fanfictions

Chocolate Love [Part 1]

Title : Chocolate Love—dedicated for Valentine’s Day

Main Cast :

–          Lee Hyukjae

–          Lee Donghae

And another support cast. (Prepare your heart, she’s a bitch! I really hate her! No offense >^<)

Main Pairing : HyukHae

Author : Nashelf Hafizhah Wanda

Genre : Romance / Angst / Yaoi

Rating : G

Length : Three-shot.

Part : Part 1 |

A/N : YESH, it’s HyukHae. Top!Hyuk, submissive!Hae. Lately, I reeeeeeeeaally love HyukHae rather than HaeHyuk. But it’s still the same right? :3 OHHHH! Nearly forgot, this is inspired by ‘Hi, Miiko!’ number 8 BD I REALLY LOVE THIS COMICS! Sadly Tappei and Miiko never been together-A-

***

cr: the picture isn’t mine!

***

“Hae-ya~”

Aku menoleh begitu mendengar suara serak-serak merdu tersebut mengalun dengan indah ditelingaku. Aku tersenyum begitu melihat senyuman di wajahnya. Dia, Lee Hyukjae, kekasihku, namjachinguku yang palingku cintai dari apapun yang ada di seluruh muka bumi ini.

Ne, hyukkie-ah?”

Ia menarik kursi teman sebangkuku memposisikannya disamping kiriku dan merebahkan kepalanya di bahuku. Aku meletakkan bukuku sebelum membenarkan posisi Hyukjae di bahuku dengan benar.

Wae irae?”

“Lusa valentine, kan?”

Aku berpura-pura mengingat-ingat sebentar sebelum mengangguk ke arahnya, “Ehm! Wae?”

“HaeHae lupa… HaeHae tidak sayang dengan Hyukkie lagi…”

Aku menyerukkan kepalanya dari bahuku bersikap acuh. Sejujurnya aku ingat benar dengan apa yang ia maksud, hanya saja aku senang menggodanya. Ia terlihat begitu menggemaskan apabila sedang kesal ataupun jengkel.

Ia menelungkupkan wajahnya diatas meja dan terus-menerus meraung-raung menggumamkan ‘HaeHae tidak sayang dengan Hyukkie lagi’. Aku menggelengkan kepalaku, heran dengan tingkah kekasihku. Padahal dialah yang menjadi seme di hubungan kita, tapi mengapa sosok semenya tidak pernah terlihat?

“Aish! Aku ingat Hyukkie, aku hanya menggodamu. Berhentilah menangis seperti itu, apa yang akan orang katakan jika mereka melihat ‘the almighty Hyuk’ menangis seperti bayi?”

Ia mendongakkan kepalanya dan menampilkan gummy-smilenya yang menawan, “Jincha? Kau benar-benar ingat?”

“Iya, tidak mungkin aku lupa begitu saja Hyukkie-ah..”

“Ah~ kyeopta! Ku kira kau benar-benar tidak mengingatnya!”

Pabo.

Ia melingkarkan lengan kanannya dan menarik kepalaku ke dada bidangnya, “The pabo you love the most.

Blush!

Kontan semburat merah menghiasi kedua pipiku. Hyukjae yang melihat hal tersebut menggodaku semakin menjadi-jadi. Aku mendesis kesal dan memukuli lengannya berharap ia berhenti menggodaku.

Arasseo, arasseo.” Ia menghentikan tawanya dan menatapku lembut. “Aku punya hadiah untukmu. Sebenarnya ini untuk hadiah valentine, tapi entah mengapa aku mempunyai firasat buruk tentang tanggal tersebut.”

“Firasat buruk?”

Ia mengusap tengkuknya yang aku rasa tidak gatal, “Aniyo, lupakan. Tunggu di sini, akan ku ambil hadiah tersebut.”

Aku duduk diam ditempatku mengawasi gerak-geriknya dengan iris mataku. Namun kata-katanya masih tidak terlepas dari dalam fikiranku. Hal buruk? Aku harap itu semua hanya perasaan semata. Aku harap tidak ada yang terjadi di hari bahagia kami tersebut.

Beberapa menit kemudian ia datang menghampiriku dan menyodorkanku sebuah kotak kecil. Kotak tersebut sangat kecil berukuran sekitar 10 x 10 cm yang dibungkus menggunakan bungkus kado berwarna biru laut. Aku menerimanya dengan ragu sembari menatap wajah Hyukjae yang tengah tersenyum lebar—menampilkan gummy-smilenya—tersebut.

“Hyukjae ini.” Kata-kataku terputus begitu mataku menangkap isi dari dalam kotak tersebut.

Sebuah hadiah indah yang tidak pernah aku bayangkan akan mendapatkan darinya secepat ini. Cincin. Dengan berlian di tengahnya. Aku menatap Hyukjae dan cincin itu bergantian.

“Ini…”

“Cincin bukti aku benar-benar serius dalam hubungan kita. Memang bukan sebuah cincin apapun hanya cincin bukti bahwa aku ingin meneruskan hubungan kita ke arah yang lebih serius.” Ia menjelaskan sebelum menunjukkan jari manisnya. “Aku juga punya, same with you.”

Aku tersenyum ke arahnya, “bisa kau pasangkan untukku, hubby?”

As you wish wifey.”

Gyuri’s POV (yes it her!! GAAAAAH I CAN’T BELIEVE IT THAT I MADE HER AS MY CAST IN MY FICTION-_-)

Aku menatap dua orang namja yang sedari tadi mengumbar kemesraan di ruang kelas. Aku meremas bukuku kuat-kuat. Seriously, apakah tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa aku disini telah mencintainya sedari dulu?!

“Gyuri-ssi, kau merusak bukumu.”

Aku segera melepas cengkramanku dan mengangguk minta maaf kepada teman sebangkuku, “Ah, mianhaeyo kalau kau terganggu.”

Aniyo, hanya sayang saja bukumu akan rusak.”

Aku hanya tersenyum kecil ke arahnya. Mataku belum terlepas dari dua orang yang tengah bertukar cincin yang terletak beberapa meter di hadapanku itu. aish. Cincin?! Apa sih yang dilihat dari seorang Lee Hyukjae terhadap Lee DONGHAE?

He just a nerd for fucking’s sake!’ aku mengumpat dalam hati.

“Gyul-ah, kau yakin akan membuat kue untuk Eunhyuk-oppa?”

“Ah Jiyoung…” (She isn’t bit*h! She’s my only favorite in KARA. The others ash, s*cks!)

Jiyoung duduk menarik sebuah kursi kosong dan mengalungkan lengannya ke belakang tengkukku. Mengusap tengkukku dengan ibu jarinya perlahan-lahan. Aku menghela nafasku sebelum mengangguk mantap kepada Jiyoung.

Ne, tidak perduli akan dibuang atau diinjak-injak, aku tetap akan menyerahkannya.”

“Saranku kau menyerah saja, Gyul-ah. Bukannya aku tidak ingin mendukungmu dengan Eunhyuk-oppa, tapi… kau tidak melihat seberapa kuat ikatan cinta mereka sekarang?”

Aku mengangguk dan tersenyum penuh percaya diri ke arah Jiyoung, “tapi kita masih SMA, masih panjang jalur kita, jalur Donghae, jalur Hyukjae-oppa. Ada beribu kemungkinan ia akan menyukaiku juga Young-ah.”

“Aku tidak yakin, tapi terserah dirimu lah. Selama kau bahagia, aku akan mendukungmu Gyul-ah.”

Aku tersenyum lembut ke arahnya. Belum sempat aku mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepadanya, Mr. Kim telah masuk ke dalam kelas membuat Jiyoung kembali ketempat duduknya serta menghentikan aksi mesra-mesraan antara Hyukjae dan Donghae.

“Kau masih memanggilnya Hyukjae-oppa, Gyuri-ssi?”

Aku mengangguk perlahan, “Ne dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah berhenti memanggilnya dengan Hyukjae.”

“Tapi—“

“Aku tau.” Aku memotong perkataan teman sebangkuku dengan cepat. “Aku tau hanya Donghae dan keluarganya saja yang di perizinkan memanggilnya Hyukjae. Tapi what’s the different? Kita temannya, kita seharusnya punya hak untuk memanggilnya dengan panggilan apapun yang kita mau. Dan namanya bukan Eunhyuk, ia Hyukjae. My Hyukjae.”

“Aku ingatkan kau, cinta mereka tulus. Cinta mereka suci. Sebesar apapun noda yang kau gunakan untuk menghancurkan cinta mereka itu tidak akan pernah berhasil, Gyuri-ssi.”

I believe my faith.”

Lihat saja nanti. Semua orang akan tercengang melihat keakrabanku dan Hyukjae.

***

“Donghae-ssi!”

Donghae menolehkan kepalanya dan aku segera melambai tanganku ke arahnya. Ia balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya singkat. Aku balas tersenyum dan berlari-lari kecil ke arahnya.

“Ada apa Gyuri-ssi?”

Aniyo, aku…boleh minta izin?”

“Tentang?”

“Hyuk—“

“Eunhyuk.”

Aku—nyaris—memutarkan kedua bola mataku kesal. “Ah iya maaf kelepasan. Anu, aku boleh memberikan coklat buatanku sendiri kepada Eunhyuk-ssi?”

“Untuk?”

“Aku… menyukainya. Tapi sungguh! Aku tidak ingin merebutnya darimu! Aku hanya ingin melepaskan beban mental ini sebelum kita lulus… aku tahu kau namjachingunya, tapi ku mohon… aku telah menyuk—mencintainya sejak kelas satu. Beberapa bulan lagi kita lulus, aku ingin move on, tapi aku ingin ia setidaknya mengetahui bahwa aku selama ini menyukainya. Setelah itu aku dapat move on dengan lebih lega, Donghae-ssi….jebal?”

Ku lirik ke arahnya dan Donghae tengah menimbang-nimbang sebentar sebelum mengangguk ke arahku. Aku menatapnya tidak percaya. Ia… mengangguk?

“Tapi kau janji hanya memberikannya sebuah cokelat, kan? Tidak lebih?”

“Kau tidak percaya dengan kekasihmu sendiri?!”

Ia menggeleng cepat, “bukan begitu! Tentu aku percaya padanya dengan setulus hatiku! Aku hanya… aih—lupakan. Arasseo, kau boleh memberikan cokelat padanya.”

Aku tersenyum puas.

Donghae’s POV

Aku menjaga jarakku dengan Gyuri sebisa mungkin. Aku merasa inilah firasat buruk yang dikatakan Hyukjae tadi pagi. Mendadak perutku pun mulas dan ke khawatiran mengalir menuju keseluruh pembuluh darah tubuhku.

“Aih, mengapa aku setuju begitu saja kepada permintaan Gyuri?! Tapi bagaimana aku bisa menolak permohonannya?!”

Aku mengacak-acak rambutku kesal. Ini aneh. Entah mengapa aku merasa amat gelisah, di tambah masih kepikiran perkataan Hyukjae tadi pagi. Aku menarik handphoneku pasrah dan menghubungi nomor seseorang yang aku harap bisa membantuku.

HAE!” sambut orang di sebrang sana setelah menjawab panggilan teleponku.

“Ahn, Hyukkie…”

“Waeyo? Mengapa kau lemas Jagiya? Ada sesuatu terjadi?

“Aku rasa aku tau firasat buruk yang kau katakan tadi apa.”

“Ne? kau tau? Memang apa? Aku sudah tidak merasakan firasat buruk itu lagi.

“Tapi aku merasakannya sekarang. Itu, Gyuri akan menyatakannya perasaannya padamu besok.”

Gyur—Oh. Dia mau menyatakannya besok? Di hari valentine? Kepadaku? Bagaimana kau bisa tahu, Hae-ya? Kau mendengarnya?

“Dia minta izin padaku untuk menyatakannya padamu. Aku percaya padamu Hyukkie, oleh karena itu aku mengizinkannya menyatakannya padamu. Kau… tetap akan memilihku, kan?”

Tanpa sadar aku mencengkram erat handphoneku begitu mendengar ia terdiam di ujung sana. Aih, Hyukkie marah. Dan itu semua karena kebodohanku!!

Tentu saja aku akan menolaknya wifey. Kau ingat cincin kita, kan? Bukti bahwa ikatan cinta kita tidak akan terpisah oleh apapun?

Aku tersenyum tanpa sadar melirik ke tangan kanannku, “Ne. Aku percaya padamu dan pada cinta kita hubby.”

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, tapi percayalah, jika kau percaya dan yakin benar dengan cinta kita, apapun yang akan terjadi tidak akan pernah mematahkan kisah kita. Aku berjanji padamu, apapun yang terjadi aku akan kembali padamu.

“Kau seperti akan pergi jauh saja, Hyukkie.” Aku terkikik pelan. “Saranghaeyo, hubby.”

“Nado saranghaeyo wifey. Hey?

“Ya?”

Aku merasa ini telefon terakhir kita. Tentu, ini bukan telefon terakhir kita kan, Hae? Kita pasti masih menelefon nanti malam, besok sore sepulang sekolah, selamanya kan?

Aku menggigit bibir bawahku. Entah mengapa aku merasakan ini kalimat perpisahan kita. Sama seperti apa yang Hyukjae rasakan saat ini. Feeling insecure. Aku menarik nafasku panjang-panjang dan tersenyum lebar.

Geuraeyo! Ini bukan telefon terakhir kita hubby. Nanti sesampai di rumah aku akan menghubungimu lagi, ok?”

Aih maaf aku tidak bisa pulang bersamamu hari ini. Latihan bodoh ini memaksaku untuk pulang lebih lama dari dirimu, Hae.”

Gwaenchana. Walaupun aku menang dari seluruh yeoja yang menyukaimu, aku masih kalah dengan strawberry dan dancemu itu.”

Tapi kau tetap yang pertama di hatiku.”

“Gombal!”

Setelah bercakap-cakap cukup lama akhirnya aku memutuskan untuk memutuskan sambungan telefon. Aku bisa mengganggu latihannya di tambah aku mau membeli bahan cokelat untuk Hyukjae esok. Ya, inilah janji yang di bicarakan Hyukjae tadi pagi. Chocolate handmade. Buatanku khusus untuknya.

Aku tersenyum-senyum sembari membayangkan ekspresi Hyukjae ketika ia memakan cokelat buatanku. Ia pasti senang! Namun senyumku perlahan menghilang begitu iris mataku menatap sosok Gyuri berbicara dengan seseorang yang misterius dan juga berjubah. Aku berjalan mengendap-endap agar aku bisa menguping pembicaraan mereka.

Kau yakin dengan ini ia bisa menyukaiku?”

“Ya, ini cokelat paling laris yang pernah ada. Jika ia memakan cokelat ini, ia akan merasa pusing dan pastikan ketika ia memakan ini orang yang ada di hadapannya adalah dirimu.”

“Mengapa begitu, halmoni?”

“Jika yang di hadapannya bukan dirimu, ia tidak akan pernah jatuh cinta padamu

Aku tertegun di tempatku. Bahaya. Ini benar-benar bahaya. Dengan segera aku mengumpulkan barang-barang bawaanku dan berlari secepat mungkin ke rumahku. Ini pasti mimpi buruk.  Aku menggenggam cincinku kuat-kuat.

Apa yang harus ku perbuat? Hyukkie….

 

 

 

 

,

TBC😀

I told ya! She’s a bitch-,-! I hate her. No offense please. I know it’s forbid to hate someone but SERIOUSLY how can I like someone like her?! See? I don’t even want to like her! How can I love her then? Uuuh, only ma JIyoung who’s I can fall in love with-___- AIH NOOOO! Only Jess! I love JESS! She’s a girl that I only love.

p.s that’s why I never use Jess as the third-person in my fiction😀 I’m such an evil author, huh? HAHA

6 thoughts on “Chocolate Love [Part 1]

  1. aigooo~..
    jadi ikutan punya firasat buruk niih buat hyukhae..
    lee donghae fighting!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!..
    jangan kalah dari dia *nunjuk gyuri

    eh iya author fighting!!!!!!!!!!!!!!!!
    sukses UANnyaa~..

  2. aduh jadi ikut dag dig dug jga nih
    jgan pisahin eunhae doonggg please hehehe autor fighting!!!!!!!!!!

  3. Reallh evil author,,but i like it..
    Dn’t wnt third prson in hyukhae..
    Tp pnsran jg,,
    Cnta mrka d uji..

  4. Aigoo..udah lama ga main ke WP ini..jadi gatau kalo banyak FF terupdateee..
    Setuju sama author, HyukHae or HaeHyuk that not different ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s