fanfictions

Chocolate Love [Part 3]

_cl

Title: Chocolate Love [Part 3—End]

Main Cast:

–          Lee Hyukjae

–          Lee Donghae

And another support cast.

Main Pairing: HyukHae

Author: Nashelf Hafizhah Wanda

Genre: Romance / Angst / Yaoi

Rating: G

Length: Three-shot.

Part: Part 1 | Part 2 | Part 3—End.

~♥~

Donghae’s POV

Aku menatap punggung dua orang yang sedari tadi tidak berhenti mengumbar kemesraan di hadapanku. Pelukan, tersenyum, tertawa, menjahili satu sama lain dan lain-lain. Bahkan anak-anak kelasku menatapku dengan pandangan ‘kau-putus-dengan-eunhyuk-?

“Hae, seriously, apa yang terjadi denganmu dan Eunhyuk sampai-sampai Eunhyuk menempel sangat dekat dengan…that bitch?”

Aku mengedikkan bahuku tidak tau, “Aku tidak tau sama sekali tentang ini.”

“Serius?! Kau tidak tau sama sekali tentang Eunhyuk dan Gyuri?!”

Aku menatap Yunho dan Siwon sembari berdecak kesal. Aku tau, tapi aku tidak mau tau. Aku sedang tidak ingin berfikir apapun. Aku hanya ingin memperhatikan tingkah laku mereka. Aku tau Hyukjae, ia adalah seseorang yang memperlakukan kekasihnya dengan penuh kasih sayang. Aku hanya takut ia memberikan Gyuri kasih sayang yang lebih. Mereka bukan kekasih for God’s saken!

“Hae, ka—“

“HYUK!!”

Aku menutup mulutku begitu menyadari apa yang telah ku lakukan. Well, no one can blame me though. Bagaimana aku bisa duduk diam tenang begitu mengetahui kekasihku sendiri akan mencium yeoja lain di hadapanku?! Hyukjae menoleh kearahku dan menaikkan alisnya bingung.

“Ada apa Donghae-ssi? Ada yang salah?”

Aku merasakan seluruh nafas anak kelasku tercekat kaget mendengar komentar dingin dari mulut Hyukjae. Mereka saksi hidup betapa romantisnya Hyukjae padaku selama 3 tahun ini. Aku menahan air mataku yang nyaris turun dan menarik tangannya perlahan.

“Aku butuh bicara berdua denganmu, penting!”

“Tidak bisa disini? Aku masih ingin bersama dengan Gyul…”

“Tidak, penting!”

Aku menarik—setengah menyeret—Hyukjae keluar kelas mengabaikan tatapan aneh anak sekelas. Apa yang harus ku katakan? Aku hanya tidak ingin melihat Hyukjae mencium orang lain selain diriku! Berfikir Donghae, berfikir…

“Kau mau bicara apa, Donghae-ssi?”

“A—Apa kau percaya padaku..?”

Hyukjae menaikkan alisnya bingung, “Percaya padamu? Tentu, kau kan temanku.”

Mau tidak mau aku merasakan hatiku terkoyak sedikit mendengar kata-katanya. Teman, aku hanya teman? fuh, untuk hari ini kau selamat dari cengkramanku Hyukkie.

“Kau percaya pada dirimu?”

“Maksudmu?”

“Kau percaya dengan kekuatan cinta?”

“Apa yang kau maksudkan Donghae? Aku tidak mengerti satu pun!”

Aku menarik nafasku perlahan sebelum menatap mata Hyukjae dalam-dalam, “Ku mohon percayalah padaku, pada dirimu sendiri dan pada kekuatan cinta yang tidak berwujud tersebut. Kau maukan, Hyukjae?”

“Untuk apa aku melakukannya?”

“Sekali saja, ku mohon!”

“Percaya pada diriku sendiri, tentu aku percaya pada diriku melebihi siapa pun. Percaya padamu, iya karena kau teman sekelasku, aku harus percaya padamu. Percaya pada kekuatan cinta? Untuk apa kita berdua membicarakan cinta? There’s no such a thing, Donghae.”

“Tunggu, Hyukjae!” aku mencengkram lengannya yang hendak meninggalkanku, “Ada satu hal lagi yang ingin ku katakan padamu, ah! Dua hal!”

“Katakan sekarang.”

“Yang pertama, ku mohon turuti apa kataku. Percaya padaku, pada dirimu dan pada kekuatan cinta tersebut. Tolong jangan melebihi batas, jangan bersentuhan lebih dari yang aku harapkan. Jangan lepas 12 tahun itu. Jangan biarkan kekuatan 3 tahun mengalahkan 12 tahun.”

“Apa maksudmu?”

“Pikirlah sendiri, yang kedua akan ku beritahu seusai sekolah.”

Aku meninggalkan Hyukjae seorang diri dan setengah berlari kearah toilet. Ini terlalu menyakitkan lebih dari yang ku bayangkan. Hyukjae tidak tersenyum, tatapannya tidak hangat, auranya tidak menyenangkan. Ia bukan Hyukkie-ku, ia bukan Hyukjae yang ku kenal selama 12 tahun ini. Tapi aku percaya, aku percaya pada Hyukjae, ia tidak akan pergi dariku.

Aku menatap cermin dihadapanku dan tersenyum lebar. Aku kuat. Aku pasti kuat menghadapi Gyuri. Aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh lengah. Cinta Gyuri hanya 3 tahun, cintaku bertahan 12 tahun. Cinta Gyuri bertepuk sebelah tangan, cintaku terbalaskan oleh Hyukjae. Hubungan Gyuri baru bersemi kurang dari 5 jam, hubunganku bersemi lebih dari 3600 jam. Aku pasti menang!

Aku memutar keran air dan membasahi wajahku menghilangkan bekas air mata di pipiku. Tanpa sadar tanganku menangkap cincin yang ada di jari manisku. Cincin? Ini bisa menjadi bukti untuk mengembalikan ingatan Hyukjae tentang cinta kita. Tapi bagaimana jika Hyukjae tidak percaya? Bagaimana kalau Hyukjae menganggapku mengada-ada?

Tanganku bergemetar berusaha meraih handphone yang ada di kantung celanaku. Aku menggigit bibir bawahku sembari berusaha mencari contact Donghwa-Hyung. Dia satu-satunya orang yang ku percaya dapat membantuku menyelesaikan masalah ini.

“Yoboseyo? Ada apa Donghae-ah?

Hyung…Donghwa-Hyung….,” tangisku pecah begitu mendengar suara Donghwa di ujung sana.

Hae? Ya Tuhan, Hae, kau kenapa? Ssh, uljima…ceritakan pelan-pelan saja Donghae..”

Aku menarik nafas dan menceritakan semuanya. Berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang terus memaksa keluar dari ujung mataku.

“Aku—Aku percaya padanya Hyung, tentu aku percaya padanya seperti apa katamu. Tapi, aku takut aku tidak bisa mengembalikan semua ini seperti sedia kala. Aku tidak mau hanya duduk diam, menatapnya bermesra-mesraan dengan Gyuri. Aku tidak mau, aku tidak kuat. Bahkan melihat dirinya hendak mencium Gyuri aku tidak sanggup Hyung, apalagi harus duduk diam menanti waktu dimana Hyukjae ingat aku lah kekasihnya!”

Ku dengar Donghwa-Hyung menghela nafas di ujung sana, “Aku tau kau percaya, Hae-ah. Tapi jujur, Hyung tidak tahu harus berbuat apa untuk membenarkannya. Hal ini juga hal baru untuk Hyung, saran Hyung untuk saat ini hanya satu, tenangkan dulu dirimu. Hyung akan mencoba mencari solusinya, kau juga, pikirkan cara bagaimana menyadarkan Hyukjae bahwa kaulah yang ia cintai. Kau yang paling mengerti Hyukjae luar dan dalam.

Ne, Hyung. Aku mengerti, akan ku usahakan.”

Atau kau coba tanyakan teman terdekat Gyuri, siapa tau dia tau sesuatu.

Ne, gomawo Hyung. Terima kasih mau mendengarkan dan memberikan saran.”

Donghwa-Hyung tertawa kecil sebelum menjawab, “Aku memberikan saran? Hell Donghae! Aku tidak memberikan saran apapun padamu. Belum, nanti aku akan meng-smsmu jika aku telah mempunyai cara.”

Gomawo Hyung. Aku beruntung mempunyai Hyung sebaik dirimu,” aku tersenyum kecil, “Ah, Hyung, aku rasa aku akan mematikan sekarang. Jam pelajaran hampir dimulai.”

“Ne, Donghae-ah?”

“Ne, Hyung?”

Percaya padanya.

Algasseumnida, Hyung. Aku tentu percaya padanya.”

Aku menutup telepon dan segera menyimpan handphoneku ke dalam saku celanaku. Ku tatap bayangan diriku dan cincin di jari manisku bergantian. Aku tentu percaya pada Hyukkie, bagaimana aku tidak percaya padanya, 18 tahun hidupku ku habiskan dengannya, 12 tahun aku menjadi kekasihnya. Ialah satu-satunya orang yang mengerti diriku luar dan dalam. Bagaimana aku tidak percaya?

Aku menghela nafas panjang-panjang, “Siapa sahabat Gyuri? Ji—Jiyoung?”

~♥~

Mwo?!”

Aku menatapnya memelas, “Jiyoung-ssi, apa kau benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada Gyuri? Tidak mungkin kan hal terjadi begitu saja, bahkan tadi pagi Hyukjae masih bersamaku, setelah dia berbicara empat mata dengan Gyuri… ia berubah seperti itu.”

“Aku juga tidak tau Oppa-ya,” ia meletakkan tangannya di pundakku, “Yang aku tau, Gyuri sangat menginginkan Eunhyuk-Oppa sepenuhnya untuk dirinya. Aku pun kaget melihat apa yang mereka lakukan di sekolah pagi ini, Gyuri… jujur aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya.”

Arasseo.”

“Eum, kau bilang tadi pagi kau masih bersama Eunhyuk-Oppa, itu artinya… kalian tidak putus?”

“TENTU SAJA TIDAK AKAN PERNAH!,” aku melihat mata Jiyoung membelalak kaget sebelum menyadari apa yang telah aku lakukan, “Mianhae, aku tidak bermaksud membentakmu, aku hanya… frustasi. Bayangkan jika kau di posisiku, Jiyoung-ah.”

“Aku mengerti Oppa, hanya saja begitu melihat Eunhyuk dan Gyuri bersama, banyak yeoja dikelas menggosipkan dirimu. Mereka mengira kalian telah putus, aku tidak tau ternyata Donghae-Oppa populer juga.”

Mau tak mau aku tertawa mendengar kata-katanya, “Jadi menurutmu aku tidak good-looking, begitu? Huh, kalau aku tidak populer, Hyukjae tidak mungkin begitu possessive terhadapku.”

“Euhm…Oppa,” ia menggigit bibirnya ragu, “Boleh bertanya?”

Ne?”

“Kau dan Eunhyuk-Oppa, berama lama telah bersama? Dari SMP? Yang ku tau kalian bersama selama 3 tahun. Lalu, apa orang tua kalian tau?”

“Aku dan Hyukjae telah bersama selama 18 tahun, kami sahabat dari kecil, ia lahir 6 bulan lebih tua dari pada diriku. Tapi kalau masalah bersama yang kau maksud adalah pacaran, 12 tahun umur pacaran kami.”

MWOYA?! 12 tahun?! Selama… itu?! Orang tua kalian?”

“Kedua orang tua kami sahabat dekat, oleh karena itu aku dapat bertemu dengan Hyukjae sejak eomma kami mengandung. Bahkan itu orang tua kami yang menyarankan untuk segera jadian. Kalau di fikir-fikir, mereka menjodohkan kami waktu umur 5 tahun, sangat muda untuk di jodohkan,” aku tertawa kecil mengingat-ingat masa lalu ku dan Hyukjae dulu.

“Aku lihat kau begitu bahagia dengannya Oppa.”

Ne, aku tidak pernah mempunyai hari yang tidak bahagia. Semua hari, terasa bahagia.”

“Aku harap kau dan Eunhyuk-Oppa segera menemukan jalan bersama, aku akan coba berbicara dengan Gyuri, siapa tau dia bisa diubah.”

Gomawo Jiyoung-ah.”

Jiyoung menepuk pundakku pelan, “No need, hanya do’akan aku menemukan jodoh seperti kau menemukan Eunhyuk-Oppa.”

“Tentu. Ah tolong satu lagi, katakan pada Gyuri jangan meyentuh kekasih orang seenaknya, karena aku dan Hyukjae tidak akan pernah putus.”

Ne!!”

~♥~

Setelah selesai berbicara empat mata dengan Jiyoung. Disinilah aku sekarang, duduk diam memikirkan apa yang harus ku lakukan. Aku tidak tahu. Aku tidak dapat menebak apa yang harus ku lakukan. Satu hal yang ingin ku lakukan adalah menampar Hyukjae keras-keras agar ia segera tersadar dari apapun yang terjadi kepada dirinya.

Dan satu hal yang membuatku jengah dari tadi. Semua orang yang berpapasan denganku menepuk pundakku simpati dan mengatakan aku pasti akan menemukan orang yang lebih baik dari Hyukjae. Fuck. Apakah mereka kira aku benar-benar putus dengan Hyukjae? Kata putus tidak akan pernah ada di kamusku dan kamus Hyukjae. Kita tidak akan pernah putus.

Aku tertawa masam sebelum kembali menatap ke tempat duduk Hyukjae dan Gyuri. Mungkin inilah yang dirasakan Gyuri selama 3 tahun terakhir. Mencintai orang namun orang tersebut sama sekali tidak menyadari keberadaan kita. Perih. Tapi aku yakin apa yang dirasakan Gyuri tidak seperih apa yang tengah ku rasakan sekarang. Secara logika ia tidak pernah terlibat dalam hubungan romantic dengan Hyukjae, tapi aku? aku mendesah jengah, aku tidak mau memikirkannya. Semakin di fikirkan, semakin tidak masuk akal.

“Donghae-ssi.”

Aku mendongak dan menatap Jessica—yeoja satu kelasku, “Ne, Jess? Ah, panggil saja Donghae, lupakan formalitas.”

“Eung, agak sedikit aneh memanggilmu Donghae jika kenyataannya kita tidak pernah dekat. Aku hanya ingin bertanya, kau dan Eunhyuk-ssi.. mengapa semua bisa berubah seperti ini? Banyak gossip beredar bahwa kalian putus, tapi aku tidak percaya itu. Sejak kapan our lovely couple mengenal kata putus?”

Aku tesenyum miris. Bahkan Jessica yang bukan siapa-siapa dalam hubunganku dan Hyukjae tau bahwa tidak akan ada kata putus diantara kita berdua. Aku menatapnya lama sebelum memalingkan wajahku kearah lain.

“Kau tidak akan percaya jika mengetahui hal yang sebenarnya.”

Jessica menaikkan salah satu alisnya heran, “Memang kenapa, Oppa?”

“Gyuri, cokelat, sihir..maaf Jess, aku tidak tahu apa yang harus ku katakan karena aku sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya.”

“Ceritakan saja pelan-pelan Oppa, mungkin aku bisa membantu.”

“Jadi….”

~♥~

Aku berlari secepat mungkin mencari nenek-nenek berjubah yang diajak berbicara dengan Gyuri kemarin. Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa tidak terfikir olehku?! Kenapa tidak terfikir oleh ku dari tadi untuk bertanya kepada pemilik cokelat tersebut? Ash, stupid pabo Lee Donghae! Untung saja Jessica menyadarkanku dan memberikan solusi yang tepat. Aku tidak pernah tau ada seseorang yang saaaaaaaangat pintar seperti Jessica dan seseorang yang saaaaaaaaaaaaaangat bodoh sepertiku.

Aku menarik nafas panjang mengumpulkan nafasku yang terputus-putus. Dimana? Dimana? Dimana? Dimana nenek itu? Aku ingat dengan jelas bahwa kemaren ia berada di daerah sini. Aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri.

Andwae! Aku harus terus mencari nenek tersebut. Nenek tersebut tidak boleh hilang! Aku harus menemukannya! Apapun caranya harus ku temukan! Aku kembali berjalan-setengah-berlari mencari dimana nenek tersebut, mengintip toko-toko kecil yang dibuka karena ini hari valentine. Aku merasakan seragamku mulai basah karena keringat namun aku tidak perduli. Yang ku perdulikan hanyalah mencari dimana nenek itu berada.

“Dimana nenek itu ber—“

Kata-kataku terputus dan senyum diwajahku merekah. Finally! Nenek-nenek tersebut membuka stand dipojokkan jalan yang sedikit ‘terpencil’. Mungkin untuk menambahkan kesan mistis. Aku menyerukkan bahuku sebelum berjalan masuk ke dalam toko kecil-kecilan tersebut.

“Permisi..?”

Seorang yeoja masih berumuran anak SMP keluar dari balik tirai dan tersenyum hangat ke arahku, “Ada yang bisa saya bantu, tuan?”

“Saya tadi melihat seorang nenek yang pernah teman saya temui beberapa hari yang lalu. Bolehkah saya bertanya beberapa hal kepadanya?”

“Baiklah, silahkan masuk tuan.”

Aku mengangguk singkat dan—secara otomatis—mataku melihat sekeliling mencoba menebak tempat apakah ini. Seperti sebuah tempat dukun, namun lebih fancy dan romantic. Saat tirai tersebut disibak, aku dapat melihat jelas sosok nenek yang kemaren berbicara dengan Gyuri. Entah mengapa, begitu melihat wajahnya aku merasakan darahku mendidih. Andai saja Gyuri tidak bertemu dengannya, tidak akan pernah ada cokelat sialan tersebut.

“Kau!! Apa yang telah kau perbuat dengan hidupku huh?! Aku pernah berbuat salah apa denganmu?!”

Namun nenek tersebut hanya tersenyum tenang, “Ada apa, anak muda?”

“ADA APA?! ADA APA KAU BILANG?! SETELAH KAU MENGHANCURKAN KEHIDUPANKU YANG INDAH KAU HANYA DUDUK DIAM MENGATAKAN ADA APA?!”

“Tenang, anak muda, aku tidak akan lari kemanapun.” Ia tersenyum kecil, “Duduk lah dan ceritakan apa masalahmu.”

Aku menghela nafas panjang dan menghempaskan tubuhku ke atas kursi kayu tersebut, “Tolong aku, aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi selain dirimu yang menjadi sumber kekacauan ini.”

“Katakan padaku anak muda, apa yang ku perbuat hingga membuatmu sekacau ini? Karena walaupun aku tua, daya ingatku masih kuat. Aku berani bertaruh, kau dan aku, kita tidak pernah bertemu.”

“Kau ingat seorang gadis berambut blonde panjang, keriting gantung? Dia teman sekelasku yang sudah menyukai pacarku selama tiga tahun. Ia berniat memberikan cokelat buatannya di hari valentine beserta menyatakan perasaannya. Tapi karena cokelatmu, kekasihku menyukainya dan sekarang ia bertindak seolah-olah tidak pernah mengenalku, seolah-olah aku orang asing, seolah-olah aku hanyalah teman sekelasnya, seolah-olah hubungan 12 tahun kami bukan apa-apa.”

Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis namun susah. Bila mengingat hubungan 12 tahun kami hancur karena sebuah cokelat…itu sangat pathetic. Aku kalah dengan cokelat? Funny.

Omooo! Aku tidak tahu bahwa lelaki yang ia ceritakan adalah kekasihmu… Mianhae..”

Gwaenchana,” aku tersenyum kecil, “Apa yang harus ku lakukan, halmoni? Apa yang harus ku lakukan untuk mematahkan sihirmu tersebut? Aku tidak ingin Hyukjae mencintai orang yang sama sekali tidak dicintainya…aku ingin Hyukjae yang lama…”

Nenek tersebut bergerak gelisah ditempat duduknya, “Sebenarnya….cokelat itu…permanen.”

“APA?!!!”

Walau nenek tersebut membisikkan kata-kata yang terakhir namun aku mendengarnya. Jadi…apapun yang ku kerjakan tidak akan ada yang berguna? Cintaku dan Hyukjae..cinta kami…berakhir begini saja? Andwae… ini tidak mungkin.

“Ka—Kau yakin tidak ada hal yang sama sekali bisa ku lakukan?”

“Ada sih, tapi kemungkinannya 50%pun tidak sampai. Aku kira namja yang di ceritakan yeoja itu belum dimiliki oleh siapapun, karena itu aku memberikan cokelat yang permanen dan mampu membuat namja itu menyukai yeoja tersebut perlahan-lahan.”

“APA?!!! KENAPA KAU MENJUAL COKELAT SEMACAM ITU?!”

“Aku tidak tega melihat wajah yeoja itu.”

Aku mendesah kesal. Sekarang apa? Jadi aku harus berhenti berharap? Beginikah akhir kisahku dan Hyukjae? Not so romantic. Terlalu tragis. Aku mendesis putus asa, tidak. Walaupun kesempatan 50% itu bisa jadi gagal, tapi aku harus mencoba daripada melihat perlahan-lahan Hyukjae benar-benar mencintai Gyuri dan melupakanku begitu saja.

“Bisa kau beritahu cara apa yang harus ku lakukan? Aku tidak perduli walaupun kemungkinan 50%-pun tidak ada tapi aku rasa tidak ada salahnya untuk mencoba.”

Nenek tersebut menatapku simpati, “Kau yakin? Yeoja ataupun namja diluar sana masih banyak. Ditambah kau lumayan good-looking.”

“Maksudmu aku harus move on? No. Aku akan move on jika kami benar-benar putus secara layak dan tidak dengan cara seperti ini. This is nightmare, tadi sebelum Hyukjae bertemu Gyuri dia masih milikku, semenit setelah bertemu Gyuri ia sudah menjadi kekasih yeoja tersebut. Aku dan Hyukjae tidak akan pernah putus dengan cara seperti ini.”

“Aku rasa cara ini mampu mematahkan sihir tersebut, untuk kali ini. Sudah berapa lama namja tersebut terkena sihir ini?”

Aku melihat jam tanganku sebelum menjawab, “Sekitar tiga atau empat jam-an.”

“Bagus masih kurang dari 10 jam. Euhm, kau dan…Hyukjae, punyakah barang diantara kalian yang sangat special? Atau suatu kegiatan yang sudah menjadi rutinitas kalian yang selalu terasa special setiap kalian melakukannya?”

Ciuman, aku merasakan mukaku memanas begitu fikiran ini terlintas diotakku. Bodoh. Mana mungkin sebuah ciuman bisa menyadarkan Hyukkie? This isn’t fairytail for God’s sake. Tidak mungkin dengan aku mencium Hyukjae sama seperti membangunkan aurora setelah tertusuk jarum tenun atau bahkan membangunkan snow white yang memakan apel beracun.

“Euhm, aku tidak tahu apakah ini special dimata Hyukjae atau tidak, tapi cincin ini mempunyai makna yang sangat berarti untuk kita berdua dan…setiap tahunnya, setiap hari valentine, aku membuat cokelat khusus untuk Hyukjae yang selalu dinantinya. Tapi sama halnya seperti cincin, aku tidak tahu apakah hal tersebut special dimata Hyukjae atau tidak…”

“Cobalah untuk mencobanya, satu-satunya hal yang bisa memusnahkan sihir tersebut adalah cinta sejati. Jika sang penerima cokelat telah memiliki cinta sejatinya, maka secara otomatis sihir tersebut akan menghilang dengan sendirinya.”

“Baiklah, do’akan aku semoga berhasil. Dan aku harap kau mempersiapkan dirimu sebelum aku datang kemari untuk membunuhmu jika cara ini tidak berhasil.”

Nenek tersebut tertawa terbahak-bahak, “Anak muda, kau lucu sekali! Ahahaha kau tidak mungkin melakukannya, benar kan? Aahahhahaa.”

Who said I wont? Kau yang menghancurkan kehidupanku dan aku sangat punya hak untuk menghancurkan kehidupanmu. Aku tidak main-main, halmoni.”

~♥~

Aku berlari semampu yang aku bisa untuk mencari Hyukjae. Seingatku tadi sang nenek bilang ‘bagus masih kurang dari 10 jam’. Apa itu maksudnya jika sudah lebih dari 10 jam, mantra itu tidak akan pernah dipatahkan? Aku mendesis jengah. Jikalau tidak ada nenek itu, jikalau tidak ada cokelat itu, jikalau Gyuri tidak menyatakan cintanya, jikalau Gyuri tidak menyukai Hyukkieku. Semua ini tidak akan pernah terjadi!

“Ah!!”

Aku terduduk di depan kelasku lelah. Nafasku terputus-putus namun aku tidak perduli. Aku harus membuat Hyukjae memakan cokelatku dan mengetahui arti dibalik cincin tersebut. Ini sudah 5 jam berlalu, aku tidak ingin kehilangan Hyukjae. Aku tidak mau.

“Donghae-ssi?”

What a perfect timing. Tanpa mendongakpun aku tau itu Hyukjae. Bagaimana mungkin aku tidak tahu dia siapa jika suara itulah yang menghiasi 18 tahunku? Aku menarik nafas panjang sebelum mendongak menatapnya.

“Hi, Hyukj—“

“Eunhyuk.” Komentarnya dingin.

Aku merasakan hatiku teremas mendengarnya. Hyukjae selalu mengatakan orang-orang ada hukum tidak tertulis yang berbunyi: barang siapa selain Donghae tidak boleh memanggilku Hyukjae. Aku rasa nama Donghae telah berganti menjadi Gyuri. Ya Tuhan, reaksi cokelat itu lebih besar dari perkiraanku!!

“Sedang apa kau disini? Lagipula, mengapa bajumu basah? Aku rasa aku tidak melihat ada orang bermain bola ataupun basket tadi.”

Aku tersenyum kaku, “A—Aku habis berlari. Ah, kenapa aku berlari itu tidak penting. Anyway, kau ingat tadi aku berkata padamu ada dua hal yang ingin ku sampaikan padamu?”

“Ingat.”

“Aku ingin memberitahumu hal yang kedua sekarang. Kau mau menunggu sebentar? Ada barang yang ingin ku serahkan padamu dan barang ini…,” aku menggigit bibir bawahku ragu-ragu, “…adalah barang yang kau tunggu setiap tahunnya…”

“Oh ya? Barang apa? Aku rasa aku tidak pernah menunggu barang apapun setiap tahunnya? Apalagi darimu, Donghae.”

Aku tersenyum kikuk. Aku benar-benar terlihat seperti orang tolol kali ini. Mungkin inilah yang dirasakan Gyuri setiap kali ia berbicara dengan Hyukjae. Tapi setidaknya ia tidak mempunyai kenangan bahwa Hyukjae adalah miliknya dan ku ambil menggunakan sihir murahan.

“Tunggu.”

Aku berdiri dan masuk ke dalam kelas mengabaikan pertanyaan teman sekelasku dari manakah diriku ataupun mengapa bajuku penuh keringat. Aku tidak ada waktu untuk itu, teman-teman. Kehidupanku diambang kematian. Ku ambil sekotak cokelat yang telah terbungkus rapi dari dalam tasku. Aku menatap cokelat itu lama, berdebat akankah ini semua berhasil atau tidak. Secara logika, cokelat Gyuri bermantra tapi cokelatku? Hanya cokelat biasa.

Cobalah untuk mencobanya…

Kalau cara ini benar-benar tidak akan berhasil aku tidak tahu lagi apa yang bisa ku lakukan. Ku dekap erat cokelat tersebut dan berdo’a dalam hati. Aku belum siap kehilangan Hyukjae apalagi dengan cara seperti ini. Aku tidak ingin. Aku menarik nafas panjang dan memantapkan hatiku.

I can.

Aku berjalan—setengah menyeret—kakiku untuk membawaku ke tempat Hyukjae menungguku diluar. Ku lihat wajahnya mengernyit begitu melihat barang apakah yang aku bawa.

“Itu….”

“Cokelat,” ujarku memotong kata-katanya. “Cokelat buatanku khusus untukmu, dengan rasa selai strawberry di dalamnya, persis seperti apa yang kau inginkan setiap tahunnya.”

“Aku tidak pernah mengingat aku butuh cokelat buatanmu, Donghae. Yang ku ingat aku hanya menginginkan cokelat Gyuri setiap tahunnya. Aku bahkan masih mengingat rasa cokelat buatannya setiap tahun.”

Aku menggigit bibir bawahku, “Aku tidak tahu. Kau sendiri yang mengatakannya padaku untuk membuatkan cokelat untukmu. Ini..”

Aku merasakan seluruh mata anak-anak menatap kami berdua. Ini awkward. Tapi aku tidak perduli, masalah aku akan digosipkan atau tidak itu urusan nanti. Saat ini, yang terpenting hanyalah membuat Hyukjae mengingatku.

“Aku rasa aku—“

“Tidak ada salahnya kan kalaupun mencoba? Coba saja satu cokelat siapa tau dengan begitu kau mengingat bahwa kau membuat janji padaku.”

Hyukjae terlihat berfikir sebentar sebelum mengangguk ragu-ragu. Ia menarik kotak tersebut dari tanganku dan membukanya. Matanya tersirat kebahagiaan begitu melihat kue-kue kering berhiaskan cream strawberry yang terletak didalam kotak tersebut. Ia mencium aroma kue tersebut sebelum mengambil sebuah kue dan menggigitnya.

Bertepatan dengan ia menggigit kue tersebut, aku juga ikut menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Bagaimana kalau ia tidak ingat? Bagaimana kalau cokelat tersebut kalah dengan sihir Gyuri? Bagaimana kalau—

“Wow Donghae, cokelat ini benar-benar mirip seperti yang Gyuri berikan untukku. Kau belajar dari Gyuri, ya? Hebat…rasanya mirip, kekeringannya mirip, teksturnya mirip, kelembutannya mirip, aromanya pun sama.”

Hebat.

Aniyo, Hyukkie. Itu cokelat buatanku, cokelat yang ku pelajari dari eommaku. Dan itu…resep asli buatan eommaku yang resepnya hanya diketahui oleh keluargaku dan juga keluargamu. Tidak dibukukan dimanapun dan tidak di bocorkan ke siapapun.”

Ia tertegun mendengar kata-kataku, “Apa? Lalu…”

“Hyukkie… kau..benar-benar tidak mengingat siapa aku?” aku menatapnya putus asa, bahkan cokelatku mengalahkan Gyuri.

“Aku ingat, kau Donghae, Lee Donghae, teman sekelasku kan?”

Aku merasakan mataku memanas mendengar kata-katanya. Aku harus kuat. Aku tidak boleh lemah. Ini ujian yang diberikan Tuhan untuk mengetes seberapa besar kekuatan cinta kami. Aku harus tegar.

Ani, Hyukkie. Kalau aku bilang kau kekasihku selama 12 tahun, apa kau percaya? Apa kau percaya bahwa kekasihmu selama ini adalah aku dan bukan Gyuri? Apa kau percaya jika aku bilang tadi pagi kau masih milikku sampai ketika Gyuri memberikanmu cokelat…kau langsung berubah menjadi kekasihnya? Apa kau percaya jika aku bilang Gyuri memberikanmu cokelat sihir?”

“Aku tidak tahu apa maksudmu Donghae. Kita? In relationship? Omong kosong. Buktikan! Apa kau punya bukti dengan semua bualanmu? Kau menyukaikukan, Donghae? Karena itu kau melakukan hal seperti ini, huh, aku tidak percaya kau memfitnah teman sekelasmu sendiri Donghae. Berhenti mengatakan bah—“

“TAPI ITU KENYATAAN HYUKJAE!!!” tanpa aba-aba air mata langsung mengalir dari kedua mataku, “Aku memang menyukaimu! Tapi kau juga mencintaiku, Hyukjae! Tanya kepada teman-teman sekelasmu siapa kau dan aku dan siapa kau dan Gyuri! Siapa couple sebenarnya!! Tanya kedua orang tuamu siapa yang mereka kenal aku ataukah Gyuri! Tanya! Tanya kepada guru-guru yang berada di sekolah ini siapa yang selama ini bersamamu! Aku ataukah Gyuri! Tanya mereka Hyukjae! Mereka saksi hidup!!! Mereka saksi hidup semua hubungan kita! Tanya guru-guru SD lama kita, tanya guru-guru SMP lama kita!! Tanya penjual ice cream di kedai ice cream di depan sekolah! Tanya kepada penjual gulali di taman dekat rumahmu! Tanya mereka! Tanya mereka siapa yang mereka lihat aku ataukah Gyuri selama ini!!!!”

Aku menjambak rambutku kesal, “Semua ini karena Gyuri! Semua ini tidak akan pernah terjadi jika Gyuri membeli cokelat itu dan memberikannya padamu pagi ini! Andai saja kau tidak memakan cokelat beracun tersebut kau masih bersamaku Hyukjae!!! Tadi pagi kau masih menjemputku, menciumku, memelukku, mengatakan kau mencintaiku!! Tapi semua ini hilang begitu kau memakan cokelat bodoh milik Gyuri!!”

Plak.

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kananku. Seluruh siswa yang menyaksikan kami menahan nafas mereka. Aku hanya mampu menatap tangan Hyukjae dengan pandangan kosong. Ia tidak mungkin menamparku, ia tidak pernah mau menyakitiku.

“Hentikan Donghae. Hentikan bualanmu!!!!”

Kakiku bergetar hebat. Air mataku semakin banyak yang merebah turun dari ujung mataku. Otakku seakan-akan berhenti berfungsi, begitu pula dengan telingaku. Satu hal yang terus berputar di otakku hanyalah fakta bahwa,

Ia menamparku.

Aku mengusap pipiku yang masih terasa panas dan menatap pilu kearahnya. Kau bukan Hyukjae, desisku jengah. Hyukjae yang ku kenal tidak ringan tangan. Aku mengambil nafas panjang-panjang sebelum melepas cincin dari tangan kananku.

“Aku tidak membual Hyukjae. Aku punya saksi, aku punya bukti. Kalau kau masih mengira ini bualanku juga, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.”

Aku menarik tangannya dan menyerahkan cincinku ke atas tangannya, “Ini cincin yang kau berikan padaku dua hari yang lalu. Ketika kau merasakan bahwa ada hal buruk yang akan terjadi saat valentine sehingga kau memberikannya padaku lebih awal. Cincin yang membuktikan bahwa kau serius dengan hubungan kita. Couple ring. Sama seperti cincin yang kau kenakan dibalik kerah seragammu. Lihat nama siapa yang tertera di cincinmu, apakah itu Donghae atau Gyuri. Dan aku sama sekali tidak memakaikan cincin tersebut padamu hari ini, karena kau tau sendiri aku tidak pernah menghampirimu seharian ini apalagi untuk mengenakanmu sebuah kalung bodoh yang kau anggap bualanku. Fikirkan itu Hyukjae, apa kau kira aku berani membual untuk hal seperti ini?”

Aku hendak membalik badanku dan berjalan meninggalkan Hyukjae beserta kerumunan tersebut sampai aku mendengar suara teriakan. Teriakan Hyukjae. Dan saat aku membalikkan badanku, Hyukjae ambruk dihadapanku. Menggenggam cincinku dan cincinnya, erat.

~♥~

Aku segera membopong badan Hyukjae ke UKS. Gawat, gawat, gawat. Apa yang terjadi? Aku menendang pintu UKS dengan panic membuat beberapa murid yang berada di dalam ruangan tersebut tertegun kaget.

“Tolong! Tolong dia!”

Seorang siswa membantuku membawa badan Hyukjae dan merebahkannya diatas tempat tidur. Aku segera beralih menyingkir dan mempersilahkan suster yang berjaga di UKS memeriksa Hyukjae. Aku menggigit bibir bawahku takut-takut. Tanpa sadar aku menggenggam cincinku dan Hyukjae terlalu erat.

Bagaimana kalau Hyukjae kenapa-kenapa karena aku memaksanya untuk mengingatku?, aku mendesah jengah. Gawat! Aku tidak mau kehilangan Hyukjae. Tidak, tidak boleh. ugh. Apa yang harus ku lakukan?!

“Uhm, Donghae-ssi, kau bisa tenang sekarang. Ia hanya pusing dan terlalu banyak fikiran. Mungkin biarkan ia istirahat sebentar dan beberapa menit kemudian mungkin ia akan bangun.”

Aku menatap suster itu khawatir, “Kira-kira berapa lama aku harus membiarkannya istirahat?” sekarang sudah 5.30 jam sejak ia memakan cokelat itu. Aku tidak punya waktu banyak.

“Mungkin satu atau satu setengah jam sudah cukup. Kau bisa kembali ke kelas sekarang Donghae-ssi, biar kami yang merawatnya sampai sadar.”

Ani!” sergahku cepat. “Biar aku saja, aku yang merawatnya. Dia sahabatku…”

“Kau yakin?”

Ne. Kau bisa meninggalkanku sekarang, semua akan baik-baik saja, aku jamin.”

Suster itu tersenyum kecil sebelum meninggalkanku dan Hyukjae berdua. Ruangan yang tadi terdengar sedikit ribut menjadi sunyi sesunyi mungkin. Hanya ada deru AC yang terdengar dari ruangan ini. Aku menghela nafas dan menggenggam tangan Hyukjae erat.

“Hyukkie, mianhae, gara-gara aku memaksamu mengingatku..kau jadi begini. Ugh, aku benar-benar putus asa sekarang. Disatu sisi aku tidak ingin melepasmu, tapi disisi lain, aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Aku bingung Hyukkie…”

Aku menempelkan tangan Hyukjae di pipiku dan mengusap punggung tangannya lembut. Dadaku seakan teremas melihat hubungan kami. Tidak mungkin. Tidak mungkin hubunganku dan Hyukjae berakhir seperti ini. Terlalu tragis, terlalu menyedihkan, aku tidak sanggup.

Aku meremas tangan Hyukjae kuat-kuat, “Hyukkie, apa aku harus merelakanmu? Aku tidak mau Hyukkie, aku tidak mau melepaskanmu. Kau berjanji padaku! Kau yang menjanjikan kau akan menjadi suami terhebat yang pernah ada untukku! Kau yang harus menepatkan janjimu! Aku telah berjuang Hyukkie, kau juga harus berjuang untuk mengingatku. Hatimu harus berjuang untuk mengingat hatiku…”

Aku merasakan air mataku merembah turun dan jatuh diatas punggung tangan Hyukjae. Saat aku hendak menghapus air mata tersebut, tangan Hyukjae bergerak dan perlahan-lahan matanya terbuka.

“Hyukkie!”

Hyukjae mengerjap-ngerjapkan matanya bingung, “Hae..?”

Air mata bahagia langsung merembah turun dari kedua mataku. Ia memanggilku Hae! Ia memanggilku Hae berarti ia sudah mengingatku lagi!! Aku segera menggenggam tangannya erat.

“Kau ingat aku, kan, Hyukkie?”

Of course I am, wifey.”

Aku merasakan luapan kesenangan membuncah dari dadaku. Aku melepaskan genggaman tangan kami dan memeluknya erat.

“Kau kembali Hyukkie, akhirnya kau kembali..”

Hyukjae menatapku bingung, “Aku kembali? Memangnya aku habis darimana? Oh iya, mengapa aku berada di ruang UKS? Seingatku tadi pagi kita masih digerbang…sampai bertemu dengan Gyuri…dan..oh! gyuri!”

Aku menggigit bibir bawahku. Apa ia masih mengaggap bahwa ia kekasih Gyuri? No way in hell! Tenang Donghae, tenang, at least he called you wifey.

“Gyuri kenapa, Hyukkie?”

“Ia memberiku coklat pagi ini dan aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.” ia menatap kedua mataku polos, “Apa coklat itu beracun hingga aku bisa melupakan alasan mengapa aku berada disini? Ataukah cokelat tersebut beracun sehingga aku pingsan?”

“Eum, panjang ceritanya Hyukkie…”

Haruskah aku bercerita? Tapi aku tau Hyukjae, ia pasti akan marah. Bukan marah kepadaku, tetapi marah kepada Gyuri. Walaupun aku kesal dengan Gyuri, tapi mostly ini juga salah kita. Andai saja kita tidak terlalu menujukkan public display of affection, Gyuri tidak mungkin nekat mengambil tingkah ini.

Won’t her?

Sebuah tangan menggenggam tanganku membuatku berhenti memikirkan apa yang ku fikirkan, “Tell me, Donghae. Apa yang terjadi? Mengapa aku bisa lupa?”

“Ceritanya panjang….kau pun akan marah, Hyukkie…”

I won’t, sekarang ceritakan padaku Donghae.”

~♥~

“Hyukkie! No, Hyukkie! Hyuk—Hyukkie stop!”

Aku berusaha mengejar Hyukkie yang langsung berlari tanpa aba-aba keluar dari ruang UKS. Aku sudah menduganya, Hyukjae pasti akan sangat marah begitu mendengar semua ceritanya. I don’t mean to be a narccist, tetapi ketika itu berurusan dengan membuatku menangis, he shows no mercy. Aku mencoba meraih kemeja Hyukjae, namun susah, ia berjalan cukup cepat, setengah berlari bahkan bisa dibilang.

“Hyukkie, stop Hyukkie! Aku baik-baik saja, see? Semua sudah berakhir, jangan memperpanjang masalah, Hyukkie…dengarkan aku, Hyuk—!”

Ia berhenti sebelum menatapku, “Aku tidak perduli Donghae, ini semua belum berakhir. Ia belum meminta maaf kepadamu, ia membuatmu menangis and she will pay for that.”

Ia berbalik dan berjalan cepat kearah kelas. Aku berusaha berlari menyusul dibelakangnya, namun saat aku berhasil menangkap lengannya, disaat yang bersaman keluar Gyuri dari dalam kelas. Ia menatap aku dan Hyukjae bergantian—setengah kaget, sebelum tersenyum manis kearah Hyukjae dan mengait lengannya.

Poor girl, she hasn’t know.

Oppa, apa dia mengganggumu? Ia mengganggu kita dari tadi, ayo Oppa kita tinggalkan dia dan pergi ke kan—“

Kata-katanya terhenti begitu Hyukjae mendorong dan menghempaskan badan Gyuri ke dinding. Matanya menatap Gyuri dengan galak. Tanpa ku sadari aku menahan nafasku sembari menunggu apa yang akan dilakukan Hyukjae berikutnya.

Don’t you ever touch me, bitch.”

Mata Gyuri membelalak lebar, “Op—Oppa?”

“Jangan meng-Oppaku! Kau kira kau bisa mendapatkanku hanya karena sebuah cokelat? Hah, bulshit! Sebuah cokelat bermantra tidak akan bisa mematahkan cinta sejatiku dengan Donghae! Kalaupun cokelat bodoh itu berhasil mempengaruhiku, aku yakin hatiku pun pasti akan mencari hati Donghae nantinya! Mencari pemilik hatiku yang sesungguhnya bukan karena sebuah cokelat bodoh!”

“Tapi Eunhyuk! Aku juga sama seperti Donghae! Aku juga mencintaimu sama seperti dia! Memang apa salahnya engkau mencoba mencintaiku?!”

Hyukjae menatap Gyuri ke atas dan ke bawah sebelum tersenyum meremehkan, “Mencintaimu? Bahkan untuk menyukaimu aku harus memikir dua kali.”

Oh God, this is not good.

“Mencintaimu? Setelah apa yang kau perbuat hari ini? Hmm, apakah kau merasa pantas mendapatkan kata maafku? Apa kau pantas berdiri dihadapanku sekarang? Kau tidak pantas, Gyuri-ssi, oleh karena itu, apa kau merasa pantas mendapatkan cintaku?”

Gyuri tertegun namun ia berusaha tetap tegar, “Iya, aku pantas! Karena aku bisa memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh Donghae. Aku lebih pantas karena jika kau bersamaku kau lebih normal. Aku lebih pantas karena aku seorang yeoja bukan seorang namja yang tidak bisa memberimu keturunan!”

Aku tertegun mendengarnya. Perempuan ini berani-beraninya mengungkit-ungkit masalah ini. Aku hendak maju kedepan namun Hyukjae menoleh dan memberikanku senyuman favoritku. Hyukjae berjalan mendekat menuju Gyuri, memojokkannya ke dinding sehingga tidak ada celah untuk kabur. Jika aku tidak tau apa yang terjadi, mungkin aku sudah dimakan api cemburu.

“Keturunan, hm?” hyukjae bertanya sambil melempar smirk andalannya, “Apa kau terlalu bodoh Gyuri-ssi? Atau kau mengira aku dan Donghae bodoh? Kau kira setelah berhubungan 12 tahun lamanya, kita berdua tidak mendapat cemoohan seperti itu? kau kira aku dan Donghae tidak pernah memikirkan akan hal itu, hm? Aku tidak butuh keturunan jika itu berarti aku mempunyai Donghae disisiku. Tanpa Donghae, tidak ada masa depan untukku. Aku mencintainya, sangat mencintainya, bahkan aku tidak bisa membayangankan masa depanku tanpa ada dia disisiku. Dan sekarang kau menyarankan padaku untuk memilihmu hanya karena kau bisa memberikanku keturunan?”

Walau aku sudah mendengar kalimat itu berkali-kali tapi tetap saja, saat ia mengatakannya jantungku masih berdebar cepat dan juga merasa senang dengan kalimatnya. Aku dulu juga bermimpi punya dua anak perempuan dan laki-laki, namun mimpi itu ku lepaskan begitu aku bertemu Hyukkie.

“Lagipula, kau belum pernah dengar kata adopsi?”

Wajah Gyuri menganga lebar. Aku rasa ia sudah tau bahwa semua aksinya hari ini sia-sia saja. Hyukjae tetap milikku dan Hyukjae tetap cinta kepadaku. Ia tidak mungkin berani mengganggu hubungan kita lagi.

“Gyuri-ssi, aku benar-benar minta maaf. Tapi kau tidak bisa memaksakan perasaanmu kepadaku. Just let it found its own mate, kalau he is the one, dia tidak akan pernah melepaskanmu, like Donghae never let me go.”

Hyukjae membalik badannya, menggandeng tanganku dan membawaku pergi meninggalkan Gyuri sendirian. Aku tersenyum senang. Hari ini memang sangat berat, tapi masa depan kita masih panjang lagi, masih banyak ujian yang pastinya lebih berat dari pada yang satu ini. Ini masih permulaan, begitu kita menikah, pasti akan lebih banyak masalah yang bermunculan. Semakin aku memikirkan kata ‘menikah’ tanpa sadar aku menggenggam tangan Hyukjae terlalu keras.

Ne, wifey?”

Aku mengulum senyum sebelum menatap kedua manik matanya lembut, “I’m happy I have you, I’m happy I found you, I’m happy that we won’t be apart, I’m happy how strong our feeling is, I’m happy that you love me, I’m—

and I’m happy you love me too.” ujar Hyukjae pelan setelah mencium bibirku lembut.

I love you hubby.”

Hyukjae mencium punggung tanganku sebelum mencium keningku, “I love you too, wifey.”

 

 

~♥~

THE END < 3

THE END YES THE END. T H E E N D ; O ; finally setelah satu tahun hahaha. I’M GONNA CRY FINALLY YEAAA ; u ;

♥ C O M M E N T P L E A SE ? ; ;

6 thoughts on “Chocolate Love [Part 3]

  1. Wow ^0^, sooooo sswweeeetttt kdar gulanya over bnget eon
    Rntangan yg brat, d imbalin am ending yg sweet *ampe diabtes
    Thu hyuk v( ‘.’ )v aw aw aw, manly bnget .xixixixixi like like it ^^
    Rasain thu gyuri kkkkkkk~
    But krang atu ni adgan neh eon ,?ntu reaksi hyuk, klo dia ud nmpar c hae ,hmm

  2. Inas ;A; seriously.. This is too romantic and … :’)) ah ya pokoknya gitulaah.

    Akhirnya tamat juga hahaha terima kasih ({}) kekuatan cinta mommy hae dan daddy hyuk memang tak terlalahkan aww :3❤

    Ditunggu karya selanjutnya. Fighting!

  3. Aww inas thank you so much for update this story❤

    And this story is so~~~ romantic. And so something (?) ahahahaha.

    Gyuri bener-bener kayak seorang perempuan murahan yang seenaknnya mencuri cinta HyukHae ~ ;A; tapi ya bola-bali cinta HyukHae memang tak terkalahkan :$

    Ditunggu karya selanjutnya inas! Fighting!

  4. UUUUH ;3;;
    I’VE BEEN WAITING THIS SINCE 2012 ;A;;;;
    DAN TIBA-TIBA PAS CEK UDAH ADA……………..
    TENGAH MALEM PULA BACANYA ;3;;; UUUH SOOOO HAPPYYYY
    KEREN AS USUAAAAL!!! GAAAAH X33

  5. seneng deh sama endingnya…mereka mang tak terpisahkan…perjuangan hae membuahkan hasil hehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s