fanfictions

Four-Timer [Part 1]

Title: Four-timer [Part 1]

Main Cast:

–          Lee Hyukjae

–          Lee Donghae

–          Jung Jessica

Supporting Cast:

–          Kim Hyoyeon

–          Park Gyuri

–          Tiffany Hwang

Main Pairing: HyukHae | Onesided!HyoHyuk | Onesided!HyukRi | Onesided!HyukFany.

Author: Nashelf Hafizhah Wanda

Genre: Romance/Angst

Rating: T/PG-15(for harsh word)

Length: Chaptered

Part: Prolog | Part 1

Summary: “Beyond your imperfection, you are perfect for me. You’re my perfection. You’re mine. And I’m infinitely yours.

~♥~

Aku menatap jam tanganku dengan ragu. Sudah sejak jam tiga pagi aku berdiri di depan pintu apartmentku dan sekarang jam telah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Aku tidak tahu kalau Tiffany benar-benar ingin menahanku semalaman dirumahnya. Ugh.

What?

Aku bukan lelaki jahat! Walaupun aku memang mempunyai banyak yeoja di sekelilingku tapi itu tidak berarti aku selalu melakukan ‘itu’ dengan mereka. Hell! Apa kalian lupa? seluruh yeoja yang menjadi kekasihku tidak pernah ku izinkan untuk menciumku terlebih dulu kalau bukan aku yang menginisiatifnya. Dan me, being loyal to Donghae, aku tidak pernah punya inisiatif untuk mencium mereka.

Aku menarik nafas panjang sebelum membuka kunci apartment ku. Hening. Tentu saja bodoh! Donghae masih tidur, aku berani menjamin itu. Aku melepas sepatuku dan jaketku perlahan-lahan sebelum hendak berjingkat menuju kamar mandi. Namun, suara pelan di belakangku menghentikanku.

“Hyukkie? Kau kah itu?”

Aku menggigit bibir bawahku dan mengumpat dalam hati. Sial. Sekarang apa yang harus ku katakan? Aku tidak yakin untuk membohongi Donghae lagi, ia terlalu banyak menerima kebohongan dariku. Aku menutup wajahku dengan telapak tanganku, mendesah perlahan dan berbalik menatapnya dengan gummy-smile yang menawan—walau aku tau ia tidak akan pernah bisa melihatnya.

Ne, Hae. Ini Hyukkie, Hyukkiemu.”

You bastard! Banyak yeoja yang kau miliki dan kau masih berani bilang Hyukkie-MU? Fuck.

“Kau kemana semalam? Aku terbangun tengah malam dan aku tidak merasakan kehangatan tubuhmu di sampingku—“

“Tadi malam kan hujan deras, Hae-ah,” ujarku cepat memotong kata-katanya.

Ia terdiam sebelum menaikkan alisnya dan menganggukkan kepalanya perlahan, “Benar juga, jadi kau tidak bisa pulang karena terjebak hujan? Aww, mianhaeyo Hyukkie, aku hanya khawatir ada apa-apa terjadi padamu.”

Setelah sukses melepaskan kedua sepatuku, aku berjalan mendekat ke arahnya, membungkuk perlahan dan merengkuh tubuhnya kedalam pelukanku. Aku tidak ingin menyakitinya, tapi aku juga tidak bisa berhenti melakukan ini. Aku hanya—

“Hyukkie, waeugeurae? Badanmu bergetar…”

Aku tersadar dari lamunanku dan menyadari air mata tertahan di ujung mataku, “Mianhaeyo, Donghae-ah, mianhaeyoJeongmal mianhae…,” ujarku lirih.

Wae?” ia melingkarkan lengannya di pinggangku dan mengusap punggungku perlahan, “Untuk apa kau meminta maaf? Bukan kau yang menyuruh hujan itu turun, kan?”

Mianhaeyo,” untuk apa yang ku lakukan di depan matamu, Hae-ah.

“Kau tidak perlu meminta maaf, Hyukkie. Ini bukan yang pertama kalinya hal ini terjadi, kan? Aku baik-baik saja, selama kau baik-baik saja, aku akan baik-baik saja.”

Aku tersenyum miris mendengar kata-katanya. Bukan yang pertama kalinya. Ya, aku telah melakukan hal ini lebih dari lima kali dan Donghae sama sekali tidak curiga padaku. Aku merasakan hatiku teriris. Aku membenamkan wajahku di rambut Donghae dan mencium aroma vanilla yang tercium dari shampoo yang ia kenakan.

Mianhaeyo, jeongmal mianhaeyo…,” ujarku lirih, tertahan, dan berusaha sekuat tenaga menunjukkan seberapa menyesalnya diriku.

Gwaenchana, Hyukkie-ah. Berhenti menangis… kau tidak salah apa-apa, kau khawatir aku kenapa-napa jika kau tidak ada disampingku? Aww, Hyukkie, aku baik-baik saja sekarang, kan? Uljima…”

Aku tersenyum kecil dan merengkuh tubuhnya semakin erat, “Ani, yah, bisa dibilang kalau aku khawatir tentang keadaanmu, tapi ada yang ku khawatirkan lebih dari itu Hae-ya…” aku takut jika kau meninggalkanku…

Geurae? Lalu? Apa yang kau khawatirkan?”

Omo! Hae, sudah jam lima! Aku harus siap-siap,” ujarku cepat mengalihkan topik pembicaraan.

Donghae segera melepas tanganku yang masih melingkari badannya dengan erat, “Lalu apa lagi yang kau tunggu, aku akan di ruang tamu saja, mendengarkan TV. Kau siap-siap, ok?”

Aku tersenyum kecil, “Ne, aku antar kau ke ruang tamu. Mau menonton apa hari ini, Jagiya?”

Finding Nemo!”

As always,” aku mencium keningnya sebelum mendorong kursi rodanya ke dekat TV dan menyalakan CD Finding Nemo seperti apa yang diinginkannya. “Mau makan apa?”

“Apapun yang kau masakkan, akan ku makan, Hyukkie.”

Arasseo, baby. Tunggu disini.”

Aku mencium bibirnya lembut sebelum berjalan untuk mempersiapkan semuanya. Saat hendak membuka baju yang ku kenakan semalam, aku menyadari ada hal yang aneh.

Ya tuhan!

Parfum Tiffany!

Parfum Tiffany tercium sangat jelas dari T-shirt yang tengah aku kenakan. Sial. Apa Donghae menciumnya? Bisa gawat kalau ia mencium parfum ini! Apa yang harus ku katakan padanya? Tapi kalau melihat reaksi Donghae sepertinya ia tidak menyadarinya… semoga.

Aku tengah mengenakan dasiku ketika aku mendengar gelak tawa dari ruang tengah. Tawa itu membuatku tersenyum kecil. Aku segera menyelesaikan dasiku, mengambil jaketku dan berjalan ke ruang tamu, tidak sabar melihat malaikatku tengah tertawa bahagia.

“Puahahaha.”

Aku melempar tas dan jasku ke sembarang arah dan memeluk bahu Donghae dari belakang dan menyandarkan daguku di bahunya. Tawa Donghae terhenti seketika, tergantikan dengan semburat merah di kedua pipinya.

“Kenapa berhenti tertawa? Tertawalah jagiya, aku senang mendengarkan tawamu.”

Semburat merah semakin jelas terlihat di pipinya, “Kau…wangi..Hyukkie-ah..”

“Tentu saja, aku habis mandi, sayang.”

“Jangan peluk aku, aku belum mandi Hyukkie! Nanti kau tidak wangi lagi, bagaimana?” ujarnya menggemaskan sembari berusaha melepaskan tanganku dari lehernya.

Ani,” aku semakin mengeratkan namun berusaha untuk tidak menyakitinya. “Aku akan senang apabila wangi khasmu menempel di tubuhku. Itu mampu membuatku tidak terlalu merindukanmu.”

“Tapi aku bau…Hyukkie…”

Aku menenggelamkan wajahku di sela-sela lehernya dan mencium aroma khasnya sembari memberikan kecupan-kecupan kecil di lehernya yang putih dan indah tersebut. Wajah Donghae semakin memerah merasakan aksiku. Finding nemo yang terputar di TVpun tidak menarik lagi untuk Donghae.

“Kau harum sayang…sangat…sangat wangi untukku..”

“H—Hyukkie, kau tidak lapar?”

“Kau lapar?”

Ani, tapi ini sudah jam berapa? Sepertinya sudah setengah enam.. atau entah..”

Aku melirik jam yang tergantung di atas TV. Sial sudah jam 6 kurang 15. Aku mencium pipi Donghae sekilas sebelum melepaskan pelukanku di badannya.

“Jam setengah 6 lebih, Hae-ya. Baiklah, kau mau ikut aku ke dapur atau tetap disini?”

“Aku boleh ikut?”

“Tentu saja Jagiya, setelah itu aku akan mempersiapkanmu untuk mandi.”

“Ta—“

Aku mendorong kursi roda Donghae tanpa memperdulikan protes yang keluar dari mulutnya. Maaf sayang, tapi kau selalu mencegahku menyiapkan air untukmu. Aku tersenyum lebar melihat ekspresi Donghae. He’s the king of pout.

Waegeurae?”

Ia menundukkan wajahnya malu sembari memainkan jari jemarinya, “Kau selalu ku repotkan, mianhaeyo Hyukkie-ah, aku—“

Aku memotong kata-katanya dengan mengecup bibirnya singkat.  Semburat di wajah Donghae semakin memerah begitu aku melepaskan ciuman singkat kami. Entah kenapa hatiku selalu teremas begitu Donghae mengatakan aku selalu direpotkannya.

“Kau tidak pernah merepotkanku, ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai kekasihmu Jagiya.”

“Tapi aku merasa tidak adil denganmu, seharusnya kau berkumpul dengan teman-temanmu tapi aku selalu menyusahkanmu Hyukkie-ah.”

Aku meremas kedua tangannya perlahan, “Beribu teman tidak berarti apa-apa jika aku harus meninggalkanmu seorang diri, Hae-ya.”

Gomawo, Hyukkie-ah.”

“Kalau kau begitu menyesal karena telah merepotkanku, balaslah dengan mencintaiku sepenuh hatimu dan jangan pernah pergi meninggalkanku. Deal?”

Ia memukul dadaku pelan sebelum menjawab, “Itu sudah pasti, Hyukkie! Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi karena kau juga tidak meninggalkanku begitu keadaanku berubah seperti ini.”

That’s my baby.”

Aku mengecup bibirnya singkat sebelum berjalan mengambilkan sepiring pancake untuk Donghae dan sepiring lagi untukku. Milik Donghae dengan madu dan milikku dengan selai strawberry tentunya. Ku sodorkan piring Donghae kearahnya dan menarik kursi mendekat ke kursi rodanya.

“Perlu ku suapi, Jagiya?”

Aniyo,” ia tersenyum, tangannya menggapai-gapai mencari letak sendok dan garpu. Ku ambil sebuah sendok dan garpu mendekat kearahnya yang akhirnya berhasil ia temukan. “Biar aku makan sendiri Hyukkie-ah, nanti kau bisa telat..”

Aku segera memotong pancakeku besar-besar dan memakannya cepat. Aku tidak ingin melihat Donghae melakukan segala sesuatunya sendiri, aku tau ia bisa, aku hanya ingin dan senang saat memanjakannya seperti ini. Piring pancake milikku yang telah habis termakan tersebut ku jauhkan sebelum mengambil piring Donghae yang hampir masih utuh.

“Sini biar ku bantu.”

“Tapi makanmu…”

Aku mengambil sendok dan garpu Donghae sebelum menjawab pertanyaannya, “Sudah selesai, Hae-ah. Aku sudah menghabiskan semuanya.”

“Semuanya?”

Ne! semuanya, bersih tidak bersisa. Sekarang, kau mau makan atau mau memarahiku seharian penuh Jagiya?”

Ia mendesis kesal sebelum membuka mulutnya, “I hate you, Hyukkie.”

“Oh, I love you too Hae-baby.”

~♥~

Aku melangkah tidak bersemangat begitu kakiku menapak gerbang sekolahku. Aku mendesah jengah. Beberapa menit lagi pasti Hyoyeon akan mendatangiku dan mengikuti kemanapun aku pergi.

“Ba! Guess who am I?” ujar seorang yeoja riang sembari menutup kedua mataku.

Aku terkikik geli, “Ice princess?”

Nope, salah tebak! Tebak lagi aku siapa!”

Arra, arra.” Aku berusaha melepaskan tangannya dari mataku karena yeoja tersebut menekan telapaknya semakin kuat. “Jess, berhenti bercanda, Jeebing-ah.” (Jeebing kependekan dari Jeebingee=ice /adjektiva)

“Issh, you no fun, Jae-ah.”

Jessica melepaskan tangannya dan berjalan ke sampingku. Aku terkikik geli melihat wajah manyunnya. Aku melingkarkan lenganku di pundak Jessica dan menariknya mendekat kearahku.

Jeebingah, jangan ngambek dong..”

“Berhenti memanggilku Jeebing! Lagipula itu seharusnya Jeebingee bukan Jeebing! Seharusnya kau lebih memperhatikan kosakata Koreamu sebelum belajar bahasa Inggris, Jae.”

Aku mengacak-acak rambutnya pelan, “Dan kau seharusnya mengajariku bahasa Korea serta bahasa Inggris yang benar Jess.”

“Aish, forget that. Bagaimana keadaan Donghae?”

Yep, selain aku, Jessica mengetahui tentang Donghae. Ia sahabat dekat kami berdua. Walaupun ia seorang yeoja, terkadang aku meragukan statusku sebagai namja. Ia lebih hebat dariku, lebih galak dan lebih tangguh.

“Baik-baik saja.”

Jessica mengangguk-angguk mengerti, “Kau terlalu protective terhadapnya Jae-ah. Ia juga butuh jalan-jalan, tidak selalu di apartmentmu.”

“Dan akhirnya bertemu teman-teman lamanya yang selalu mengejeknya? Ani, Jess, mentalnya masih down, belum saatnya ia keluar dari apartmentku.”

“Tapi sampai kapan, Jae-ah? Ini sudah lebih dari satu setengah tahun!”

Aku menepuk pipinya perlahan, “Kau tunggu saja. Nanti ia pasti akan keluar.”

Jessica hendak membuka mulutnya sampai sebuah suara centil seorang yeoja mengalun lembut masuk kedalam kedua lubang telinga kami. Sontak kami menoleh ke sumber suara.

Oppa! Jessica-Eonnie! Annyeong!”

Jessica menatapku ganas sebelum menjawab salam tersebut, “Annyeong Hyoyeon-ssi.”

“Aku tidak pernah tau kalau Oppa akrab dengan Jessica-Eonnie. Ku kira hanya namja saja yang bisa terlihat sebegitu dekatnya dengan Oppa.”

Aku menampilkan gummy-smileku kearah Hyoyeon, “Sekarang kau tau. Kau tidak masuk kelas? Beberapa menit lagi aku rasa bel akan berbunyi.”

Oppa sendiri tidak masuk kelas?”

“Aku dan Jess satu kelas, jadi kalau di hukum bisa berdua. Sementara kau? Kau hanya seorang diri, tidak takut di hukum?”

Hyoyeon mengangguk singkat sebelum berjingkat dan mencium pipi kananku, “Annyeong, Oppa.”

Setelah sosok Hyoyeon pergi aku segera menghapus bekas ciuman yang diberikan Hyoyeon di pipiku dengan cepat. Jessica yang tengah berdiri disampingku tidak tahan menahan gelak tawanya.

Can’t reject again, dude?”

Aku mendengus sebelum membuang mukaku kearah lain, “Yeah, dan melukai perasaan Donghae lagi.”

“Sudah berapa yeojamu?”

“Tiga. Dan aku berjanji ini yang terakhir.”

“Salah satu diantara mereka ada yang kau sukai seperti kau menyukai Donghae?”

Of course there’s none.” Aku menarik pundak Jessica mendekat dan melingkarkan lenganku di lehernya. “Bahkan ketiga diantara mereka tidak ada yang pernah ku perlakukan sebagaimana aku memperlakukanmu Jess. Don’t get me wrong, aku tidak mencintaimu. Kau tau sendiri siapa yang aku cintai.”

“Aku tau Hyukjae, tapi apa menurutmu kau tidak akan menyakiti Donghae apabila kau terus menerus menerima yeoja-yeoja seperti ini? Donghae pun bisa semakin terpuruk jika ia tau kau mempunyai 3 yeoja sekaligus and not to mention, tiga-tiganya cantik semua.”

“Memang mereka cantik?”

Jessica memukul lenganku perlahan, “Well duh, tidak. Tapi setidaknya itu yang akan di fikirkan Donghae begitu ia tau kau mempunyai 3 yeoja ia pasti berfikir kalau ketiga yeoja tersebut cantik.”

“Aku tidak tau Jess, as you can see, aku tidak pernah bisa menolak para yeoja tersebut…”

“Kau harus mencoba Hyukjae-ah. Apa kau ingin menyakiti Donghae?”

Aku menggeleng lemah.

“Nah!” Jessica melepaskan lenganku dari lehernya dan menatapku bersemangat. “Aku akan membantumu menolak mereka satu per satu. Bagaimana?”

“Aku tidak tau Jess, lagipula kasihan Hyoyeon, dia baru saja ku terima kemaren…”

Jessica memukul kepalaku keras, “Paboya, kau bahkan merasa kasihan dengannya? Aku lebih kasihan dengan Donghae! Baiklah aku punya solusi yang gampang untuk hal ini!”

“Solusi apa?”

“Kau urusi 3 yeoja tersebut dan Donghae untukku!” ujar Jessica riang sebelum meninggalkanku yang termenung memikirkan kata-katanya.

Ya Jess! Jangan bercanda!!!”

Aku berlari mengejar Jessica yang sudah jauh di hadapanku. Otakku tidak berhenti-hentinya memikirkan kata-kata Jessica. Dia benar dan aku sudah tau sejak awal bahwa aku salah. Aku sudah sadar dari awal aku menerima mereka menjadi yeojachinguku, aku akan menyakiti Donghae.

Aku menghela nafas panjang. Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak bisa menolak mereka, aku tidak sanggup. Tapi aku juga tidak ingin melukai hati Donghae.

….wtf…ugh.

~♥~

,

TBC ^^v

Yay for EunHae’s moment❤ /smacks Hyukjae’s head for being a pabos-^-/ seriously Hyuk, just dump all of her duh

“Comment = Love”

9 thoughts on “Four-Timer [Part 1]

  1. bner yg sicca blang,kalo hae sampe tau tu bkalan bikin dia terpuruk hyuk..sbnernya apa alasan hyuk kaya gtu?

  2. Aigoo berhenti mnyakiti hae doong hyuk (˘̩̩̩ε˘̩̩̩ƪ)
    Hae udh trlaalu trlukaaa -̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩.

  3. Inaaaaas . Gimance itu kok si unyuk galaaaau gitu ._. HUWEEE kesian hae nya T3T
    Ayo naas lanjut :)) yg bnyk moment nya dooong

  4. Hae-ah kamu terlalu baik nungguin hyukkie -_ ahh hyuk bisakah kau mengikuti saran jeebing *piss* buang 3 gadis gaje itu dan only look at him, Lee Donghae or ice princess get him earlier than you! Choose it! I want you always beside Hae. Love eunhae moment in this chap. Tapi msh penasaran knp hyuk jd player? Gimme the reason, Hyuk-ah😉

  5. mwo???
    jd hae buta???
    omoooo, hyuk knp kau jht sekali ama donghae???
    aQ do’a.in si donge biar direbut ama sica atau siwon lhohhh

    lanjut saeng🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s