fanfictions

My Cold Boyfriend [Part 6-END]

page2

Title : My Cold Boyfriend [Part 6—END]

Main Cast :

–          Lee Hyukjae

–          Lee Donghae

Main Pairing : HaeHyuk

Author : Nashelf Hafizhah Wanda

Genre : Romance / Yaoi / AU

Rating : G

Length : Chaptered

Part : Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6—END

~♥~

Aku merasa nyaman.

Aku merapatkan badanku mendekati sumber kehangatan yang merengkuh seluruh tubuhku. Musim panas sudah hampir tiba, tapi sepertinya kehangatannya telah menampakkan dirinya terlelbih dahulu. Aku membenamkan wajahku lebih dalam ke bantal tidurku. Walaupun sedikit aneh karena aku merasa bantalku memiliki aroma yang sama seperti parfum Donghae dan aku pun bisa merasakan adanya kehangatan dari bantalku yang terasa sedikit lebih keras.

Eung, apa?

Otakku sepertinya tengah memproses bahwa ada sesuatu yang ganjil, hanya saja ini masih terlalu dini untuk menggunakan otak kacangku. Hm, kalau difikir-fikir, sejak kapan bantalku memiliki aroma Donghae? Sejak kapan bisa menghasilkan kehangatan? Dan bagaimana bisa bantalku tidak sekenyal bantalku kemarin pagi? A-Apakah sekelompok alien telah memasuki kamarku dan membawaku ke negeri entah beranta?

NOOO!

BAHKAN AKU BELUM MENCIUM DONGHAE!!

Ah~

Berbicara tentang Donghae… Aku masih tidak bisa memepercayai bahwa ia mengantarku pulang kemarin. Bahkan dia yang menawarkanku bukan karena aku memintanya untuk mengantarkanku. Dan dan dan, Ya Tuhan, ia menyuapiku! Di kantin! Dimana semua murid-murid sekolahku bisa saja berlalu-lalang melewati tempat duduk kami! Aku sangaaaaaaaat bahagia! Rasanya ovariesku akan meledak! Uhm, apa yang ku bicarakan? Aku tidak punya ovaries, pft. Hah, apa yang sedang dilakukan Donghae sekarang ya? Sudahkah ia bangun? Apakah ia merindukanku? Entah mengapa aku sangat-sangat merindukannya walaupun belum ada 12 jam berlalu sejak terakhir kali aku melihatnya. Tanpa sadar aku memanyunkan bibirku dan memeluk bantalku—yang di dalam imajinasiku adalah Donghae—lebih erat.

Aw.”

Seakan disambar pertir, aku langsung tersadar.

Donghae… menginap, bukan?

Itukah alasan mengapa bantalku hangat dan mempunyai aroma yang sama seperti yang dimiliki Donghae? Dan apakah itu juga alasan mengapa bantalku tidak kenyal ataupun empuk seperti kemarin-kemarin?

Kelopak mataku sedikit bergetar saat aku berusaha membukanya, begitu terbuka aku disambut dengan senyuman-lebar-yang-sedikit-dipaksakan, “Selamat pagi, Hyukkie…”

“GYAAAA!!!!”

~♥~

Aku berusaha duduk sejauh yang aku bisa dari Donghae, dan menggumamkan beribu-ribu ‘Maaf’ secara perlahan, walaupun eomma sepertinya belum memaafkanku tapi disanalah Donghae duduk, berusaha sekuat yang ia bisa untuk menahan cengiran bodoh diwajahnya selagi dimanjakan oleh eommaku setelah aku menendangnya jatuh dari tempat tidur pagi ini, eomma berhenti menyentuh DonghaeKU!

“Apa yang kau lakukan benar-benar keterlaluan, Hyukjae! Bagaimana bisa kau menendang jatuh seorang tamu?! Untuk lebih memperburuk keadaan, dia adalah kekasihmu sendiri! Demi Tuhan, kau harus benar-benar menyesal!”

Eommaaa,” aku mengerang sedikit kesal, “Aku tidak menendangnya dengan sengaja. Aku hanya kaget! Tidak ada yang pernah tidur satu ranjang denganku! Bahkan ketika Sungmin dan Kyuhyun pergi menginap, aku tidur sendiri disini dan mereka ada di kamar tamu! I freaked out, eomma!”

Aku berseru sedikit kekanak-kanakan, yang ketika aku sadari setelah aku melakukannya. Tidak pernah dalam hidupku untuk berharap akan munculnya lubang besar dibawah kakiku yang mampu menyembunyikan seluruh badanku dari tatapan Donghae. Sepertinya Donghae sangat terhibur melihat sifat kekanak-kanakanku muncul secara tiba-tiba. Well, jika aku berada dalam posisi Donghae, mungkin aku telah menertawakan keadaan bodohku saat ini.

“Untung saja Donghae adalah anak yang baik. Dia bahkan tidak marah begitu mengetahui kekasihnya menendangnya jatuh dari tempat tidur.”

Yeah, kau benar eomma, jika Donghae adalah anak yang baik maka ia akan memperlakukanku dengan sangat baik sejak pertama kali kita pacaran.

Aku melipat tanganku didepan dada, memutuskan untuk merajuk. Setelah apa yang rasanya berjam-jam akhirnya eommaku memutuskan untuk berhenti memeriksa luka-luka di badan Donghae—yang padahal sama sekali tidak ada, dan keluar dari kamarku sembari memberikanku tatapan mautnya untuk yang terakhir kali. Beberapa saat setelah hanya tersisa aku dan Donghae dikamar, Donghae menggeser duduknya sedikit lebih dekat kearahku dan tertawa kecil—yang tidak terlalu kecil hingga aku masih bisa mendengarnya.

“Apa?” tanyaku kesal.

Well, kau benar-benar tidak ramah, Hyukkie. Kau baru saja menendangku dan sekarang kau membentakku.”

“AKU TIDAK BERMAKSUD UN—“

“Bagaimana kalau kita jalan berdua? Nanti aku putuskan apakah aku akan memaafkanmu atau tidak.”

Aku memberhentikan segala kalimat yang akan aku ucapkan dan menganga seperti ikan yang kehausan, didepan seseorang yang lebih sering dijuluki ikan. D-Dia baru saja mengajakku untuk jalan berdua? Seperti…kencan? KENCAN?!

“A-Apa? K-Kencan? M-Maksudmu… benar-benar kencan?” aku tidak bisa menahan untuk berhenti bergagap.

“Yep, kencan yang sesungguhnya, hanya ada kita berdua, menikmati weekend seharian penuh. Bagaimana menurutmu? Seru?”

Aku mengulum senyuman yang hendak merekah dibibirku, “K-Kedengarannya sangat m-menarik…”

Great! Aku akan menjemputmu sekitar jam 12? Dua jam untuk mempersiapkan semuanya, apakah cukup, eum?”

“A-Aku rasa, itu c-cukup…”

“Baiklah! Seeya, Hyukkie~!” dia bangun dari tempat tidurku dan berjalan menuju pintu, “Tapi tolong, hentikan tingkah imut-gelagapanmu itu. Memang menggemaskan, tapi aku ingin kamu senyaman mungkin selama seharian ini.”

Setelah menutup pintu, aku refleks melempar bantal didekatku kearah pintu kamarku dan berteriak sekuat yang aku mampu.

Aku akan pergi kencan hari ini

KENCAN

HANYA ADA KITA BERDUA

AKU DAN DONGHAE

SAJA

HA

Sebuah seringai bodoh terbentuk dikedua ujung bibirku. Life couldn’t get better~

~♥~

“Hal—“

“SUNGMIN!” maaf Sungmin, tapi aku tidak mempunyai waktu untuk sapaanmu, “KAU TIDAK AKAN PERNAH PERCAYA INI! DONGHAE! YA TUHAN! DIA MENGAJAKKU KENCAN! DIA MENGAJAKKU PERGI KENCAN! KATAKAN PADAKU MINNIEEE, APA YANG HARUS KU GUNAKAN? PENAMPILAN APA YANG HARUS AKU KENAKAN? APAKAH AKAN MEMPENGARUHINYA JIKA AKU MENGUBAH GAYA PAKAIANKU? YA TUHAN AK—“

STAY THE CALMFUCKDOWN!”

Aku memajukan bibirku walaupun Sungmin tidak dapat melihatnya, “T-TAPI—“

“Kamu tahu benar kalau ini adalah kencan pertamamu, Hyukjae!” sekarang suara Kyuhyun terdengar dari speaker smartphoneku—oh, jadi dia menginam dirumah Sungmin, “Tapi kau tidak perlu ketakutan okay? Kau menginginkan ini, dari semua orang diluar sana, kamu lah yang paling mengininkan hal ini terjadi! Chill out, dude.”

“Kami mendungkungmu, Hyukkie… cobalah untuk sedikit rileks.”

Aku lebih memilih suara lembut Sungmin daripada komentar sarkasm Kyuhyun.

Thanks, Minnie! Aku tau kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku punya!”

Suara manja Kyuhyun—yang sedikit tidak bisa dibayangkan mengingat betapa manlynya Kyuhyun—terdengar dibalik speaker meneriakkan ‘lalu-bagaimana-denganku’, walau tidak ada yang memerdulikannya baik aku maupun Sungmin. Kita bercakap-cakap beberapa menit, sebagian besar hanya Sungmin yang memberikanku tips dan menenangkanku untuk tidak gugup, dan setelah mengucapkan ‘bye’, aku memutuskan sambungan telefon.

Melempar smartphoneku kesembarang arah, aku memutuskan untuk mengikuti saran Sungmin untuk membuat kencan ini simple dan nyaman untuk kita berdua. Ku keluarkan t-shirt plain berwarna putih dan celana jeans hitam, ujung mataku menangkap tumpukan vest berwarna hitam—yang setelah difikir-fikir cukup manis dipadukan dengan pakaian yang ada di tanganku, ku tarik vest tersebut dan membawa semua pakaian ke dalam kamar mandi.

Setelah melakukan mandi panjang yang menyegarkan, aku menatap bayanganku didepan cermin. Rambutku masih basah akibat keramas beberapa menit yang lalu, aku mencoba memikirkan beberapa gaya rambut yang mampu membuat Donghae berlutut lemas didepanku. Hanya membutuhkan beberapa menit, sekarang rambutku telah berubah. Aku merasakan rasa kepercayaan diriku mulai mengendur, tidak berani dan enggan bertatap muka dengan Donghae dengan penampilan seperti ini.

“Akankah ia menyukai ini? Bagaimana kalau ia berfikir aku terlalu melebih-lebihkan? Haruskah aku menggunakan gaya rambutku seperti biasa?”

Aku mencoba untuk menaikkan poniku keatas menampilkan keningku tetapi itu malah membuatku semakin terlihat seperti orang bodoh, “ugh, aku sudah tau dari dulu bahwa aku terlihat aneh jika keningku terlihat, no, aku seperti kakek-kakek.”

Sebelum aku sempat meraih gel rambut untuk memperbaiki tatanan rambutku, eommaku telah berteriak dari lantai bawah bahwa Donghae telah datang. Apa?! Aku melirik sekilas jam yang bertengger dengan manis disamping cermin, dan yup, jam 12 tepat seperti rencana Donghae untuk datang dan menjemputku. Aku menatap bayanganku untuk yang terakhir kali sebelum menjawab sautan eommaku dengan berteriak—yang amat-terlalu senang, ‘aku datang~’

Geez, fuck it, Donghae tidak akan perduli juga, kan?

~♥~

Suara raungan motor Donghae bergemuruh sepanjang jalanan. Aku mencengkram jaket Donghae lebih erat, takut jika aku lepaskan aku akan jatuh dari motornya. Well, alasan lain, tentu saja karena aku ingin memeluknya. Aku tertawa kecil dalam hati.

Seperti apa yang ku bayangkan, begitu aku sampai di lantai bawah, Donghae sama sekali tidak mengomentari mengapa rambutku terlihat berbeda atau pun menatapku lebih lama untuk mengamati pakaian seperti apakah yang akan aku kenakan. Euhm, sebenarnya apa poin dari kencan ini? Toh, dia sepertinya enggan pergi walaupun ia yang mengusulkan kencan ini. Oh! Dia juga belum memberitahu kemana kita akan pergi, haruskah aku bertanya? Atau lebih baik menunggu sampai kita tiba?

Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya saja, “Kita akan pergi kemana?”

Just wait and see.”

Aku memanyunkan bibirku, aku suka kejutan tapi untuk hal seperti ini aku tidak. Aku takut apa yang aku kenakan akan tidak sesuai dengan tempat yang akan dituju Donghae karena, well uhm, pakaian Donghae terlihat lebih… euh, bagaimana aku mengatakannya, lebih formal? Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru-laut—yang ia gulung lengannya sampai ke siku, dan celana jeans biru ketat yang terlihat sangat pas untuk paha Donghae. Dia terlihat sempurna, what no, dia sempurna setiap harinya. Tetapi hari ini dia lebih dari sempurna, I can’t even—aksjfakjsfkaj.

“Disinilah kita, Hyukkie.”

Beberapa patah kata Donghae mampu menghentikan fikiranku yang sedang kacau. Aku meloncat turun dari motornya dan melihat sekeliling. Cengiran yang sedikit childish segera terpampang di wajahku. Sepertinya Donghae tau tempat untuk membuatku bahagia. Tempat ini adalah taman hiburan dan hey, aku tidak pernah kemari lagi sejak SD! Tapi, euh, tidakkah pakaian yang Donghae kenakan sedikit… out-of-place?

“Apakah kau yakin kita akan pergi kesana, Hae?” aku bertanya setelah melepaskan helmku dan memberikan kepada tangan Donghae yang terulur kearahku.

“Yep,” ujarnya serius sembari memberikanku senyuman meyakinkan, “Sudah lama aku tidak pernah bermain-main disini dan aku rasa taman hiburan adalah tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan weekend, tidakkah menurutmu begitu juga?”

Aku tersenyum kecil, “Hu’um, walaupun ini tempat mainstream untuk membawa pasangan kencannya sih.”

“Ini adalah tempat yang menyenangkan, jadi tidak mengherankan mengapa semua orang membawa kencan pertama mereka kemari. Ayo!”

Dia berjalan lebih depan mendahuluiku, meninggalkanku berdiam mematung dibelakang seorang diri. Dia tidak bilang kencan pertamanya, kan? Ku gigit bibirku mencoba mengalihkan fikiranku dari fikiran-fikiran aneh yang mulai merasuki otakku. Kyuhyun memang mengatakan bahwa aku adalah pacar pertamanya, tapi itu tidak menjamin bahwa aku juga adalah kencan pertamanya, kan?

Ugh, here goes my anxiety. Apa yang terjadi di masa lampau telah terjadi, menangisi itu untuk berabad-abad pun tidak ada yang akan berubah, Hyukjae. Memangnya kenapa kalau ia punya kencan pertama yang lain? Duh.

Dengan terseok-seok, aku mencoba mengikuti langkah kaki Donghae yang amat cepat. Aku memanyunkan bibirku tanpa sadar, sepertinya aku telah memajukan bibirku berkali-kali seharian ini. Kenapa ia tidak memegang tanganku? Kenapa ia tidak ingin berjalan disampingku? Kenapa ia meninggalkanku untuk berjalan seorang diri? Tidak inginkah dia kencan pertama kita menjadi, entahlah, sempurna? Yeah, mungkin hanya aku yang berangan-angan terlalu tinggi hanya karena ia mengajakku pergi kencan, yang kemudian aku salah artikan dengan ia mulai berubah menjadi lebih perhatian denganku.

Lihat apa yang kau dapatkan, bodoh, aku berseru kesal dan tertawa pahit didalam hatiku.

Taman hiburan tidak menghiburku seperti sebelumnya.

Oh my sweet lord! Benarkah itu kau, Donghae? Lee Donghae, kan?”

Seorang gadis riang berambut coklat berjalan mendekat dan menepuk bahu Donghae perlahan. Untuk sesaat Donghae tidak dapat mengenalinya, namun setelah beberapa detik, sebuah senyuman-lebar-yang-amat-sangat-manis tergeletak dengan manis diatas bibir Donghae.

“Oh, Hi, Jess! Benar-benar kejutan yang menyenangkan bisa bertemu denganmu disini! Sudah lama aku tidak melihatmu, benar kan?”

Oh, Donghae mengenal siapa wanita yang menarik ini, hm? Mengapa tidak kau kenalkan dia kepadaku jadi orang-orang tidak menatapku aneh seakan-akan aku mengganggu kencanmu, Donghae?

“Siapa lelaki tampan ini, Hae-ah?”

Hae…? ah, mereka adalah kenalan yang cukup dekat untuk memanggil nama kecil untuk satu sama lain, um?

Donghae memijat tengkuknya dengan canggung, sebelum melirik sekilas kearahku dan kembali menatap wanita dihadapannya—yang aku asumsikan namanya Jess atau entah, “He’s off limit, Jess. Jangan pernah menyentuhnya.”

Mereka terlihat cocok jika bersama, siapa dia? Cinta pertama Donghae? Well, dia cantik.

“Ah, jadi ini laki-laki yang Hyun sering ceritakan?”

Siapa Hyun? Apa yang mereka bicarakan?!

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Jess.”

Hey, tidak adakah niatan diantara kalian untuk berbicara denganku? Aku terlihat seperti orang idiot berdiri disini dan tidak mengetahui apapun!

Dia tertawa kecil-yang-dia-buat-sedikit-menggoda (dalam opiniku, tentunya), “Well, apakah aku mengganggu momen kalian?”

Ya! Tolong katakan iya dan get the fuck out of our sight! Ugh, kenapa aku memaki-makinya? Dia wanita mungil yang manis, sebenarnya.

“Tidak, tidak juga, Jess. Kau ingin bergabung bersama kami?”

….hng?

WHAT

THE

ACTUAL

FUCK

Aku benar-benar terkejut sampai-sampai aku tidak mampu mendengar apapun selain debaran jantungku yang berdebar kencang. A-Apa? Kau ingin bergabung dengan kami? As in, mengikuti kemanapun kami pergi selama kencan kita? Aku menatap ekspresi wajah mereka dan senyuman manis yang ada di wajah mereka. Ku rasakan mataku terasa semakin panas dan bayanganku mengabur. Gadis bernama Jess ini sepertinya menyadari perubahan moodku karena mereka menghentikan apa yang mereka lakukan dan menatapku khawatir.

“H-Hey, Hyukkie kau baik-baik saja?” Donghae berjalan mendekat dan berusaha menyentuh lenganku, namun sebelum ia berhasil menyentuhnya aku menepis tangannya terlebih dahulu.

Tanpa ku sadari, butiran air mata telah terjatuh dari ujung mataku membasahi kedua pipiku, “A-Aku b-baik-baik saja. K-Kau bisa menghabiskan weekendmu de-dengannya, a-aku akan memanggil taksi…ma-euh, a-aku harap kau menikmati kencanmu, Donghae-ssi.”

“Hey—“

Aku mulai berbalik badan dan berlari menjauhi Donghae, tidak memperdulikan apa yang hendak ia katakan. Dia jahat dan kejam! Mengapa ia tega berbuat sekejam ini kepadaku? Aku bahkan sangat jarang membuat ia mampu tersenyum selebar itu, jarang melihat ia tertawa selepas itu,… apakah ia benar-benar tidak pernah mencintaiku?

Aku mengerti, aku mengerti sekarang. Semua menjadi jelas didalam otakku alasan mengapa Donghae sangat dingin dan acuh terhadapku, mengapa ia tidak pernah perduli denganku, mengapa ia tidak pernah khawatir jika aku sudah makan atau belum, ataupun mengapa ia tidak pernah mengatakan ia mencintaiku karena ia tidak pernah mencintaiku!

Damn you Kyuhyun, kau berbohong kepadaku! Ugh, aku bukan seorang wanita, tidak ada alasan untukku untuk menangis seakan tidak ada esok hari. Man up, Hyukjae!

Aku telah memikirkan sebuah keputusan didalam otakku, besok, aku akan menghentikan semua ini. Apapun yang terjadi diantara aku dan Donghae, harus berakhir besok.

~♥~

Entah bagaimana, aku berakhir berlari dari taman hiburan hingga rumahku. Kepalaku sakit, fikiranku sedang kacau, kakiku terasa mati rasa, aku bahkan merasa tidak bisa berjalan lurus dan orang-orang sepertinya merasa terhibur dengan kondisiku saat ini. Aku bisa merasakan, kesadaran keluar-masuk dari dalam diriku, membuatku bisa pingsan kapanpun badanku mau.

Bersabarlah Hyukjae, dua blok lagi tidak akan membunuhmu. Kau benar-benar pintar, kenapa tidak menggunakan bis atau apapun selain kakimu?

Ajaibnya, aku akhirnya berakhir didepan rumahku. Ku hembuskan beberapa nafas lega karena ini berarti aku bisa terbujur mati diatas tempat tidurku. Aku baru saja hendak melangkah masuk melemparkan badanku yang mati rasa keatas tempat tidur dan membiarkan peri tidur mengajakku jalan-jalan, menjauh dari kelelahan yang ku rasakan, fisik dan mental. Tapi sepertinya, aku harus menunda semua jadwal tersebut.

Tepat disana.

Donghae tengah duduk didepan pintu rumahku, motornya terpakir dengan ala-kadarnya disisinya. Apa yang ia lakukan disini? Tidakkah ia mengerti bahwa ia berada didaftar terakhir orang yang ingin ku lihat sekarang? Aku berdehem perlahan dan itu membuat Donghae menyadari akan keberadaanku. Dia tidak sadar aku telah berada disini untuk sekitar dua menit?

“Oh Hyukjae, akhirnya kau sampai dirumah juga! Aku panik dan takut sesuatu buruk telah terjadi, kenapa kau mematikan hpmu? Aku, eommamu, Sungmin, dan bahkan Kyuhyun berusaha menguhubungimu beribu-ribu kali!”

Aku tidak butuh omong-kosong-sweet-nothingnya saat ini.

“Keluar, Donghae.”

Dia berbicara tergagap menggumamkan pertanyaan what, aku memutar bola mataku jengah begitu mendengar pertanyaan bodohnya, “Keluar. Aku ingin tidur, rasa kantukku menghisap keluar energi yang tersisa dari badanku.”

Aku mendorongnya untuk beralih dari depan pintu, tetapi belum sempat aku memutar kenop pintu, Donghae mencengkram tanganku—dengan lembut, sebelum memutar badanku untuk menghadapnya. Jika dibilang aku tidak kaget melihat kondisinya saat ini tentu saja semua itu omong kosong. Dia terlihat begitu… tersesat?

“Biar aku jelaskan dulu!”

Aku hanya berdiri disana, menatap lurus tanpa tau apa yang harus ku perbuat.

“A-Aku rasa kau salah paham. Aku dan Jess, tidak ada sesuatu diantara kita! Ugh, bahkan tidak ada kata kita antara aku dan dia. Aku, Jess, dan Kyuhyun adalah teman dekat sejak SD. Kita hilang kontak untuk berkomunikasi sesaat setelah kelulusan, ini pertama kalinya aku bertemu dengannya lagi. Aku pun tidak mengerti bagaimana ia masih bisa berkomunikasi dengan Kyuhyun, tapi aku mengatakan yang sejujurnya, aku tidak pernah berbicara sepatah katapun dengannya sejak kami lulus!”

Dia menjelaskan semua yang menurutnya penting kepadaku dengan tergesa-gesa, tapi bagian paling penting yang ingin ku dengar selama ini masih belum dijelaskan olehnya. Dia berdiri disana mengatur nafasnya, setelah menjelaskan pembelaannya.

“Sudah selesai?”

“A-Apa?”

“Jika itu saja yang ingin kau jelaskan, aku akan pergi sekarang.” Wow, aku tidak menyangka aku bisa berkata sekasar itu kepada orang yang ku cintai lebih dari hidupku.

“Hyukjae, aku tidak tau kau kenapa tapi kau tau kan aku sangat mencintaimu dibandingkan perempuan manapun, ku mohon jangan cemburu, okay?”

Kalimat itulah yang mampu menghentikan semua yang tengah aku kerjakan. Otakku, nafasku, darahku, bahkan aku merasakan jantungku berhenti berdetak.

Oh my

Dia mencintai ku?

“A-Aku tau aku membuatmu meragu, Sungmin telah menceritakan semuanya kepadaku, semua keraguan yang ada didalam otakmu kepadaku.”

Hah?

“Kyuhyun pun sudah mencoba memasukan sebuah sense ke dalam otakku selama ini, tapi sesuatu menahanku untuk mengiyakan saran Kyuhyun dan tidak menyadari bahwa apa yang ku lakukan telah menyakitimu, orang yang tidak pernah ingin ku sakiti.”

Dia benar-benar mencintaiku, ini kenyataan?

Aku masih memunggunginya, tidak sanggup untuk menatap wajahnya saat ini. Badanku bergemetar dan seluruh informasi yang ku dengar mulai teresapi perlahan-lahan kedalam otakku. Aku takut jika aku mulai menatapnya sekarang, aku akan mengucapkan hal yang tidak ingin ku katakan padanya saat ini.

“A-Apa yang menahanmu?”

Kesunyian yang lama menyelimuti kami sebelum suara-lemah-putus-asa memecahkan keheningan, “Sebenarnya semua ini kesalahnmu, kau tau?”

Huh?

Itu mampu membuatku untuk menatap wajahnya dan meneriakkan, “Apa?!”

“I-Iya, sesungguhnya aku telah mencintaimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku dapat mengenalmu melalui Kyuhyun yang ternyata adalah kekasih dari sahabatmu. Pada waktu itu aku belum mencintaimu, well boleh dibilang Kyuhyun mencoba untuk mencomblangkan kita berdua jadi kita bisa melakukan double-date. Waktu itu sih aku berfikir kenapa tidak, lagipula aku tidak sedang mencintai siapapun pada waktu itu.  Tetapi, begitu aku sampai disana, aku meliihat seorang malaikat duduk disamping Sungmin. Senyuman gummy-smile lebar yang mampu membutakan siapapun yang melihatnya dan kedua bola mata yang berbinar-binar, membuatku terdiam di tempat. Aku merasa langsung mencintaimu saat itu juga, namun apa yang ku dengar berikutnya membuat harapanku hancur berkeping-keping.”

Dia menarik nafas perlahan sebelum melanjutkan, “Kau bercerita bahwa kau menemukan seorang laki-laki yang menawan. Ia memiliki perawakan yang menarik, wajahnya sempurna, dan tatapan tajam yang jika dilihat baik-baik sangat gentle. Kau berfikir bahwa lelaki ini sangat menawan karena dibalik sifat dingin dan mood suram yang selalu mengelilinginya, dia memiliki sifat lain yang lembut dan penuh kasih sayang. Tanpa aku sadari, aku telah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi sosok pria idamanmu. Dan.., bisa dikatakan sukses. Setahun lebih aku mencoba dan tiba-tiba kau muncul dihadapanku, dan memintaku untuk menjadi kekasihmu.”

“D-Donghae…”

“Kyuhyun tidak pernah tau tentang lelaki yang kau ceritakan kepada Sungmin, lagipula aku tidak cukup berani untuk bertanya siapa pria idamanmu.” Tawa kecil terdengar perlahan, “dan setelah kau menembakku, aku masih berusaha keras untuk memenuhi target pria idamanmu. Aku berusaha sedingin yang aku bisa, mencoba mengingat-ingat hal-hal buruk hanya untuk memunculkan kesan suram disekelilingku, aku mencoba untuk terlihat galak walaupun apa yang selalu ku inginkan adalah merengkuhmu kedalam pelukanku setiap harinya, tapi aku tidak bisa…aku tidak ingin kehilanganmu…”

Sebelum aku mampu membalas kata-katanya, ia telah berjalan mendekatiku dengan lunglai dan menatapku dengan pandangan yang benar-benar putus asa—pandangan pertama yang pernah ku lihat dimata Donghae, “Ka-Katakan padaku Hyukjae… apakah aku gagal menjadi lelaki idamanmu?”

Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Haruskah aku memukulnya karena ia menjadi orang yang sangat bodoh atau haruskah aku menciumnya karena ternyata ia merupakan orang yang romantic. Dia melukaiku karena ingin menjadi sosok pacar sempurnaku, yang tak lain dan tak bukan adalah dirinya. Bodoh, sangat. Sebelum aku bisa berfikir, secara tidak sadar aku telah memukul kepalanya keras.

Ouch!”

“Dasar bodoh!”

Smack!

“Itu karena kau telah bertingkah seperti orang bodoh!”

Smack!

“Karena kau telah menyakitiku!”

Ya—“

Aku melemparkan diriku kedalam pelukannya dan menciumnya, well itu hanya kecupan karena aku menarik kembali setelah beberapa detik bibir kami bersentuhan, “dan itu karena kau menjadi kekasih yang sangat sempurna.”

“Maukah kau menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya?” tanyanya setelah berhasil menghilangkan rasa kagetnya.

“Orang yang saat itu aku bicarakan, tidak lain dan tidak bukan adalah kau, Donghae”

Aku memeluknya erat sebelum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, “Aku berkata seperti itu kepada Sungmin karena pertama kali aku bertemu adalah didepan gerbang sekolah, dan saat itu aku belum tau bahwa kau adalah sahabat Kyuhyun. Waktu itu, kau menolong seorang perempuan yang jatuh, dan disaat ia mengucapkan terima kasih kau memberikannya senyuman lebar yang sangat manis dan tulus, tetapi setelah senyumanmu pergi disaat yang sama saat perempuan itu pergi dan digantikan dengan suasana suram menyelimuti dirimu. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk membuatmu tersenyum semanis dan selebar itu lagi…”

“Jadi selama ini, aku menyakitimu untuk sesuatu yang tidak penting?” dia mulai tertawa begitu menyadari betapa bodohnya situasi ini.

Yes, idiot.” Jawabku sembari memanyunkan bibirku dan kemudian memeluknya erat, ku rasakan lengannya melingkar ke pinggangku dan itu membuatku tersenyum, “Kau bisa saja bertanya padaku atau Kyuhyun, tetapi kau memilih untuk melakukan suatu hal bodoh dan idiot seperti ini. Kau tidak tau betapa bingungnya diriku ketika tau kau senang berkencan denganku tetapi sangat tidak perduli saat bersamaku, ugh, kau dengar sendiri? It sounds stupid!”

Dia menepuk-nepuk punggungku dan mencium pipiku perlahan—walau hanya untuk sesaat itu mampu membuatku merasakan kupu-kupu berterbangan didalam perutku, “Sorry, bagaimana kalau kita mengulang semuanya? Aku akan memperbaiki segala kesalahanku.”

“Berjanjilah padaku, jika sesuatu membuatmu tidak nyaman atau mengganggumu, kau akan langsung mengatakannya padaku.” Gumamku di bahunya yang tegap.

Yes, sweetheart.” Dia menarik dirinya dari pelukan kita hanya untuk menempelkan keningnya diatas keningku. Dia menatap kedua mataku dalam-dalam dan membisikkan suatu pertanyaan dengan kalimat terlembut yang pernah aku dengar.

“Maukah kau menjadi kekasihku, lagi?” tanyanya sembari semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Aku tersenyum sebelum memperkecil jarak diantara kita, “Jika ia tidak sedingin dulu lagi, baiklah, aku mau.”

~♥~

 

 

13 FREAKING PAGES o//// HURRAY FOR ME PEEPS. (10 pages in english but 13 pages in Indonesian? Unbelievable!)

Aslinya sih ff ini udah kelar dari sebulan yang lalu atau dua bulan yang lalu, tapi aku terlalu malas untuk menulis ulang dan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia 8( yeah, kick me all you want. Anyw, aku dari kemaren dapet 3 kali pertanyaan di asianfanfics “apa kamu punya wordpress?”

Well guys.

I did explain di page ‘nuguyaws’ kalo aku punya acc asianfanfics, so, aku dan yolohyuk itu orang yang sama. No worries, aku nggak mungkin membiarkan karyaku di plagiat orang atau di repost tanpa seizinku (tapi kemungkinannya amat-sangat-kecil though). Yaudah, segini aja kali mah ya? Ciawww♥♥♥ Oya, maaf kalo banyak typo, tanganku terbelit-belit setelah sekian lama nggak nulis x3 you know what? I miss writing.

“Comments = Love “

One thought on “My Cold Boyfriend [Part 6-END]

  1. Kereennnnnn. . . . Hampir stengah tahun nggak dilanjutnya. Sweet. . . Ternyata ada juga unsur hurtnya, dan aku suka, tentu saja jika akhirnya happy ending. Sejarang Haehyuk itu selalu happy Ending . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s