari secepat mungkin, menghilang di kegelapan. Kakiku berlari tanpa tujuan. Setidaknya berlari sejauh anak lelaki itu dapat melihatku. Aku bukan tidak ingin percaya dengan perkataan anak tersebut. Aku hanya…

Takut.

Hidup selama 3 tahun lamanya tanpa ada orang yang percaya kepadamu, tanpa ada orang yang memberikanmu kasih sayang, siapa yang tidak akan takut? Siapa yang tidak akan takut begitu keinginan yang kau inginkan tiba-tiba terkabul tepat dihadapanmu tepat setelah kau membuka kedua matamu?

Aku mendudukkan badanku di sebuah bangku yang tidak jauh dari tempat pemberhentian bus. Jauh sekali rupanya aku berlari. Aku melihat sekeliling dan jalanan benar-benar sepi. Aku tidak yakin orang tuaku akan mengkhawatirkanku jika malam ini aku tidak pulang. Aku merebahkan diriku di bangku tersebut sembari menatap bintang yang menghiasi langit malam.

Tanpa aku sadari, tangan kananku bergerak menggenggam tangan kiriku tepat dimana anak tadi—atau yang tidak salah bernama Donghae, menggenggamnya dengan hangat. Aku masih bisa merasakan kehangatan yang ia berikan ke tanganku.

Sebuah air mata menetes dari ujung mataku. Berat ku akui, aku merindukan kehangatan tersebut. Kehangatan yang di berikan seseorang terhadapku. Selama 3 tahun ini, hanya tamparan dan pukulan yang selalu aku terima, membuatku lupa bagaimana rasanya sebuah kehangatan itu. Sampai hari ini, seperti sebuah malaikat di turunkan oleh Tuhan untuk memberikan kehangatan yang sempat sirna dari kehidupanku.

Apakah itu berarti, Tuhan masih sayang kepadaku? Apakah itu berarti, aku masih di perbolehkan menerima kasih sayang? Apakah itu berarti, aku masih salah satu anak-anakNya?

“ Tuhan, jikalau engkau masih menyayangi hambamu yang tidak berdaya ini, hamba hanya ingin satu hal… hamba ingin merasakan sebuah cinta dan kasih sayang. Tunjukkanlah rasa kasih sayang dan cintaMu pada hamba, Tuhan… “

Aku memejamkan kedua mataku begitu rasa lelah-kantuk-dan-dingin mulai menyelimuti tubuhku. Senyum dan wajah bahagia Donghae terselibat sekilas dalam benakku—tanpa sadar, aku ikut tersenyum.

Jika esok aku bertemu dengannya lagi dan sikap yang ia berikan padaku masih sama seperti sikap yang ia tunjukkan padaku hari ini, aku.. akan percaya padanya

Donghae’s POV

Aku menatap pohon natal yang ada di ruang keluargaku dengan lemas. Aku telah memberi tau appa dan eomma ada seorang anak yang menarik perhatianku namun ia sama sekali tidak mau menggubris apapun dari yang telah aku lakukan.

“ sudahlah Donghae sayang, mungkin kau bisa mencobanya di lain kesempatan “

Aku mengerucutkan bibirku semakin menjadi, “ tapi appa—“

“ nanti. Ia hanya belum terbiasa. Bukankah kau sendiri yang mendengar bahwa ia mengutarakan isi hatinya terhadapmu? “

“ huh? “

Eomma datang membawa sebuah nampan berisi cookies, “ tadi kau bercerita bahwa ia mengatakan ‘aku tau kau punya rumah! Aku tau kau punya keluarga yang hebat! Aku tau kau pasti hanya mempermainkanku sama seperti yang lainnya! Kau boleh memperlakukanku apapun yang kau inginkan tapi bisakah kau berhenti memanggilku Hyukkie?! Aku muak mendengar nama itu!’, bukan? “

“ hmm!, “

“ itu isi hatinya, Donghae-ya. Tunggu esok, jika kau bertemu dengannya lagi jangan memusuhinya, kau mengerti? Ia hanya tidak percaya dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, “ ujar appa sembari mengambil sebuah cookies

“ tentu saja tidak akan appa! Aku ingin menjadi temannya dari lubuk hatiku yang terdalam! Tidak mungkin aku akan memusuhinya hanya karena ia menolak menggunakan jaket yang aku pinjamkan padanya! “

that’s my son! Sekarang, ayo kita rayakan malam natal ini dengan senyuman! “

Aku mengangguk dan berusaha tersenyum. Aku tidak dapat menikmati malam ini sedikitpun. Fikiranku masih berkeliaran menuju Hyukjae. Dimana ia sekarang? Apakah ia kedinginan? Sudahkah ia makan? Dimana ia tidur? Apa yang ia lakukan?

Berjuta pertanyaan melayang-layang dengan indahnya di otakku membuatku tidak dapat terfokus untuk menikmati malam ini. Bagaimana aku bisa menikmati jika ada seorang sahabatku terluka diluar sana?!

Ya Tuhan, semoga Hyukjae baik-baik saja diluar sana…,

***

Aku membuka mataku begitu mendengar suara-suara ribut di luar rumahku. Hari natalpun tiba! Hari yang telah kami tunggu-tunggu selama ini! Aku segera melempar selimutku kesembarang arah dan berlari ke kamar mandi. Kegiatanku terhenti di tengah-tengah begitu melihat jaket yang tersampir dengan indahnya di kursi belajarku.

“ Hyukjae… “

Bagaimana ia sekarang?

Selalu pertanyaan itu muncul di benakku. Tidak dapatku pungkiri, aku benar-benar khawatir dengannya. Ia terlihat begitu rapuh, begitu terluka, begitu.. tidak berdaya. Walaupun ia berumur 15 tahun, ia seperti seorang anak kecil yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Namun hal yang aku benci dari dirinya hanya satu, pandangan matanya.

Pandangannya terlalu kosong membuatku tidak dapat menebak apa yang sedang ia fikirkan, apa yang sedang ia rasakan. Terlalu kosong untuk anak-anak seumuran kami. Terlalu kosong sehingga tidak dapat menggambarkan bermacam-macam perasaan.

It’s complicated.

Rumit bagai sebuah benang yang terlilit oleh beribu-ribu benang lainnya. Tapi aku percaya, pasti ada ujung yang akan ku temukan. Setiap benang mempunyai ujung dan aku yakin, Hyukjaepun berujung. Pasti ada cara untuk memecahkan masalah ini.

Tanpa berfikir untuk mandi, aku segera menyambar jaket tersebut dan syal yang sama tersusunnya dengan jaketku. Aku berlari keluar kamar. Di ruang tamu, appa dan eommaku tengah bangun sedang menyantap teh paginya.

“ Donghae, sedang apa buru-buru begitu? Kemari, anakku “

Sebagai anak patuh aku segera menghampiri appaku, “ ne, appa? “

Merry x-mas son! “

Ia mencium kedua pipiku, begitu pula eommaku. Aku tersenyum dan membalas perlakuan mereka berdua. Ku peluk dan ku cium kedua orang tuaku.

Merry x-mas too, eomma, appa! “

“ mau kemana kau pagi-pagi sekali seperti ini sayang? Di luar masih turun salju, bahkan tadi malam badai benar-benar turun “

MWO??! Andwae! Aku… pergi dulu, eomma, appa! Ada seseorang yang harus aku cek keadaannya! Annyeong! “

Aku segera membereskan jaket dan syal yang terjatuh ketika aku memeluk kedua orang tuaku dan berlari ke pintu depan. Sayup-sayup aku mendengar suara orang tuaku mengucapkan ‘good luck’ atau sebangsanya.

Hyukjae… kau baik-baik saja, kan?

Selesai memakai sepatu aku segera berlari keluar dari rumahku. Dan benar seperti kata eomma, benar-benar terjadi hujan salju. Rasa khawatir semakin menyeruak di sekujur tubuhku. Mengingat seberapa tipis pakaian Hyukjae kemarin membuatku semakin khawatir.

Aku segera berlari menuju tempat-tempat terdekat dari gereja tersebut. Dimana? Dimana Hyukjae? Kemarin Hyukjae berlari ke arah kanan bukan? Aish! Hyukjae!!

Aku berlari tak tentu arah. Kurang lebih seperti orang gila. Beberapa orang tidak sengaja bertabrakan denganku. Yeah, ini natal. Tentu saja gereja sedang penuh dengan orang. Aku terus berlari tanpa terasa kakiku membawa tubuhku menuju stasiun bis yang dekat dengan gereja tersebut.

Apakah Hyukjae ada disini?

Ini satu-satunya tempat terdekat-beratap yang dekat dengan gereja. Aku yakin Hyukjae ada disini. Aku terus berlari mengitari stasiun tersebut sampai akhirnya aku menemukan tubuh Hyukjae tergeletak tak berdaya di sebuah bangku taman.

“ HYUKJAE!!! “

Aku segera berlari ke arahnya. Seperti dugaanku, dahinya panas, badannya dingin atau yang lebih baik dikatakan beku. Dengan segera aku melingkarkan syal yang aku bawa ke lehernya dan memakaikannya dengan jaket yang aku bawa. Ku gosok-gosok dan ku tiup-tiup telapak tangannya agar tidak membeku. Dan sepertinya apa yang aku lakukan sedikit berhasil, perlahan kedua telapak tangannya menghangat.

Aku menghela nafas lega sebelum menarik tubuhnya kedalam pelukanku berharap dengan ini ia semakin menghangat. Tetapi, apa yang aku lakukan ternyata membuatnya terbangun dari tidur lelapnya.

“ D—Donghae? Apa yang kau lakukan? “ tangannya berusaha mendorong tubuhku.

Namun karena ia terlalu lemas, semua yang ia lakukan hanyalah sia-sia. Aku mengenggam tangannya yang tidak berhenti-hentinya mendorong badanku.

“ menghangatkanmu, sudah kau tidur saja. Aku akan membawamu ke rumahku dan aku tidak akan menerima kata tidak sebagai jawabanmu “

Aku mengangkatnya bridal-style menghasilkan semua mata menatap ke arah kami. Aku tidak peduli. Semua yang aku perdulikan hanyalah cara untuk membuat orang yang ada di dalam gendonganku lebih hangat. Ku rasakan Hyukjae membenamkan wajahnya di dadaku.

Donghae…go..gomawo… “

Aku tersenyum puas. Setidaknya, ia tidak lagi takut padaku. Sepertinya benar kata appa, ia hanya tidak bisa percaya dengan mudah dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Hyukjae’s POV

Aku tersenyum begitu merasakan kehangatan, kenyamanan dan keamanan menjalar seluruh tubuhku. Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Aku membuka kedua mataku dan menatap sepasang mata coklat yang tengah menatapku hangat. Mata Donghae.

“ nyenyak? “

Aku membuang muka ke arah lain dan menyadari aku bukan di stasiun bis sebagaimana aku tidur tadi malam, “ aku di… rumahmu? “

“ kau tidak ingat tadi subuh aku menculikmu dari stasiun bis ke rumahku? Seingatku kau sadar bahkan sampai mengucapkan terima kasih kepadaku “

Wajahku menghangat begitu mendengar perkataan Donghae. Jadi, tadi pagi bukanlah mimpi. Aku benar-benar merasakan kasih sayang yang sejak 3 tahun lalu aku idam-idamkan. Ini kenyataan? Donghae bangun dari tempat tidurnya dan menyerahkanku sebuah nampan yang berisi makanan dari surga.

Makanan dari surga?

Tentu saja. Selama ini aku tidak pernah makan-makanan seperti ini. Semua yang ku makan hanyalah makanan bekas kedua orang tuaku. Tidak jarang, aku tidak memakan apapun karena terlalu mual dengan apa yang mereka berikan kepadaku.

“ ini untukku? “ tanyaku belum berani menyentuh nampan itu sedikitpun

Ia mengangguk, “ eomma memasakkannya untukmu. Ku harap kau tidak keberatan diberi susu strawberry, eommaku bilang itu bagus untuk kesehatan karena strawberry mengandung berbagai maca—“

gwenchana, “ aku memotong ucapannya, “ aku suka strawberry, gomawo. “

Ia tersenyum dan meletakkan nampan tersebut di pangkuanku yang tentu saja aku sambut dengan tidak enak hati. Bagaimana tidak, aku bukanlah siapa-siapa namun mendapatkan perlakuan sebegini rupanya? sepertinya keputusanku semalam benar. Aku harus mempercayai Donghae.

“ kau mau menceritakanku? “ ujarnya memecah keheningan yang entah sejak kapan tercipta diantara kami berdua

“ apa? “

Ia mendudukkan badannya di tepi tempat tidur, “ dirimu. Aku ingin tau dirimu lebih dalam, bagaimana kau sampai tidak mempunyai rumah, bagiamana kau bisa tidak mudah percaya dengan orang lain “

Aku menatapnya heran. Darimana ia tau bahwa aku tidak mudah percaya dengan orang lain? Apa sikapku terlalu terpampang dengan jelas? Ohya, aku tidak percaya dengannya dipertemuan pertama kita. Tentu saja ia bisa menduganya.

“ masalah keluarga “

“ mau membaginya denganku? “

Aku menundukkan kepalaku, “ hanya… pertengkaran antara kedua orang tuaku, membuatku terkena imbasnya. Pukulan, tamparan, hinaan, cacian semua diberikan kepadaku dari kedua orang tuaku. Tidak hanya orang tuaku, tetapi juga tetangga mereka semua menghinaku sebagai anak haram “

“ bagaimana bisa kau di hina sebagai anak haram, Hyukkie? “

“ aku tidak tau, aku terlalu kecil pada waktu itu hingga tidak mengetahui apapun yang mereka caci makikan ke arahku, mianhaeyo… “

Entah mengapa aku merasa bersalah karena tidak dapat menceritakan seluruh cerita kepadanya. Ia mengambil nampan dari pangkuanku—yang sama sekali belum ku sentuh sedikitpun—dan meletakkannya di meja dekat dengan tempat tidur. Ia menaupkan kedua pipiku dan memaksa mataku untuk menatap kedua mata almond coklatnya.

“ Hyukkie, untuk apa kau minta maaf? Ini bukan salahmu, kau sama sekali tidak bersalah, arasseo? “

Entah mengapa sebuah air mata jatuh dari ujung mataku, “ aku… tidak tau… aku tidak tau apa yang harus ku lakukan… aku… “

“ ssh…, “ ia menghapus air mataku yang terus keluar dengan ibu jarinya, “ yang terpenting, I’m here. Aku akan selalu disini, disampingmu, menghilangkan luka yang telah ditorehkan orang-orang disekitarmu. Menghapus semua perih dari hatimu, Hyukkie… “

“ apa aku masih bisa merasakan kasih sayang? Apa Tuhan masih mau menerimaku? Seperti kata tetangga-tetangga, aku anak haram. Anak haram adalah dosa, Donghae… “

“ bukan. Kau bukan anak haram. Kata tetangga bukanlah sesuatu yang bisa kita pegang. Yang aku tau adalah, kau salah satu anak Tuhan. Kita, anak Tuhan. “

Semua air mataku merebah turun begitu mendengar perkataannya. Ia menarik tanganku dan memelukku erat. Ia mengusap punggungku ke atas dan kebawah.

“ percayalah Hyukkie… kau, pantas mendapatkan kasih sayang. Kau pantas mendapatkan cinta. Dan aku yang akan membuktikannya padamu bahwa kau pantas mendapatkannya, “

Aku mengangguk dan membalas pelukannya, “ gomawo Donghae “

***

10 years later….

Aku menyandarkan kepalaku kepada seseorang dan orang tersebut melingkarakan lengannya kepundakku menarikku mendekat ke arahnya. Hangat. Walaupun dihadapan kami memang ada perapian, tapi aku merasa pelukannya yang paling hangat daripada perapian tersebut.

gomawo Hyukkie, gomawo kau mau memberikanku kesempatan untuk membuktikan padamu bahwa kau pantas mendapatkan kasih sayang “

Aku tersenyum dan mengangguk pelan, “ gomawo, karena kau mau membuktikan padaku bahwa aku berhak mendapatkan itu semua, Donghae-ah

Donghae menolehkan kepalanya padaku dan mencium dahiku penuh kasih sayang. Aku memejamkan kedua mataku menikmati sentuhan lembut Donghae padaku.

saranghae, nae sarang

Senyumku semakin melebar. Aku semakin mendekatkan diriku pada Donghae dan melingkarkan lenganku di pinggangnya. Dapat kurasakan senyuman juga terpampang dengan indah di wajahnya.

na do, Hae. Na do saranghaeyo

 

 

 

 

,

The End<3

MERRY CHRISTMAS AEGIS :DD

Sorry kalo ada salah-salah gitu dibagian agamanya, aku bukan agama Kristen ): ini FF sebenernya kolaborasi dari cerpen temen aku sama FF aku. yang ada unsure-unsur agamanya itu cerpen temenku, selebihnya FF aku. jadi… yeah.. pokonya mianhae kalo ada salah XP

Kalo ada salah mohon kasih tau aku biar aku bisa edit agar tidak menjadi SARA, SARA itu bahaya!! Ok? Bonus foto Donghae untuk menaikkan mood kalian agar mau memberitau jikalau ada kesalahan[?]

AND OHMYGOSH!!! THIS IS EUNHAE LAST DAY PERFORMANCE!! ARGH!! I’M STILL CRAVING FOR EUNHAE OVER CUTENESS-____-I WILL MISSING EUNHAE’S DORKYNESS DURING OPPA, OPPAS!! ARGGGGGH

once again, MERRY X-MAS /\(^O^)/\

” Comment = Love “

6 thoughts on “Christmas Wishes

  1. Berasa pernah baca di FFn, pernah di publish di FFn kan?

    Merry Christmas Hyukppa, Donghae-ssi, Author-ssi, and everybody that celebrate it ^^

    1. bukan chingu,
      kalo yang di FFn judulnya White Christmas😀 aku baru sadar punyaku sama punya author itu hampir mirip u,u tapi jujur aku nggak ngeplagiat FF dia T,T itu aja aku baru baca beberapa hari yang lalu setelah kamu bilang ada juga yang di FFn ;AA; mianhae *bow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s