fanfictions

2013 EunHae’s Day [D-3]

anigif

 

Title: 2013 EunHae’s Day [D-3]

Main Cast:

–          Lee Hyukjae

–          Lee Donghae

And another support cast.

Main Pairing: HyukHae

Author: Nashelf Hafizhah Wanda

Genre: Romance / Angst / Yaoi

Rating: G

Length: series

~♥~

Four: Should’ve Treated You Better

~♥~

“Is it over? I still love you so much

My girl, My girl, how did we end up like this? “

—uBeat; Should’ve Treated You Better

Aku merebahkan punggungku di taman di depan hamparan danau yang indah, berusaha mengenyahkan sedikit stress yang menumpuk di benakku akibat usahaku mencari Donghae.  Ups, ralat. Aku tidak mencarinya, aku mencari keberanianku untuk bertemu dengan Donghae.

Yep, you guessed it right.

Aku sudah menemukan Donghae. Aku tau dimana ia berada saat ini, the problem is, aku tidak tau apa yang harus ku katakan begitu aku berhadapan face-to-face dengan Donghae.

  1. aku ingin kau kembali, Donghae.

Creepy, terlalu to-the-point.

  1. Donghae, maafkan aku, aku tau selama ini aku salah, aku salah memperlakukanmu, aku—

Terlalu bertele-tele, kemungkinan Donghae sudah pergi duluan bahkan sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku.

  1. Donghae, kau adalah pemegang hatiku, jangan tinggalkan aku lagi

Terlalu berlebihan, aku bahkan merasakan buluku berdiri membayangkannya.

  1. Donghae, aku tau kau belum bisa melupakanku.

Hah, in your dream Lee Hyukjae! Terlalu percaya diri.

  1. Donghae, kembalilah

Dramatic, menyeramkan.

“Argh!” erangku kesal.

Aku hanya membutuhkan beberapa kalimat untuk menyapa Donghae. Bagaimana bisa sesusah ini? Bukankah aku dan Donghae saling mengenal satu sama lain? Bukan seperti aku hendak mengajaknya berpacaran hari itu juga, kan?

Ugh.

Aku tidak menyangka hubunganku dan Donghae berakhir seperti ini.

~♥~

“Again today, I wait in front of your house

In case I might be able to see you for a moment”

~♥~

Aku berusaha bersembunyi dengan lihai di balik pohon di depan rumah Donghae. Menunggu sang pemilik rumah keluar dari sangkarnya dan menebarkan senyumannya yang indah kepada dunia. Ku lirik jam tanganku, hampir jam 10, jam kuliah Donghae. Dan yak, benar, bertepatan dengan saat aku mendongakkan kepalaku dari jam tanganku, Donghae keluar dari pintu rumahnya dengan buku-buku di tangannya.

Senyuman Donghae masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Senyumannya masih memberikan efek yang sama seperti terakhir kali senyuman itu memberikanku efek. Senyuman tersungging dengan sendirinya dari ujung bibirku. Perlahan namun pasti, aku mengikuti Donghae sampai ke tempat kuliahnya.

Hal ini sudah ku ulang-ulang lebih dari sepuluh kali, dan untung saja Donghae tidak pernah mengetahui bahwa ada orang yang mengikutinya selama sepuluh hari ini. Dan aku senang, selama sepuluh hari ini, aku tidak melihat ada seorang lelaki atau wanita apapun yang pergi bersama Donghae ataupun yang menjadi objek perhatian Donghae. Ku simpulkan aku masih ada peluang dengan Donghae.

Senyumku masih tersungging begitu melihat punggung Donghae masuk ke ruang kelasnya, masih dengan senyuman diwajahnya.

wait for me, Donghae.”

~♥~

“I wonder if you found someone new

These kinds of thoughts make things harder for me baby”

~♥~

Pandanganku menatap hamparan danau dihadapanku dengan sendu. Memang benar, sepuluh hari ini aku mengikuti Donghae dan tidak ada lelaki atau wanita satupun yang terlihat dekat dengan Donghae. Tapi itu tidak menyimpulkan bahwa ia tidak mempunyai siapapun yang ia sukai, kan?

Bisa saja teman sekelasnya, teman sebangkunya atau teman-teman lainnya yang ia miliki di dunia maya. Aku tidak bisa memprediksi Donghae. Donghae itu seperti kotak yang dibungkus kertas kado. Bisa saja didalam otaknya ada hal yag ku sukai, atau bisa juga ada hal yang tidak ku sukai.

“Donghae-ya,” aku berbisik lemah. “Apa kau mendengarku sekarang? Jika iya, jawab aku.. apa aku masih penting untukmu? Apakah aku harus berjalan maju dan menguburmu sebagai kenanganku atau haruskah aku terus berjuang demi hatimu? Does all of this worth it?”

~♥~

“I can’t accept our break up

I’m tougher than I look, I can’t let you go like this, I can’t end it like this”

~♥~

Aku masih ingat dengan jelas alasan mengapa aku dan Donghae berakhir. Hari itu, hari laknat itu, adalah hari yang tidak akan pernah ku lupakan seumur hidupku. Sebuah hari yang mengakhirkan aku disini dan Donghae disana.

“Hyukkie~”

“Hm?”

“Hyukkieee~”

“Ne?” jawabku setengah kesal.

 “Eunhyukkieeee!”

Aku mendesis jengah, mengalihkan pandanganku dari sms Junsu dan menatapnya tanpa emosi, “Wae Donghae-ya?”

“Hmph!” desahnya jengah. “Kau selalu dengan hp-mu! Tidak kah kau memikirkan bahwa ke kasihmu disini membutuhkan perhatianmu juga?”

Oh, jadi itukah yang selama ini ia fikirkan? Bahwa aku tidak pernah memberikannya ‘perhatian’? Apa dia tidak berfikir, bahwa aku disini, berdua dengannya diruang dance, bukan perhatian namanya?!

“Donghae,” ujarku sambil berusaha mengontrol emosiku. “Sebulan lagi ada dance competition! Apa kau tidak bisa bersikap dewasa sedikit? Aku pemimpin club ini! Masa depan club ini ada ditanganku! Semakin aku becus mengarahinya semakin berhasil kita di kemudian hari. Ku mohon—“

“Ya ya ya, pacari saja clubmu! Kau selalu menomorduakan ku! Aku manusia yang punya kesabaran bukan clubmu yang tidak punya kesabaran namun selalu kau perdulikan!”

Belum sempat aku mencerna seluruh kalimatnya, ia telah mengambil tasnya dan berdiri berjalan keluar dari ruangan ini. A-Apa?! Apa omong kosong yang Donghae bicarakan? Tidak bisakah ia mengerti betapa pentingnya posisiku di club ini? Kenapa ia tidak bisa bersabar sedikit, hanya sebulan! Apa susahnya!

Semakin dekat Donghae dengan pintu, semakin kesal dan semakin tidak berfungsi otakku. Aku ingin mencegahnya, tapi apa yang harus ku katakan?

 “Kau keluar dari pintu dan kita berakhir Donghae.”

Bukan.

Bukan itu yang ingin ku katakan. Jangan pergi Donghae, baiklah aku akan mengajakmu kencan sore ini. Itulah yang ingin ku katakan. Aku tidak ingin kita berakhir.

Tapi sosok Donghae terus saja berjalan meninggalkanku seorang diri di ruang clubku. Apakah Donghae ingin mengakhiri semua ini? Apa ia sudah terlalu jengah denganku? Segitu sajakah perasaannya padaku? Sekecil itukah rasa cintanya padaku?

Beberapa hari berlalu dan Donghae benar-benar tidak pernah menemuiku. Oh, jadi segitukah perasaan Donghae selama ini kepadaku? Sungguh miris. Dan disinilah aku, menunggu kembalinya dia seperti orang bodoh, Hyukjae yang bodoh.

Drrt.

To: Hyukjae

From: Donghae

Hyukkie.. aku hanya bercanda beberapa hari terakhir ini. Aku hanya merajuk. Kau tidak serius kan kita berhenti sampai disini? Aku minta maaf Hyukkie, aku janji aku tidak akan pernah merajuk lagi. tapi ku mohon, katakan padaku kita masih bersama..

Aku tersenyum miris membaca sms Donghae. Semua sudah terlambat Donghae.

To: Donghae

From: Hyukjae

You have choose your own destiny, Donghae.

Tapi hari demi hari berlalu, bulan berganti bulan, Donghae tidak pernah kembali kepadaku setelah itu.

~♥~

“What do I do now? Just forget about her

That’s what my friends say even though they know I can’t”

~♥~

Ku penjamkan mataku merasakan hembusan angin taman yang menyejukkan. Saat-saat seperti inilah yang aku butuhkan saat ini. Aku butuh ketenangan, ketenangan yang mampu membawaku pergi sementara dari hiruk pikuk duniawi.

Tapi semua sama saja, sedetik setelah aku memejamkan mataku senyum Donghaelah yang muncul di balik mataku. Aku terkikik pelan. Donghae, Donghae, Donghae. Apa yang ia lakukan padaku sampai-sampai tidak ada satu nafaspun yang ku keluarkan tanpa memikirkan dirinya? Kenapa baru sekarang? Disaat-saat aku kehilangan Donghae. Kenapa tidak dulu saat Donghae masih terlingkar di balik telapak tanganku?

Forget him, Hyukjae.”

Kata-kata yang paling sering Junsu ucapkan kepadaku terngiang-ngiang di gendang telingaku. Bahkan aku rasa, kata-kata itu telah tertanam dengan rapinya di otakku. Maafkan aku Junsu, aku tidak bisa melupakannya, aku tidak mau, aku tidak bisa.

Aku sudah mencoba, Su. Tapi bagaimana bisa? Ketika aku sedang terlingkar dengan manisnya di balik telapak tangannya? Junsu tidak mengerti rasa sakit yang ku rasakan, ia hanya melihat, ia tidak pernah merasakannya, merasakan pahitnya kisah cintaku dan Donghae.

I cannot let him go, Su. Not again,” bisikku ke angin yang berhembus sore itu.

~♥~

“I have nothing to say at your tearful words

I’m sorry that I still love you”

~♥~

Aku mulai berdiri. Cukup sudah. Aku sudah cukup bersedih, aku harus berjalan terus. Aku akan menemui Donghae besok pagi, bertanya apa kabar, bagaimana kehidupannya selama ini, memintanya menjadi teman.

Tidak ada salahnya kan menjadi temannya dulu sebelum menjadi kekasihnya lagi? Dengan itu, aku lebih bisa mengerti Donghae dan lebih memahami Donghae.

“Hahahahahaha”

Eh?

Kenapa tawa itu seperti tawa seseorang yang ku kenal? Kenapa tawa itu terdengar seperti tawa Donghae?

Kakiku segera berlari mencoba mencari pusat tawa itu berada. Mungkin ini saatnya, mungkin sekaranglah saatnya aku menemui Donghae dan mengulang semuanya. Membersihkan segala kesalahanku dan memberikannya apa yang tidak ku berikan dulu.

“Maaf Hyukjae, maafkan aku.”

Hyukjae? Maafkan aku? Ini suara Donghae! Tunggu. Ia mengucapkan namaku, berarti ia masih memikirkanku? Tapi apa yang ia katakan tadi? Maafkan aku? Harusnya aku yang berkata itu! Harusnya akulah yang memohon maaf darimu!

Kakiku terus berjalan berusaha mendekat ke tempat Donghae. Dan begitu aku menemukannya, aku seperti bertemu dengan malaikat yang jatuh dari surga.

Ia duduk disana, memandang danau, dengan senyuman sedih—namun menawan—diwajahnya. Ia begitu tenang, begitu damai. Kakiku berjalan pelan mendekat kepadanya. Langkahku pelan, seperti di kedua pergelangan kakiku diikat beban 10kg.

Apa ia benar-benar Donghae?

“Hyukjae-ah,” ia sudah pasti Donghae, suara ini suara Donghae. “Aku tidak tau dimana kau sekarang. Apa kabarmu, apakah kau baik-baik saja,…”

Apa yang kau bicarakan Donghae? Aku disini, aku selalu disini disampingmu, aku tidak pernah pergi..lihatlah aku, bagaimana kabarku menurutmu? Apa aku terlihat baik-baik saja? jika iya, kau salah besar Donghae-ah.

“..,apa kau makan dengan teratur,..”

 Aku tidak bisa makan tanpa berhenti menangis, bagaimana denganmu Donghae? Kau terlihat lebih kurus, apa kau makan dengan teratur?

“..,apakah kau memikirkanku,…”

Oh andai kau tau Donghae. Aku memikirkanmu, di pagiku dan di malamku. Bahkan ketika aku memejamkan kedua kelopak mataku hanya kamulah yang ada di fikiranku..

“..,apakah kau telah menemukan penggantiku..”

Donghae, oh Donghae, bagaimana bisa aku menemukan penggantimu? Jika sampai detik ini aku masih memikirkanmu, mencarimu, mengikutimu? Aku bahkan tidak tau siapa temanku selain Junsu. Semua karena aku terlalu sibuk memikirkanmu, Donghae..

“Aku bahagia jika kau bahagia Hyukjae.”

Kau bahagia jika aku bahagia, Donghae? Aku bahagia jika kau bahagia. Ayo kita bersama-sama membahagiakan satu sama lain…

“…Aku akan berhenti memikirkanmu dan melangkah maju, melupakanmu,…”

A-Apa? Jangan! Jangan berhenti memikirkanku! Jangan melupakanku Donghae…Donghae ku mohon jangan…

Be happy, Hyukjae,” ucapnya dengan air mata membasahi pipinya.

Aku menatapnya sendu, tanpa berfikir panjang aku segera merespon semua perkataannya, “tapi aku tidak akan pernah bisa bahagia tanpamu, Donghae.”

Ia membalik badannya dan menatapku kaget.

Come back to me, Donghae..

~♥~

I should’ve treated you better oh yeah

Please come back to me

—uBeat; Should’ve Treated You Better

 

 

 

 

~♥~

Monday, July 15th 2013.

D-3 | July 18th—EunHae’s Day ♡

2 thoughts on “2013 EunHae’s Day [D-3]

  1. Lanjutkaaann!! Astagaa kurang satu paart!! Aku baru sadar kalau ini berhubungan satu sama lain ya allah :’)

    Satu part lagi dan aku paham dengan ff yang berjudul destiny itu! :)) hohoho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s