fanfictions

[Prolog] Four-Timer.

Title: [Prolog] Four-timer.  

Main Cast:

–          Lee Hyukjae

–          Lee Donghae

–          Jung Jessica

Supporting Cast:

–          Kim Hyoyeon

–          Park Gyuri

–          Tiffany Hwang

Main Pairing: HyukHae | Onesided!HyoHyuk | Onesided!HyukRi | Onesided!HyukFany.

Author: Nashelf Hafizhah Wanda

Genre: Romance/Angst

Rating: T

Length: Chaptered

Part: Part 1 |

A/N: I am not just make a new fanfict, am I? /face palming/

~♥~

Hyukjae’s POV

Oppa, a—aku suka padamu!”

Aku menatap yeoja dihadapanku yang menundukkan wajahnya malu. Aku kenal dia, Kim Hyoyeon. Salah satu anggota club dance sekolahku. Apa lagi yang harus ku katakan kali ini?! Aku menghela nafas panjang sebelum memutuskan jawabanku.

“Hyoyeon-ssi,” badannya bergemetar sedikit, “Angkat kepalamu jika kau serius sedang menyatakan cintamu pada seseorang.”

Perlahan ia mendongakkan kepalanya. Semburat merah menghiasi kedua pipinya serta ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Aku bahkan bisa melihat sebuah keringat mengalir di pipinya. Ia pun tidak berhenti-hentinya memainkan ujung kemeja sekolahnya. Jadi sekarang fansku seorang pemalu, eh?

Oppa, aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu di club dance. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, Oppa. Syukurlah mimpiku sama sepertimu, dance. Aku mencintaimu Oppa.”

Ia mengucapkan tiga kalimat sakti itu tepat menatap ke mataku. Aku menatap mata cokelatnya dalam-dalam. Way to go, Hyukjae.

Mianhae,” aku membungkukkan badanku sedikit, “Aku tidak bisa menerimamu. Kau berhak mendapatkan orang yang lebih berharga dariku. Kau hanya akan sakit jika mau menerimaku apa adanya.”

“Tidak apa-apa Oppa! Selama aku menjadi milikmu, aku akan bahagia! Aku tidak perduli betapa seringnya kau menyakitiku, selama aku bisa menjadi tempatmu untuk bersandar aku mau, Oppa!”

Aku menatapnya ragu, “Walau pun kau harus menjadi yang ke-empat sekali pun? Atau ke-sepuluh sekali pun? Apa kau tetap mau? Aku punya kelemahan. Kelemahan yang benar-benar akan menyakiti hatimu Hyoyeon-ssi.”

Nan gwaenchana! Aku kuat!”

“Kau yakin? Sebelum aku mengucapkan iya.”

Ne! 100% Oppa!”

“Baiklah,” aku menghela nafas panjang, “Tapi dengan satu syarat. Hubungan kita tidak lebih dari skinship, hanya pegangan tangan atau berpelukan. Selebih itu, jangan atau aku tidak akan segan-segan memutuskanmu.”

Ne Oppa, arasseo! Gomawo!!”

Ia berjingkat—karena ia lebih pendek dariku—dan memelukku erat. Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya membalas pelukannya. Apa yang telah kau lakukan Hyukjae.

~♥~

Aku berjalan dengan lemas menuju café tempatku bekerja menghidupi kehidupanku dan seseorang lagi, seseorang yang amat berharga untukku. Delight Café. Itulah nama café tempatku bekerja. Aku melirik arlojiku, seharusnya ia sud—

Oppa!”

Aku membalik badanku dan tersenyum melihat orang yang ku nanti, “Hey, Gyuri-ah.”

“Sudah ku katakan panggil aku Gyul saja, Oppa! Kau menungguku?”

Well, jika aku tidak menunggumu siapa yang akan membukakan pintu untukku, Gyul?,” aku menampilkan gummy-smile andalanku.

“Ahn, ne,” semburat merah menghiasi pipinya sebelum ia beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu café untukku, “Welcome to Delight Café, Oppa!”

Aku membungkuk kearahnya bak seorang pangeran, “Terima Kasih, princess.”

Ia terkikik geli sebelum mengikutiku masuk ke dalam café. Bukan kemauanku untuk diperlakukan seperti itu, tapi itulah yang ia tawarkan padaku. Selama ia dapat menjadi kekasihku, ia mau ku perlakukan seperti apapun.

Selalu seperti ini. Padahal tidak pernah sekali pun terpikir oleh otakku bahwa aku akan menyukai mereka dengan cara mereka seperti ini.

“Hey, Hyukjae! Gyuri! Sudah mesra seperti biasanya, eh?”

Aku menatap Yunho—waiter lain selain aku—datar, “Seperti yang kau lihat, this little princess doesn’t want to take her hand off of me.”

Gyuri tersenyum lebar mendengar perkataanku dan semakin menggelayut dengan manja di lenganku. Membuatku sedikit ‘tertarik’ ke badannya. Senyum kebahagiaan tidak dapat disembunyikan oleh rambut panjang bergelombang yang ia miliki.

“Gyul,” panggilku perlahan, “Kita harus bekerja sekarang… kalau tidak—“

“EHEM!”

Kami berdua menengok ke belakang mendapati Mr.Choi—pemilik café ini—menatap kami dengan lengan tersilang di dadanya. Aku menampilkan senyum gummy-smileku yang tidak pernah bisa di tolak oleh siapapun, termasuk orang dihadapanku ini.

“Aish! Aku tau kalian berdua adalah sepasang kekasih, tapi bisakah kalian tidak mengumbar kemesraan kalian dihadapanku?”

“Siapa yang menyuruhmu belum mendapatkan jodoh, sajangnim?”

“HYUKJAE!”

Aku kembali menampilkan senyumanku, “Hehe. Mianhae, Gyul tidak ingin melepaskan tangannya dariku, jadi bukan salahku dong kalau kami mengumbar kemesraan, tapi princesslah yang mengumbarnya!”

“Aish, Oppa!,” ia memukul dadaku pelan, “Kau pun tidak menolak ku perlakukan apapun! Jadi bukan salahku dong kalau aku tidak melepasnya! Aku kira Oppa juga menikmatinya!”

“Aku diam bukan berarti aku menikmatinya, princess.”

“Ta—“

“KALIAN BERDUA! KEMBALI BEKERJA!!!!”

~♥~

Aku menghela nafas panjangku, panjang-panjang. Aku menatap tangga apartmentku. Beberapa langkah lagi, tinggal aku bertemu yang terakhir. Syukurlah aku tidak ada jadwal untuk pergi ke studio, jika ada, aku pasti masih akan tertahan untuk bertemu kekasihku yang sebenarnya.

Nae sarang.

Aku membuka pintuku perlahan, “Hae?”

“Hyukkie?”

Aku tersenyum dan segera berjalan kedalam. Ku dengar beberapa suara ribut-ribut dari arah kamar. Dengan segera aku mengunci pintu depan dan berlari kearah kamarku dan dia. Ku lihat ia tergeletak tak berdaya di lantai, tangannya menggapai-gapai pinggiran kasur. Aku menghela nafas sebelum berjalan kearahnya.

“Hae, gwaenchana?”

Ia melingkarkan lengannya di leherku, “Bisa bantu aku duduk di kursi rodaku?”

“Tunggu.”

Aku mengangkatnya bridal-style dan meletakkannya di atas kursi rodanya dengan perlahan seolah-olah ia adalah sebuah manusia yang terbuat dari kaca yang mudah pecah jika aku salah memperlakukannya. Aku mendorong kursi rodanya mendekat kearah tempat tidur.

“Hyukkie, kau lelah?”

Anieyo,” aku duduk di pinggir tempat tidur sebelum mencium bibirnya perlahan, “Setelah aku melihat senyumanmu, rasa lelahku hilang dengan seketika.”

“Aku harap aku juga bisa menghilangkan kesepianku begitu melihat senyumanmu. Gummy-smilemu yang terkubur hanya dalam ingatanku. Sekarang hanya kegelapan yang menjadi temanku.”

“Ssh, jangan berbicara seperti itu Hae,” aku menggenggam kedua tangannya lembut sebelum mencium punggung tangannya, “I love you, jangan berbicara yang aneh-aneh, ok?”

“Aku tidak berbicara aneh-aneh, Hyukkie. Aku hanya mengatakan fakta. Aku buta dan aku lumpuh. Siapa yang mau berteman denganku? Hanya kegelapan yang ma—“

Aku kembali mencium kedua bibir tipisnya yang manis. Setelah merasa ia sedikit tenang, aku melepaskan ikatan diantara kami dengan susah payah. Yeah, karena aku masih ingin merasakan rasa manis bibirnya diatas bibirku. Tapi kami punya banyak waktu untuk hal-hal seperti itu.

“Aku mau jadi suamimu.”

Sebuah air mata jatuh dari kedua kelopak matanya yang tertutup rapat. Aku mengusap ibu jariku ke pipinya menghapus air matanya yang terus menerus jatuh membasahi matanya.

“Ka—kau serius?”

Aku tersenyum lembut kearahnya—walau aku tau ia tidak akan melihatku, “Tentu saja aku serius Hae-ah. Aku telah mengucapkannya berkali-kali kepadamu, kan? Percayalah. Saranghae. Let’s die together. Jangan meragukanku lagi, ne?”

“Susah untuk tidak meragukan diriku sendiri Hyukkie. Kau sempurna, pasti di luar sana banyak  yeoja yang ingin memilikimu sebagai pacarnya. Yeoja yang lebih cantik daripada aku. Yeoja yang bisa memberikanmu kebahagiaan, bukan seperti aku yang hanya bisa menyusahkanmu.”

Benar. Banyak yeoja yang menembakku dan banyak yeoja pula yang ku terima. Aku merasakan perih di hatiku mendengar kalimatnya. Jika Donghae tau, aku tidak tahu hal apa yang harus ku katakan padanya. Aku menghela nafas dan mencium puncak kepalanya penuh kasih sayang.

“Walaupun begitu, hanya orang sepertimu yang kerjanya selalu menyusahkanku lah yang mampu menempati relung hatiku. Kita melengkapi satu sama lain, Hae-ah. Tidak perlu kita bicarakan ini lagi, kau pasti lelah. Sudah makan?”

Ia menggeleng imut. Aku mencium bibirnya sekilas lagi sebelum mendorongnya keluar kamar. Setelah menyiapkan makanan—yang ku beli sepulang dari café tadi—aku memposisikan diriku senyaman mungkin sebelum memposisikan Donghae di pangkuanku seperti biasanya.

Ditengah kesibukanku, aku merasakan handphoneku bergetar disaku celana jeansku. Aku mengangkat badan Donghae sedikit agar aku lebih mudah mengambil handphoneku.

Fany calling.

Tanpa sadar aku mengerang pelan. Aku menekan tombol silent sebelum membiarkan telfon itu bergetar tidak terurus. Namun sepertinya getaran tersebut mengganggu Donghae.

“Siapa, Hyukkie?”

“Tidak tahu, nomor tidak diketahui. Sejak tadi aku mendapat panggilan usil seperti ini, biarkan saja, paling-paling juga tidak penting.”

Donghae memanyunkan bibirnya, “Nae Hyukkie populer…”

“Dan kau lah yang paling populer dihatiku.”

Aku mencium bibir Donghae entah untuk yang keberapa kalinya sebelum memutuskan untuk meng-sms Tiffany menanyakan apa keperluannya.

To: Fany

From: Hyukjae

Ada apa? Kan sudah ku bilang jangan pernah menelfonku! Kalau pun yang menelfon, itu harus aku.

—Loveya.

Aku menatap pesanku sekali lagi sebelum mengumpat akan sikap dan otak bodohku. Aku tidak seharusnya berucap seperti itu. Tapi diantara Gyuri, Tiffany dan Hyoyeon—yeoja yang baru menembakku tadi siang, Tiffanylah yang paling bersikeras untuk menjadi kekasihku.

To: Hyukjae

From: Fany

Aku merindukanmu. Bisakah kau ketempatku, Oppa?

—Loveyatoo

Aku menatap Donghae yang berada di pangkuanku sembari memainkan sumpit yang ada di pegangannya. Aku menyandarkan daguku di bahunya. Aku tidak ingin pergi meninggalkan Donghae disaat ia benar-benar sedih seperti ini. Donghae prioritas utamaku. Aku tidak boleh menyetujuinya.

To: Fany

From: Hyukjae

Boleh. Tunggu aku, Jewelry.

—Loveyamore

Aku semakin mengerang tentang kebodohanku. Aku membenamkan wajahku di bahu Donghae, sebelum menarik nafas panjang-panjang.

“Hae-ah, temanku ada yang bertanya tentang sesuatu pekerjaan rumah. Boleh kah aku ke rumahnya sekarang?”

Eo? Tidak bisa besok?,” segelintir kekecewaan tergambar jelas diwajahnya.

Aku memeluknya erat-erat, “Aku rasa tidak. Tugas ini harus di kumpul besok. Mianhaeyo.”

“Aku tidak apa-apa,” ia tersenyum sebelum mencium bibirku lembut, “Kau juga harus mengerjakan pekerjaanmu. Aku percaya padamu, Hyukkie.”

Aku membantunya menuju kursi roda dan menuntunnya ke kamar tidur. Ku rebahkan badannya di atas tempat tidur dan menyelimutinya hingga ia tidak dapat merasakan dinginnya AC kamar. Aku mengusap rambutnya penuh kasih sayang sebelum mencium puncak kepala, mata, pipi, ujung hidung dan terakhir bibirnya.

“Kau bisa tidur duluan, Hae-ah.”

“Aku akan menunggumu, Hyukkie.”

“Kalau itu maumu, baiklah. Saranghaeyo, Donghae-ah.”

Ne, nado Hyukjae-ah.”

Setelah mengambil tas sekolahku, aku berjalan menuju motorku dan memacunya ke rumah Tiffany yang tidak terlalu jauh dari apartmentku.

Fuck. My. Life.

 

 

 

 

 

~♥~

So, how’s do you think?.____.

Don’t mad with Hyukjae. He has his reason why he accepted that bunch of bitch \(-^-)/ kkk.

“More you commenting, more HyukHae will be real♥” ^___^

9 thoughts on “[Prolog] Four-Timer.

  1. anyeong..hae kasian banget..apa penyebab hae sampe kaya gitu?hyuk kalo ga suka ngapain nerima mereka*q terlalu banyak nanya

  2. aaaah~ hae buta dan lumpuh? TT TT
    hyukkie~ why you doing that?? hae need you more than that stupid girls!!!

    angst ya? ;_____;
    tapi jangan sad ending pliiiss,, ga kuat lihat kondisi hae TT TT
    Must be EunHae/ HaeHyuk~~ >.<

    i like this…🙂

  3. eh??hyukie kayaknya gak bisa nolak permintaan dari cewek-cewek itu yah??
    wae hyukie-ah????????????????????wae???????????
    kasian hae nya TT___TT

  4. G ngbash hyuk ko cm bgg j knp dy blg cnt m hae tp mau main blkg m 3 ce sxlgus,3.CE,what the hell????
    klau 1 ce msh mndg-.-
    omooo ne knp hae jd lmpuh n buta,hiks
    N knp kau bgtu hyuk,kurang ksh syang,eo??
    came to me^×^

  5. Hiks…Hiks..😥
    Hae kasian banget siih.. Untung ada nae Hyukkie :*
    Oiya,author ngomong2 Hae itu yeoja atau namja?

  6. penasaran kenapa hyukkie sifatnya kayak gitu..

    ini GS y…hae jadi cewe….
    nice ditunggu updatenya

  7. kyaaa hyukkie you wanna be player? Ckck don’t be a player! Kenapa kamu tega bohongin Hae? Give me the reason, Hyuk-ah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s